Tantangan untuk Orang Tua: Menerapkan Disiplin pada Anak

 

Sebagai orang tua, ada keinginan supaya  anak dapat disiplin dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya untuk urusan formal seperti sekolah, namun juga pada aktivitas sederhana yang dilakukan sehari hari seperti,  bangun pagi, mengembalikan mainan ke tempat, hingga pengaturan jam tidur malam. Bagi orang tua yang sudah berhasil menanamkan disiplin ini, tentu menjadi kemudahan tersendiri. Menjadi kemudahan karena anak telah terbiasa patuh pada waktu tertentu untuk melakukan aktivitas. Sementara bagi orang tua lain, ada yang masih merasa kesulitan mengenai cara yang tepat dalam menerapkan disiplin ke buah hatinya.

Pada dasarnya, disiplin didasari oleh prinsip konsistensi dalam berperilaku. Perlu ditekankan bahwa disiplin tidak selamanya berkaitan dengan kekerasan dalam proses penerapannya. Justru sebaliknya, menerapkan disiplin pada anak berkaitan dengan menguatkan ikatan antara orang tua dan anak. Disiplin sendiri juga harus bisa dipandang adil oleh anak supaya tidak didasari oleh keterpaksaan. Berikut ada beberapa cara yang dapat membantu orangtua dalam menerapkan disiplin pada anak.

  1. Disiplin bukan berarti menghukum

Pada dasarnya disiplin menjunjung tinggi proses “mengajarkan sesuatu” pada anak bukan “menghukum”. Misalnya, anak tidak membereskan mainannya usai ia bermain. Sebagai orangtua mungkin aku merasa kesal karena rumah terlihat berantakan, namun perlu manajemen emosi dari orangtua untuk tidak buru-buru menyalahkan anak. Sebaiknya anak diberi penjelasan mengenai pentingnya menjaga kerapihan, sehingga mereka memahami perilaku yang diperintahkan kepadanya. Apabila anak mengulangi hal yang sama, sebagai orangtua sebaiknya terus mengingatkan kembali pentingnya dalam melakukan suatu aktivitas.

Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan pencapaian

-Jim Rohn

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bicarakan pada anak mengenai konsekuensi jika ia tidak berhasil menerapkan disiplin

Sekali lagi, konsekuensi bukanlah hukuman. Daripada memukul atau membentak anak, bicarakan bersama anak mengenai konsekuensi yang akan ia dapatkan jika ia tidak disiplin. Misalnya, anak lalai meletakkan seragam sekolahnya yang kotor ke tempat cucian. Daripada menghukum anak, terangkan pada anak konsekuensi yang akan ia dapatkan jika ia lalai. Dalam kasus ini, tentu anak tidak akan memiliki baju seragam yang bersih untuk sekolah jika ia lalai meletakkan yang kotor ke tempat cucian. Membicarakan konsekuensi ini juga akan mendidik anak untuk lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

 

  1. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak menjadi faktor pendorong terciptanya perilaku-perilaku baik di rumah

Jika anak merasa dirinya diperhatikan dan diberikan kebutuhannya, maka akan mengurangi kesempatan adanya perilaku penyimpangan. Misalnya, ketika orangtua memberikan perhatian pada aktivitas sekolahnya, maka anak biasanya akan mengerjakan PR tanpa Anda suruh, terbuka menceritakan kesulitan-kesulitannya di sekolah, serta belajar dengan baik di rumah, hingga aktivitas sesederhana mudah dibangunkan di pagi hari karena ia bersemangat untuk sekolah.

  1. Beri pujian untuk penguatan perilaku disiplin

Terbukalah untuk memuji pencapaian diri anak. Pujian terhadap perilaku anak dapat meningkatkan kemungkinan perilaku positif tersebut diulang. Pujian dapat berupa verbal seperti kata pujian maupun dapat berbentuk  Misalnya, jika ia berhasil bangun pagi tanpa dibangunkan, ketika ia merapikan meja makan usai makan, atau hal hal kecil lainnya. Dengan demikian, anak akan terus semangat mempertahankan disiplinnya dan mudah bagi Anda untuk mendisiplinkan aktivitasnya yang lain.

  1. Walk the talk

Orangtua adalah sosok panutan bagi anak. Sebagai panutan utama, orang tua perlu menyadari bahwa perilakunya akan ditiru oleh anak. Jika orangtua menginginkan anaknya untuk bangun lebih awal, maka sebaiknya orangtua juga bangun lebih awal juga. Ini adalah cara yang sederhana untuk menerapkan disiplin karena orangtua bisa memberikan pesan kepada anaknya untuk mengikuti perilaku positif yang dihendaki. Selain menimbulkan rasa hormat anak, orangtua tidak perlu terlalu repot dalam memberikan perintah secara verbal kepada anak.Terkadang tanpa sadari, anak sudah mengikuti apa yang dicontohkan oleh orangtua.

  1. Disiplin bukan suatu hal yang instan

Menerapkan disiplin tentunya butuh waktu. Perihal yang perlu dijaga adalah ekspektasi orangtua terhadap anak. Orangtua perlu menyesuaikan ekspektasinya sesuai dengan perkembangan anak. Proses perubahan perilaku memerlukan waktu yang panjang dan banyak trial dan error.  Jangan banyak memaksa anak untuk bisa disiplin dalam waktu singkat. Perkenalkan satu bentuk disiplin, awasi perilakunya, dan berikan evaluasi.

  1. Disiplin membutuhkan ketegasan

Tegaslah pada anak dalam mengajarkan disiplin. Jika sudah mengajarkan konsekuensi, pastikan konsekuensi itu yang akan diterima anak jika ia lalai dalam disiplinnya. Sekali lagi, tidak perlu ada kekerasan dalam proses pendisiplinan. Perilaku yang diharapkan dari proses disiplin adalah perilaku yang berdasar atas rasa aman, bukan perasaan takut akan hukuman.

***

Menerapkan disiplin pada anak memang tantangan yang cukup besar, namun semua benih dapat diambil manfaatnya di kemudian hari. Disiplin merupakan salah satu kunci kesuksesan anak di masa depan. Berhasil mengajarkan disiplin pada anak juga akan memudahkan peran orangtua. Butuh adanya keinginan untuk belajar dari orangtua maupun anak. Belajar untuk membentuk perilaku baru yang lebih positif maupun meninggalkan perilaku yang menghambat perkembangan maturitas anak. Pada akhirnya, penerapan disiplin kepada anak adalah suatu proses. Proses yang tentunya dijaga dengan penguatan pujian serta adanya hubungan timbal balik antara orangtua dan anak.


Featured Image Credit: www.brainbalancecenters.com

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*