Bagaimana Cara Membalas Dendam?

Peristiwa kriminalitas yang tragis kian marak terjadi di masyarakat. Tak hanya sekadar peristiwa yang merugikan hak orang lain secara materi, fisik dan psikologis. Tindakan kriminal tersebut juga seringkali merugikan nyawa seseorang. Cukup banyak pemberitaan mengenai kasus kriminalitas yang dilatarbelakangi oleh berbagai motif, baik alasan logis maupun tidak. Lalu, mengapa seseorang melakukan hal tersebut? Salah satu penyebabnya adalah adanya keinginan untuk balas dendam.

***

Balas dendam (revenge) adalah tindakan melukai atau menyakiti orang lain karena adanya cedera atau kesalahan yang diderita oleh seseorang; keinginan untuk melakukan retribusi. Ketika kita tersakiti maka secara alami kita akan meresponnya dengan cara-cara untuk mempertahankan diri. Namun, tidak berhenti disitu kita juga punya kecenderungan untuk menyerang balik apa dan siapa yang menyerang/menyakiti kita. Walaupun kadang perasaan inigin membalas dendam ini tidak kita akui, tetapi balas dendam adalah salah satu perasaan intens yang muncul pada setiap manusia. Alih-alih membantu kita untuk sembuh dari sakit dan melanjutkan hidup, studi ilmiah menyebut balas dendam justru membuat kita tetap tidak bahagia. Penelitian tentang studi balas dendam menunjukkan bahwa gambaran balas dendam sedikit lebih rumit. Bukan sekadar perasaan puas setelah kita membalas dendam pada orang lain. Namun,  ketika kita membalas dendam pada orang lain, faktanya kita sering merasa lebih buruk setelahnya walaupun pada saat itu kita berpikir kita akan merasa lebih baik.

Sebagai manusia, balas dendam pasti pernah terlintas dalam pikiran kita. Namun, bagaimanakah “membalaskan dendam” kita dengan baik?

Mengakui Kemarahan

Seringkali tindakan balas dendam datang dari emosi-emosi negatif yang diabaikan, termasuk marah. Kemarahan yang tidak diterima akan cenderung membutakan pikiran. Kemarahan melemahkan kemampuan kita dalam hal menyelesaikan masalah dan juga penilaian yang seimbang. Rasa marah ini membuat kita menjadi berpikiran sempit, kaku dan bertindak agresif. Maka dari itu, untuk membalaskan dendam dengan baik dimulai dari dalam diri, yaitu dengan menyadari, mengakui dan menerima rasa marah yang hadir ketika kita disakiti. Kita bisa memulai dengan menyadari sensasi-sensasi fisik yang muncul ketika suatu peristiwa menyakiti kita. Kemudian kita bisa pelan-pelan menerima segala perasaan dan emosi negatif yang muncul sehingga kita bisa berdamai dengan diri, orang lain serta dan kenyataan. Dengan begitu, kita cenderung untuk tidak lagi memikirkan bagaimana orang yang telah menyakiti kita merasakan sakit yang sama seperti yang kita rasakan ketika disakiti.

Berpikir Seimbang

Tidak ada pembalasan dendam yang akan melahirkan keadilan. Keadilan memiliki unsur kehormatan dan kebajikan, sedangkan dendam merupakan bumerang yang berunsur pada ego untuk mementingkan keuntungan diri sendiri dan merugikan orang lain. Balas dendam akan membuat hidup hanya jalan di tempat. Kita sibuk bagaimana caranya membalas dendam. Kita sibuk mengingat-ingat kata-kata yang menyakiti kita. Kita sibuk memikirkan bagaimana orang yang menyakiti kita bisa tersakiti. Kita benar-benar berada dalam kesibukan yang tidak perlu.

Ketika ingin balas dendam, galilah dua lubang – satu untuk dirimu sendiri. – Douglas Horton

Paradigma ini akan membantu kita untuk kritis dan berimbang dalam berpikir dan memutuskan apakah kita akan tetap menyakiti orang yang telah menyakiti kita atau tidak. Dengan paradigma keadilan yang berkaitan dengan keseimbangan tanpa memihak dan menjunjung kesetaraan, maka balas dendam bukanlah keputusan yang adil baik diri kita maupun orang lain. Sebaliknya dengan berpikir seimbang dan seobjektif mungkin maka, keputusan dan pilihan kita juga akan jauh dari pengaruh emosi. Kita bisa memulai dengan menuliskan efek apa saja yang akan terjadi, jika kita melakukan pembalasan terhadap orang lain. Apakah melakukan hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi diri kita dan orang di sekitar kita? Jika tidak, maka jelas hal itu tidak perlu dilakukan.

Memilih untuk Memaafkan

Balas dendam merupakan keputusan dari kemarahan terutama yang tidak disadari dan diterima. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk mencoba membuka hati untuk memaafkan. Memaafkan tentu sulit tapi memberikan banyak keuntungan bagi kita. Memaafkan dapat membuat kita mengurangi motivasi untuk melakukan balas dendam, mengurangi motivasi untuk menghindari orang yang telah menyakiti kita. Alhasil, kita akan terpacu untuk merangkai perbuatan baik, meskipun kita tahu seseorang telah menyakiti kita.

***

Balas dendam hanya akan membuat kita memvalidasi kualitas diri kita yang sama dengan orang yang telah menyakiti kita. Kita akan menjadi pengikut orang tersebut, padahal jarang sekali orang-orang yang menyakiti kita ini masih mengingat perlakuannya terhadap kita. Merendahkan orang lain akan membuat kita lebih rendah dari mereka yang telah merendahkan kita. Untuk itu, cukuplah mereka yang merendahkan diri mereka.

Balas dendam terbaik adalah dengan membuktikan kesuksesan hidup kita dalam mengelola emosi yang ada dalam diri, bukan dengan menyakiti atau merugikan orang lain. Balas dendam bukan untuk jiwa-jiwa yang damai seperti jiwa kita. Balas dendam bukan pintu menuju welas asih.

Semoga setiap jiwa damai dan berbahagia!


Sumber gambar: www.unsplash.com

Let others know the importance of mental health !
Total
22
Shares