Berdamai dengan Perasaan Bersalah

(Tulisan ini disadur dari buku Guy Winch, berjudul “Emotional First Aid”)

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata “bersalah?”

Mungkin kamu teringat dengan kenangan buruk dulu, merasa sakit dan kesal, atau menganggap negatif diri sendiri.

Siapa yang tidak pernah merasa bersalah dalam hidupnya? Sepertinya, setiap manusia pasti pernah merasakannya. Perasaan bersalah muncul lantaran pernah melakukan kesalahan atau menyakiti orang lain. Terkadang, kita tidak sengaja menyinggung, mencerca, atau menyakiti orang lain. Meskipun begitu, perasaan bersalah yang tumbuh, bila diabaikan begitu saja, akan terus menghantui kehidupan kita.

Beberapa studi memperkirakan, setidaknya setiap 2 jam sehari, seseorang merasa bersalah ringan; 5 jam seminggu merasa bersalah sedang; dan 3,5 jam merasa bersalah berat. Sebagai tambahan, ada yang terus merasa bersalah dalam kurun waktu bertahun-tahun.

Peran Perasaan Bersalah

Sesungguhnya, perasaan bersalah memiliki peran terhadap diri manusia. Peran utamanya adalah memberi isyarat pada diri ketika sudah atau akan melanggar aturan atau membahayakan orang lain secara langsung maupun tidak. Melanggar aturan ini seperti memilih bermain daripada menyelesaikan tugas atau makan di tengah malam saat sedang diet.

Dalam menanggapi isyarat ini, manusia biasanya akan menilai kembali rencana atau tindakan yang dilakukan. Tanggapan lain yang dikerjakan adalah meminta maaf terhadap orang yang telah disakiti atau memperbaiki keadaan. Dengan melaksanakan hal-hal tersebut, rasa bersalah pada diri cenderung menghilang lebih cepat.

Perasaan bersalah juga berperan penting dalam mempertahankan standar tingkah laku yang kamu miliki dan menjaga hubungan personal, keluarga, serta komunitas kita. Sebagai contoh, kamu lupa ulang tahun teman dekatmu. Kelupaanmu itu menyebabkan rasa bersalah yang cukup besar dalam dirimu. Untuk mengatasinya, kamu berusaha untuk meminta maaf dengan menelpon temanmu dan membelikan sesuatu untuk menebus kesalahanmu.

Ragam Perasaan Bersalah

Perasaan bersalah yang tidak sehat, sering terjadi dalam kondisi yang melibatkan orang lain dalam hubungan kita. Ketika ini dirasakan, maka akan berpengaruh pada kesejahteraan kita maupun orang lain.

Ada tiga bentuk dari rasa bersalah yang tidak sehat, yaitu rasa bersalah yang belum terselesaikan (unresolved guilt), rasa bersalah dari orang yang selamat (survivor guilt), dan rasa bersalah karena berpisah (separation/disloyalty guilt).

Unresolved guilt bisa saja terjadi karena kita tidak menyadari bahwa kita kurang terampil dalam meminta maaf terhadap orang yang telah tersakiti. Rasa bersalah ini juga dapat terjadi akibat perbuatan yang telah kita lakukan terhadap orang lain itu terlalu besar, sehingga sulit bagi dirinya untuk memaafkan kita.

Sementara itu, perasaan bersalah juga dapat muncul tanpa tahu secara jelas di mana letak kesalahan yang sudah diperbuat. Bentuk perasaan bersalah seperti ini dikenal sebagai survivor guilt. Orang-orang yang selamat dari kecelakaan, bencana, perang, atau tragedi mengerikan lainnya dapat menyalahkan diri sendiri karena selamat dari peristiwa tersebut. Mereka berpikir, “Kenapa diriku saja yang selamat, tetapi mereka tidak?”.

Survivor guilt adalah bentuk perasaan bersalah yang sangat rumit dan sulit. Hal ini disebabkan mereka tidak tahu yang harus dilakukan untuk menebus rasa bersalahnya. Penyebab lainnya adalah tidak ada hubungan yang rusak untuk diperbaiki selanjutnya atau tidak ada permintaan maaf untuk diberikan.

Selanjutnya, separation guilt adalah perasaan bersalah yang dirasakan karena harus meninggalkan orang lain untuk mengejar apa yang diinginkan atau melanjutkan kehidupan. Perasaan ini seringkali dialami saat harus merantau jauh dari orangtua demi melanjutkan studi. Padahal, kita tahu orangtua akan merasa sepi setelah ditinggal pergi.

Separation guilt ini suka dikaitkan dengan disloyalty guilt. Disloyalty guilt muncul saat kita merasa ada keterikatan dengan orang lain, seperti keluarga atau teman. Kemudian, ketika keputusan yang kita buat seakan-akan berlawanan dari aturan dan harapan mereka, maka kita akan merasa tidak enak dan bersalah.

Luka Psikologis yang Timbul

Di kala kamu merasa bersalah yang berlebihan, maka akan menimbulkan dua macam luka psikologis. Kedua luka ini sama-sama akan meracuni dan memengaruhi kualitas hidupmu sendiri.

Pertama, berdampak pada keberlangsungan hidup dan kebahagiaan hidup. Kamu menjadi tertekan secara emosional dan sulit untuk fokus pada kebutuhan dan kewajiban diri. Pada akhirnya, kamu sering menyalahkan dirimu sendiri secara terang-terangan.

Kedua, menimbulkan kekacauan pada hubunganmu dengan orang lain. Rasa bersalah yang berlebihan dan belum terselesaikan akan menganggu serta membatasi komunikasimu terhadap orang yang pernah kamu sakiti. Kamu menjadi sulit untuk kembali berhubungan seperti dulu kala sebelum kesalahan ini terjadi. Yang ada, malah muncul ketegangan maupun kecanggungan yang berdampak tidak baik bagi dirimu sendiri.

Jangan Tenggalam dalam Rasa Bersalah

Perasaan bersalah akan selalu menyapa kehidupan kita. Ia dapat menjadi baik bila kita mampu menghadapi dan belajar darinya. Namun, ia dapat berubah menjadi racun bila kita selalu terngiang dan tidak mampu menyelesaikannya.

Berhadapan dengan rasa bersalah akan menjadi tantangan setiap manusia. Ia akan memilih untuk menghadapinya atau membiarkan dirinya tenggalam dalam perasaan bersalah yang entah kapan akan berakhir.

Tunggu ulasan kami selanjutnya terkait berdamai dengan perasaan bersalah yang pernah kamu rasakan!

Total
23
Shares
%d bloggers like this: