Tentang Perjalanan Merangkul Masa Lalu dan Memaknai Kehidupan

Pernahkah kita merasa tidak bisa menikmati suatu momen yang membahagiakan? Bisa jadi kita terbayang-bayang oleh kemungkinan bahwa momen yang akan datang selanjutnya adalah momen yang buruk dan tidak menyenangkan. Seperti sebuah siklus, manis dan pahit kehidupan selalu berselang menghampiri dan terkadang membuat kita tidak bisa menikmati kehidupan di masa kini, atau bahkan skenario terburuknya adalah kita tidak berani untuk sekadar membayangkan masa depan. Ketakutan ini muncul karena berkaca dari pengalaman di masa lalu, atau bisa juga melihat perjalanan hidup orang lain. Merujuk pada teori psikoanalisis, dijelaskan bahwa kehidupan kita di masa lalu dapat memengaruhi kehidupan kita di masa-masa yang selanjutnya. Akan tetapi, sebuah studi di tahun 2011 justru menemukan bahwa bagaimana kita memaknai suatu pengalaman di masa lalu adalah sesuatu yang berdampak lebih besar pada bagaimana kita menjalani kehidupan di masa sekarang.

***

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa pengalaman-pengalaman yang buruk memiliki efek yang lebih besar dan cenderung bertahan lama dibandingkan dengan pengalaman baik. Fakta ini membawa beberapa dari kita pada kesedihan, ketakutan, dan penyesalan yang berlebihan. Tidak hanya akan memengaruhi aktivitas sehari-hari, pikiran dan perasaan yang masih terjebak ini juga akan berdampak pada kesehatan mentalnya. Perlu diingat bahwa kesehatan mental manusia sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bisa berdamai dengan masa lalu.

  1. Berani Ambil Momennya

Selayaknya dengan luka pada kulit kita, luka pada perasaan kita juga akan cepat membaik jika kita menginginkannya. Luka pada kulit mungkin akan hilang seiring dengan berjalannya waktu, tetapi luka pada perasaan tidak mungkin hilang hanya dengan mengandalkan waktu. Niat yang kuat untuk menyembuhkan luka atau rasa sakit pada perasaan ini menjadi poin penting untuk diciptakan setiap individu. Akan ada fase di mana kita lari dari masalah dan mencoba untuk mengubur masalah tersebut. Tetapi, kedepannya juga pasti ada fase di mana kita dihadapkan kembali pada permasalahan tersebut. Ketika fase atau momen ini dirasa sudah datang, kita harus bijaksana untuk mengambil keputusan terkait dengan masa lalu ini. Apakah kita masih belum siap dan memilih untuk menghidar lagi, ataukah kita sudah berani untuk menerima permasalahan dan akan menjadikannya sebagai pelajaran hidup? Keputusannya berada di tangan kita. Keputusan ini kedepannya akan berpengaruh pada bagaimana kita melihat rasa sakit yang ditinggalkan oleh masa lalu, juga bagaimana runtutan cerita dan aktor dibaliknya dalam kepala kita. Untuk itu, jika memang sudah siap dan memiliki niat yang kuat untuk perubahan, beranikan lah dirimu untuk mengambil momen tersebut dengan menerima apa-apa yang menjadi luka di masa lalu. Jadikanlah momen ini sebagai pijakan untuk menata kehidupan di masa-masa selanjutnya yang lebih baik lagi.

  1. Ekspresikan Perasaannya

Dalam proses untuk merangkul masa lalu, seringkali kita harus dealing dengan berbagai emosi. Sama seperti nilai, rasa sakit yang ada dalam diri manusia juga memiliki ambang batasnya sendiri. Ketika dirasa memang sudah tidak kuat untuk menanganinya sendiri, kita akan mencari teman untuk bercerita. Bisa dari teman, orang tua, ataupun tenaga professional. Ketika kita masih bisa menangani rasa sakit ini pun, akan lebih baik jika kita mengekspresikannya melalui tangisan, atau mungkin dengan self-talk dan menulis jurnal. Mengeskspresikan perasaan ini perlu untuk melepaskan beban yang membuat harimu menjadi lebih melelahkan. Jika beban ini tidak dikeluarkan, maka akan tertumpuk dan meledak sewaktu-waktu di hari selanjutnya.

