Trauma : “Medan Perang” yang Dibawa Pulang Para Veteran

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk merayakan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia. Gegap gempita hampir di setiap sudut negeri untuk menyambut hari bersejarah ini. Tapi, pernahkah kita ingat kembali atas jasa siapa kita bisa menikmati kemerdekaan? Tak banyak yang memahami bagaimana kondisi para veteran, apalagi mengenai kesehatan mental mereka setelah pulang dari medan perang.

Trauma Paska Tugas

Sosok veteran identik dengan seseorang yang sudah tua. Tapi mari kita bayangkan kondisi mereka saat masih di medan perang. Veteran memiliki peluang dan kerentanan yang tinggi untuk menghadapi kejadian yang dapat menimbulkan trauma. Saat bertugas, para veteran harus berhadapan dengan kondisi perang yang tidak menentu. Hal ini dapat memicu kondisi gangguan stres paska trauma.

Gangguan stres paska trauma adalah respon psikologis terhadap sebuah kejadian traumatik yang sangat intens, terutama pada kejadian yang membahayakan nyawa. Gangguan ini dapat dialami oleh semua orang, dari berbagai usia, budaya maupun gender. Memang, tidak semua veteran akan mengalami gangguan ini. Di Vietnam, 15 orang dari 100 veteran (15%) mengalami gangguan stres paska trauma akibat perang. Di Indonesia sendiri, belum ada data yang cukup valid tentang gangguan stress paska trauma para veteran kita. Tapi, alangkah eloknya bila kita bisa sedikit memahami kondisi mereka.

Gejala

Cuplikan kejadian, suara, perasaan bahkan bau saat kejadian traumatis berlangsung dapat tergambar berulang-ulang pada veteran dengan gangguan stres paska trauma. Memori tentang kejadian traumatis di masa lalu akan selalu teringat, sehingga membuat mereka merasa kesulitan untuk fokus dengan keadaan sekarang. Mereka akan sering mengalami mimpi buruk yang berulang-ulang, mudah kaget, atau sulit untuk berkonsentrasi pada satu tugas. Beberapa reaksi fisik, seperti berkeringat dan meningkatnya detak jantung, juga muncul saat memori tentang kejadian traumatis kembali datang. Gejala ini muncul paling tidak minimal selama satu bulan.

Veteran dengan gangguan stres paska trauma akan menghindari perbincangan yang mungkin akan membawa kembali memori kejadian traumatis. Dalam proses ini, mereka cenderung untuk menarik diri dari keluarga, teman maupun lingkungan sekitarnya. Hal tersebut membantu mereka untuk “sembunyi” dari memori traumatis. Di sisi lain, hal tersebut dapat membuat mereka merasa sendirian dan terasingkan, yang justru dapat meningkatkan tingkat keparahan gangguan stres paska trauma.

Tak Hanya Veteran, Keluarga Juga Ikut “Berjuang”

Pasangan dan anak para veteran yang berada di rumah tentu saja ikut merasakan kecemasan akan keadaan keluarganya saat bertugas. Pasangan para veteran juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama ditinggal bertugas. Sepulangnya para veteran ke rumah masing-masing, keluarga juga harus melakukan penyesuaian kembali. Beberapa tantangan yang dialami oleh keluarga para veteran yang mengalami gangguan stres pasca trauma adalah perubahan kebiasaan hidup. Misalnya, mereka harus berusaha untuk tidak menimbulkan suara gaduh di rumah dan menghindari berita atau percakapan yang berkaitan dengan perang. Terkadang, keluarga juga harus beradaptasi dengan perubahan emosional para veteran yang tidak terduga.

Yang Bisa Kita Lakukan?

Veteran dengan gangguan stres paska trauma membutuhkan dukungan baik emosional maupun material. Pahami bahwa mereka memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda dari kita. Jika memungkinkan, cobalah untuk mendengarkan ketika mereka sedang ingin berbicara. Ingatlah, bagi mereka mengingat kembali pengalaman masa lalu adalah hal yang sulit. Hal ini untuk meminimalisir kecenderungan para veteran dengan gangguan stres paska trauma untuk menarik diri dari keluarga dan lingkungannya.

Sebisa mungkin, buat mereka untuk merasa nyaman dengan kondisinya sekarang. Berikan pelukan hangat dan ucapkan terimakasih kepada mereka. Apabila memungkinkan, kita juga bisa mengajak untuk bergabung dalam kegiatan yang diperuntukkan untuk para veteran. Berkumpul dan bercerita dengan  sesama veteran tentu saja akan lebih memudahkan mereka untuk saling memberikan dukungan emosional.

‘Tidak ada yang lebih berharga dari kehadiran kita untuk mereka”

 

 

 

Let others know the importance of mental health !
Total
2
Shares