Thor Buncit dan Kebiasaan Body Shaming

 

Perhatian: Artikel ini mengandung SPOILER untuk Avengers: Endgame!

Sebagai penikmat film Marvel, Avengers: Endgame menjadi seri yang sangat ditunggu. Kita semua penasaran dengan twist apa yang akan dihadirkan Marvel melalui film terakhirnya di seri MCU. Namun, ketika menyaksikan Avengers: Endgame di layar bioskop, banyak sekali kejutan-kejutan dengan berbagai twist yang benar-benar diluar prediksi. Rasa sedih, haru, bahagia, cemas bercampur menjadi satu sehingga membuat para penikmat film ini menjadi sangat emosional. Terlepas dari segala perasaan itu, ada satu kejutan di luar film yang sangat disesalkan yaitu Thor buncit.

***

Setelah Avengers: Invinity War yang menyisakan berbagai pertanyaan mengenai nasib para pahlawan super yang kalah dengan Thanos, kita menjadi berandai-andai mengenai berbagai kemungkinan. Apakah semesta benar-benar kehilangan separuh penduduknya sesuai keinginan Thanos? Ataukah Dr. Strange memilki strategi yang bisa memutar balik keadaan? Atau justru kemunculan Ant-Man menjadi kunci dari peperangan ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab sangat apik melalui film Avengers: Endgame. Saya sangat terhanyut dengan kesedihan Captain America dan Black Widow, serta seluruh umat manusia, atas kehilangan yang mereka rasakan. Selain itu, kematian Thanos, kematian Black Widow, kemunculan Captain America versi tua dan peperangan lintas galaksi menjadi twist yang sangat dahsyat dan memuaskan dahaga kita sebagai penikmat film Marvel. Namun, ada satu kejutan yang tidak saya sukai yaitu Thor buncit.

Ketika Thor muncul sebagai sosok yang gemuk dengan perut buncit (beer belly), mayoritas penonton sontak tertawa terbahak-bahak. Tidak berhenti disitu, mereka juga melontarkan cemoohan dan candaan yang kasar, seperti:

“Iiih… jelek banget”

“Njijik” (jijik)

Buncit banget kayak si *****.. hahahahha!”

Kata-kata itu terdengar jelas di telinga saya sebagai penonton yang duduk di kursi tengah. Laki-laki dan perempuan, semua bereaksi hampir serupa. Seolah-olah ada yang lucu pada diri Thor yang digambarkan dengan perut yang buncit.

Detik itu juga, saya merasa ada yang salah dari reaksi penonton. Kita menertawakan kelebihan lemak yang ada pada tubuh/fisik seseorang. Kita menganggap tubuh gemuk dan perut buncit sebagai sesuatu yang menjijikan, menggelikan dan merupakan sesuatu yang pantas diolok-olok.

Saya merasa, menertawakan orang gemuk sudah menjadi respon alami yang telah terkonsep. Konsep itu telah kuat tertanam dalam benak orang-orang bahwa gemuk berarti jelek. Gemuk berarti tidak bisa apa-apa. Gemuk berarti pantas untuk ditertawakan.

Thor dan Konsep Tubuh (Laki-laki) Ideal

Sebenarnya saya tidak begitu heran dengan reaksi penonton. Thor buncit menjadi guyonan karena sebelumnya Thor (Chris Hemsworth) ditampilkan sebagai sosok yang sangat kuat dan memiliki ‘tubuh ideal’,tentunya selain Captain America yang diperankan oleh Chris Evans. Dalam film-film sebelumnya, Thor dan Captain America sangat menggambarkan standar kesempurnaan tubuh pria dengan otot dada yang kokoh, perut six pack dan V-shaped torso. Apalagi Thor memiliki mata biru, dagu berjambang dan rambut gondrong yang membuat Thor menjadi sosok sempurna sebagai pria.

Di era ini, bukan hanya wanita yang mendambakan tubuh ideal. Tubuh ideal wanita dekat dengan penggambaran boneka Barbie dan model Victoria’s secret angels dengan tubuh super kurus, tetapi memiliki proposi dada dan bokong yang seksi juga berisi. Pria pada masa kini juga terbebani dengan tuntutan tubuh sempurna layaknya Thor dan Captain America sehingga banyak pria kini terobsesi memiliki tubuh seperti mereka. Namun, dampaknya banyak pria yang akhirnya mengalami muscle dysmorphia karena terlalu terobsesi untuk berotot. Mereka melakukan latihan otot secara berlebihan hingga mengabaikan berbagai tanggung jawabnya.