  1. Bertanggung Jawab Atas Kebahagiaan Diri

Setiap saat, kita selalu dihadapkan pada pilihan hidup. Entah itu untuk pilihan untuk menganggap bahwa kita adalah korban dari kehidupan, atau anggapan-anggapan lain yang kita percaya. Dengan kembali menyadari bahwa kita tidak hanya sekadar hidup untuk menyia-nyiakan waktu di dunia, kita juga akan terbuka pada responsibilities lain yang menyertai kehidupan kita. Jika kita bisa mulai berfokus pada potongan puzzle kebahagiaan dan mulai menata kehidupan kita ke arah yang lebih baik, maka kita telah berani untuk bertanggung jawab atas diri dan kesejahteraan kita.

  1. Tantang Pemikiran dan Keyakinan yang Buruk

Kita tidak bisa memutar waktu kembali. Karena itu, apa yang terjadi di masa lalu tidak akan bisa diubah. Jika kita melihat masa lalu sebagai mimpi yang buruk, maka kita bisa melihat masa depan sebagai opportunity atau kesempatan untuk tidak terjerembab di sana lagi. Metode untuk melihat masa depan sebagai opportunity ini dikenalkan oleh Albert Ellis, psikolog rasional dan emotif. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengenali emosi apa yang dirasakan. Misalnya sekarang kamu sangat kecewa. Kemudian, cari tahu apa yang menyebabkan kamu merasakan emosi ini. Semisal emosi ini kamu rasakan karena teman baikmu yang mengacuhkanmu dan memilih bermain dengan teman yang baru. Setelah itu, identifikasi pikiranmu. Misal kamu berpikir bahwa kamu memang yang terburuk, sampai temanmu seolah membuangmu. Apakah satu orang menolakmu berarti tidak ada sama sekali yang menyukai dirimu? Tantang pikiran dan keyakinanmu sendiri untuk dapat berfokus pada hal-hal yang logis dan lebih penting.

  1. Maafkan Mereka dan Dirimu di Masa Lalu

Memaafkan, bahkan jika itu ditujukan pada diri sendiri memang tidak semudah yang dibayangkan. Namun sebenarnya, setiap individu pantas untuk mendapatkan pengampunan dari kita, meski cerita buruk dibaliknya susah untuk kita lupakan. Seringkali kita berusaha lari untuk melupakan cerita di masa lalu serta orang-orang di baliknya. Menghadapi suatu permasalahan dikatakan memang membuat kita bisa kuat. Akan tetapi yang dimaksudkan di sana adalah terima permasalahan itu dan belajar lah dari sana. Perlu diingat bahwa memaafkan buat pertanda kita kalah. Memaafkan adalah persoalan untuk menerima suatu keadaan sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.

***

Berurusan dengan masa lalu memang tidak pernah mudah. Keputusan kita untuk tetap berjalan menjalani hari di masa sekarang pun merupakan bagian dari proses untuk merangkul masa lalu. Tidak hanya waktu yang harus kita sediakan, tetapi juga tenaga untuk bisa berproses dalam penerimaan ini. Penerimaan atas masa lalu adalah pondasi utama untuk bisa melakukan perubahan. Meski jika dibandingkan dengan orang lain kita memerlukan waktu yang lebih lama untuk kesembuhan dan penerimaan ini, jangan pernah menyerah pada diri sendiri. Semua orang memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan waktu dan ceritanya masing-masing. Perlahan-lahan tidak masalah, asalkan kita bisa memaknai setiap momen yang dilalui.


Sumber gambar : www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*