Waspadalah! Mari Memahami Prasangka Lebih Jauh

Berprasangka adalah perilaku yang dipelajari. Anda tidak terlahir penuh dengan prasangka, namun Anda diajari untuk berprasangka.” – Charles R. Swindoll

Pernakah Anda berpikir atau mengasumsikan hal negatif terhadap suatu kelompok dan anggotanya? Ketika sekolah, mungkinkah Anda pernah berasumsi bahwa setiap juara kelas merupakan orang yang sombong?

Ketika Anda berkunjung ke suatu daerah, pernahkah Anda mengasumsikan bahwa penduduk di sana merupakan orang yang kasar saat berbicara? Lalu, mungkin Anda menganggap bahwa orang yang telah lanjut usia tidak akan mampu melakukan sesuatu?

Hal tersebut merupakan bentuk dari prasangka. Prasangka dapat Anda temukan di masyarakat bahkan dalam diri Anda sendiri ketika memandang kelompok tertentu. Bahkan mungkin Anda pun pernah menjadi korban dari prasangka tersebut. Hm, ingin mengetahui mengenai prasangka lebih banyak lagi? Mari telusuri!

Apa itu Prasangka?

Prasangka merupakan sebuah sikap negatif terhadap anggota kelompok tertentu, semata berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut.

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok sosial tertentu akan mengevaluasi setiap individu dalam kelompok tersebut dengan cara yang sama karena mereka anggota kelompok tersebut.

Prasangka dapat ditujukan pada usia, tempat asal, pekerjaan, ras, gender atau latar belakang etnis. Beberapa kasus seperti pembantaian di camp-camp Nazi, pembersihan etnis di Eropa atau Afrika, atau penyerangan tragis terhadap World Trade Centre dan Pentagon merupakan hal yang disebabkan oleh prasangka.

Darimanakah sumber Prasangka tersebut?

Sumber prasangka berasal dari berbagai hal, bahkan dari orang disekitar kita. Prasangka dapat berasal dari pengalaman hidup sedari kecil, yang dipelajari melalui orang tua, teman, guru, dan orang lain terhadap suatu kelompok.

Hal ini membuat individu mengadopsi suatu pandangan negatif mengenai suatu kelompok.

Prasangka juga berakar dari kompetisi antar kelompok sosial untuk memperoleh suatu hal atau kesempatan. Prasangka dapat berkembang dari perjuangan untuk memperoleh pekerjaan, perumahan yang layak, sekolah yang baik dan hasil lain yang diinginkan.

Misalnya dalam pekerjaan, kita tak jarang menemukan adanya prasangka dalam gender, dimana kaum perempuan masih dinilai lemah dan tidak mampu melakukan suatu pekerjaan tertentu.

Bagaimana sikap seseorang yang berprasangka?

Orang – orang yang memiliki prasangka terhadap kelompok – kelompok tertentu cenderung memproses informasi tentang suatu kelompok secara berbeda. Sering kali, individu yang berprasangka akan lebih cepat memperhatikan dan mengingat informasi negatif yang konsisten dengan pandangannya daripada informasi yang tidak konsisten dengan pandangan mereka.

Hasil dari hal tersebut, prasangka menjadi sebuah lingkaran kognitif yang tertutup dan cenderung bertambah kuat seiring dengan berjalannya waktu.
Orang – orang yang berprasangka melibatkan perasaan negatif dalam emosi pada orang yang dikenai prasangka.

Perasaan negatif tersebut akan ada ketika anggota dalam kelompok itu hadir dihadapannya atau hanya dengan memikirkan anggota kelompok yang tidak mereka sukai.

Menurut Allport, seorang ahli psikologi, menyatakan prasangka dapat diwujudkan dalam 5 tahap, yaitu: melalui perkataan yang menunjukkan ketidaksukaan, menghindar, diskriminasi, hingga serangan fisik dan pemusnahan.

Mengapa Prasangka bisa terjadi? 

Pertama, secara individu, mereka memiliki prasangka karena dengan melakukannya mereka meningkatkan citra diri mereka sendiri. Contohnya, ketika individu yang berprasangka memandang rendah sebuah kelompok yang dipandangnya negatif, hal ini membuat mereka yakin akan harga diri mereka sendiri, untuk merasa superior dengan berbagai cara.

Dengan kata lain, pada beberapa orang, prasangka dapat memainkan sebuah peran penting untuk melindungi atau meningkatkan konsep diri.
Kedua, individu melakukannya hal tesebut karena dapat menghemat usaha kognitif. Ketika kita memiliki keyakinan bahwa semua anggota kelompok sosial tertentu memiliki karakteristik yang sama, kita tidak perlu melakukan proses berpikir yang panjang dan sistematis.

Informasi di atas dapat menjadi dasar bagi Anda untuk lebih berhati – hati dalam memberikan pandangan terhadap suatu kelompok. Ketika orang terdekat Anda memberikan label negatif mengenai suatu kelompok, hendaknya Anda tidak langsung memiliki pandangan yang sama.

Untuk mencari suatu kebenaran mengenai suatu kelompok, Anda dapat bertanya kepada orang lain atau bahkan menanyakan langsung kepada anggota dalam kelompok tersebut. Tentunya, Anda akan memproses berbagai informasi positif dan negatif, disinilah pembentukan pola pikir terjadi.

Dengan mengetahui dari sisi positif dan negatif, Anda akan lebih luas dan matang dalam mengambil sikap. Mari hidup tanpa prasangka!


Sumber data tulisan:

Mengenai Pengertian Prasangka, Sikap Prasangka dan Mengapa Prasangka Bisa terjadi : Baron & Byrne. 2005. Psikologi Sosial Jild 2 Edisi Kesepuluh. Jakarta : Penerbit Erlangga

Mengenai Sumber Prasangka : Hogg & Vaughan. 2011. Social Psychology Sixth Edition. England : Pearson Education.

Mengenai Pendapat Ahli Psikologi Allport : Psychological Theories of Prejudice and Discrimination

Let others know the importance of mental health !
Total
1
Shares