Tubuh ideal tidak hanya dipromosikan di film-film Marvel. Film-film lain, majalah-majalah, dan iklan minuman penambah masa otot pun ramai-ramai menggambarkan tubuh ideal pria. Pria sempurna adalah pria dengan otot dada yang kokoh dan perut six pack.

Media saat ini benar-benar toxic. Mereka membuat banyak dari kita menggilai bentuk tubuh tertentu sebagai tujuan dan standar sempurna. Riset terakhir menunjukan bahwa 80% wanita dan 34% pria tidak puas dengan penampilan atau bentuk tubuhnya. Ini terjadi karena kita mengejar standar yang terlalu tinggi. Seolah kita tidak akan sempurna jika belum memiliki tubuh ideal selayaknya para model dan bintang Hollywood.

Saya tidak heran jika orang-orang masa kini menganggap tubuh gemuk sebagai kekurangan, bahkan kecacatan, atau sesuatu yang layak dicemooh. Saya tidak heran, tetapi saya tidak setuju. Sudah semestinya kebiasaan body shaming pelan-pelan kita hilangkan. Sudah sepatutnya kita menghargai berbagai macam bentuk tubuh. Manusia juga tidak hanya dilihat dari bentuk tubuhnya, masih ada banyak hal positif yang bisa kita apresiasi selain jumlah lemak di tubuhnya. Gemuk dan kurus sama sekali bukan penentu kualitas diri seorang manusia. Maka dari itu, sudah seharusnya bentuk tubuh baik gemuk atau kurus tidak lagi dijadikan bahan cemoohan.

Thor Buncit Sebagai Perwujudan Trauma

Sebenarnya apa yang dialami Thor hingga membuatnya buncit adalah bentuk perwujudan trauma yang sangat manusiawi. Di antara semua tokoh Avengers yang lain, Thor adalah tokoh yang merasa paling bersalah karena seharusnya ia bisa membunuh Thanos dengan satu serangan. Namun, sayangnya serangan terakhir yang Thor berikan pada Thanos tidak ditujukan ke kepalanya yang diharapkan mampu memutar balik keadaan.

Thor mengalami trauma. Ia melarikan diri ke alkohol dan makanan. Thor menjadi gemuk dan perutnya serupa dengan bapak-bapak buncit yang kebanyakan minum alkohol. Perubahan Thor adalah hal yang manusiawi ketika seseorang memiliki trauma. Namun, body shaming yang kita lakukan adalah perilaku yang harus dihentikan. Jangan sampai body shaming terus menjadi budaya di generasi kita.

Hentikan Body Shaming dari Sekarang!

Body shaming atau pernyataan/sikap negatif seseorang atas bentuk tubuh orang lain, rasanya telah mengakar kuat dan menjadi budaya di Indonesia. Kita pasti akrab dengan pertanyaan bibi dan paman saat keluarga besar berkumpul:

“Gemukan ya?”

“Kok kurus banget kayak kurang makan?”

“Tambah gemuk ya?”

Di generasi sebelumnya, pertanyaan tersebut mungkin tidak bermaksud negatif. Generasi terdahulu mengganggap hal itu adalah wajar bahkan menjadi simbol kesuksesan dan kemakmuran. Orang gemuk berarti sukses, banyak uang dan hidup makmur. Namun, zaman telah berubah, generasi baru telah lahir. Kini, cemoohan dan olok-olok terhadap orang gemuk tidak lagi pantas dilontarkan pada siapapun. Orang-orang gemuk sering kali dijadikan bahan olok-olok oleh teman-teman di sekolah dan di sekitar rumah. Belum lagi, acara lawakan di TV yang kerap menjadikan orang gemuk sebagai sosok manusia malas dan menjadi bahan lawakan sudah tidak relevan lagi kita nikmati sekarang ini.

Saya yakin kita pasti familiar dengan teman gemuk yang selalu jadi bahan bercandaan. Mereka seringkali mendapatkan julukan, seperti:

Chubby”

“Buncit”

“Beruang”

“Badak”

“Babi”

Orang-orang yang gemuk dan buncit sejak masa kanak-kanak sudah muak dengan berbagai percakapan yang membahas bentuk tubuh. Mereka sering kali menjadi target perundungan sejak kecil. Hal tersebut terkadang membuat mereka menjadi tidak nyaman dengan bentuk tubuh mereka. Hal itu kemudian mengurangi rasa percaya diri dan harga diri mereka sebagai manusia. Orang-orang gemuk dan buncit sering kali dicubit perutnya, dicolek, dipanggil dengan berbagai julukan  yang kurang nyaman, bahkan bagi beberapa laki-laki mereka kerap kali dicubit putingnya. Perlakuan-perlakuan tersebut menjadi trauma bagi orang-orang gemuk dan buncit. Orang gemuk sulit sekali untuk berdamai dengan bentuk tubuh mereka dan mencintai diri mereka apa adanya. Hal itu karena masyarakat selalu menyinggung tubuh mereka sebagai bahan lawakan. Seolah gemuk adalah sebuah kekurangan yang layak ditertawakan.

Maka dari itu, bagi orang-orang yang gemuk sejak kecil mendengar percakapan mengenai bentuk tubuh akan mengingatkan mereka terhadap segala trauma pada masa kecil. Begitupun saat menyaksikan Avengers: Endgame, sebagian besar dari kita tertawa lepas dengan segala jokes yang diciptakan Marvel atas kehadiran Thor Buncit. Namun, terkadang ada hal-hal yang tidak kita sadari, yaitu ada orang-orang gemuk dan berperut buncit dengan nasib yang sama seperti Thor di dalam bioskop tersebut. Kita tidak pernah tahu mereka mungkin diam-diam merasa tidak nyaman. Diam-diam mood mereka turun drastis karena tawa kalian. Diam-diam mereka mengingat kembali semua luka batin yang terkait dengan gemuk dan buncit di masa lalu.

Tawa kita atas Thor buncit melukai mereka yang betubuh gemuk, juga siapapun yang tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Tawa kita atas Thor buncit mencerminkan betapa kita terbiasa menganggap orang gemuk layak ditertawakan, seolah kualitas manusia hanya ditentukan dari bentuk tubuhnya saja.

Kita harus benar-benar sadar dengan apa yang kita tertawakan. Kita harus sadar bahwa ada kebiasaan yang sudah sewajarnya kita hentikan.

Thor buncit tetaplah pahlawan

Meskipun banyak penulis yang menyatakan kemarahannya atas Marvel yang menjadikan Thor buncit sebagai punchline. Namun, ada satu hal yang perlu kita syukuri atas kehadiran Thor buncit di Avengers: Endgame, yakni Thor tetap buncit hingga di akhir film. Walaupun di bagian awal film Thor buncit digambarkan sebagai orang malas yang tidak bisa diandalkan (sebagaimana stereotype orang gemuk pada umumnya), tapi di bagian akhir film Thor buncit tetap bisa berperang secara jantan melawan Thanos.

Pencipta seri Marvel menyatakan bahwa mereka tidak mengubah Thor menjadi berotot lagi karena mereka tidak ingin menyimbolkan gemuk sebagai kegagalan dan six pack sebagai transformasi atau keberhasilan. Mereka membiarkan Thor dalam keadaan buncit berperang melawan Thanos. Dengan begitu, semoga seluruh penonton mendapat pesan tersirat bahwa gemuk tidaklah mengubah kualitas dan kemampuan seseorang.

Kehadiran Thor buncit juga menjadi representasi orang gemuk dalam dunia superheroes. Kita harus terbiasa dengan kehadiran orang gemuk. Kita harus lebih inklusif lagi dengan memperlakukan orang gemuk selayaknya kita memperlakukan orang-orang tidak gemuk. Kita juga perlu menghentikan kebiasaan body shaming, khususnya terhadap orang gemuk. Kenapa? Karena kebiasaan body shaming itu menyakiti mereka.

Stop body shaming dari sekarang!

 

 

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*