Being Here and Now : Sebuah Ikhtiar Diri di Tengah Gejala Gangguan Mental

Mental illness atau yang biasa dikenal dengan gangguan kesehatan mental mengacu kepada berbagai kondisi yang mempengaruhi perasaan, pikiran, suasana hati maupun perilaku seseorang. Kondisi ini bisa terjadi hanya dalam jangka waktu tertentu atau dalam waktu yang lama.

Penyakit mental tidak hanya mengakibatkan kesulitan yang timbul dari gejala penyakit tetapi juga kerugian melalui reaksi masyarakat. Bahkan, beberapa orang dengan penyakit mental akan menerima prasangka umum tentang penyakit mental yang dialami, stigma terkait diri sendiri, dan kehilangan kepercayaan diri. Dampak penderitaan bagi orang dengan penyakit mental semakin besar ketika gap antara jumlah kapasitas layanan kesehatan jiwa dengan orang yang membutuhkan layanan tersebut tinggi. Dampak ini pun tidak hanya dialami oleh orang itu sendiri, tetapi juga dialami oleh keluarga, masyarakat, serta negara. 

Menjadi Sehat Mental adalah Kebutuhan Kita

Kesehatan mental terkait dengan beberapa hal antara lain: ketenangan batin, kemampuan adaptasi, dan partisipasi aktif dalam lingkungan. Di sisi lain, beberapa faktor bisa memicu terjadinya gangguan mental, seperti mengalami penyakit tertentu sampai dengan stres akibat berbagai peristiwa traumatis seperti, kehilangan orang yang kita sayangi. Melalui pengalaman tersebut, sistem kekebalan tubuh manusia dapat turut melemah.

Terisolasi dalam waktu yang lama juga berisiko terhadap gangguan mental. Salah satu contohnya, situasi pandemi covid-19 di masa awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada saat itu, kita dianjurkan untuk tetap berada di dalam rumah. Perlahan, manusia pun semakin rentan merasakan sepi karena adanya berbagai pembatasan untuk berinteraksi maupun beraktivitas di luar yang bersinggungan dengan manusia lain. Hal ini turut berdampak buruk terhadap kualitas fisik dan mental seseorang. 

Melihat adanya beragam situasi di luar kendali manusia, sehat mental menjadi sebuah kebutuhan yang penting. Sesederhana manusia berusaha memenuhi kebutuhan makanan setiap harinya, sehat mental pun mendapat porsi yang serupa untuk dipenuhi dalam kehidupan. Sehat mental perlu dijaga dan diupayakan agar manusia mampu tetap berdaya secara optimal dalam menjalani hidup. Selain itu, sehat mental juga mendukung manusia untuk lebih lentur dan tangguh ketika menghadapi masalah atau tantangan yang menghampirinya. 

Being Here and Now

Dalam kehidupan, apapun yang telah terjadi di masa lalu, cukup letakkan pada masa itu. Sementara, apapun yang terjadi di masa depan tidak bisa kita prediksi. Ketika menyadari kedua kondisi ini, coba tanyakan kembali pada diri, “sudahkah mampu menyadari dan menikmati kondisi saat ini dan di sini?”

Fritz Perls, seorang satu tokoh psikologi asal Jerman, memperkenalkan konsep here and now atau kita sebut sebagai “di sini - saat ini”. Konsep ini menjelaskan tentang pentingnya manusia untuk merasakan keberadaannya di sini dan saat ini. Manusia yang berusaha menikmati momen saat ini tanpa gangguan terhadap dendam di masa lalu, maupun kerisauan pada masa depan.

Masa lalu adalah satu hal yang tidak bisa kita ubah, namun bisa kita kelola agar hidup kita dapat optimal  menjalani kehidupan “here and now”. Begitu juga dengan masa depan. Masa depan perlu kita rencanakan dan antisipasi, akan tetapi tidak untuk dirisaukan secara penuh sampai menghabiskan seluruh fokus dan kesadaran yang kita miliki. Karena faktanya, momen saat ini - di sini adalah sesuatu yang benar-benar nyata sedang kita jalani. 

Yang menjadi tantangan selanjutnya adalah, apakah kita sudah mampu untuk memaknai kehidupan saat ini sebagai sesuatu yang menyenangkan dan berarti? Renungan untuk dapat memaknai kehidupan saat ini diperkuat dengan pendapat Martin Seligman, seorang pakar psikologi positif asal Amerika Serikat. Seligman mengatakan bahwa perlu adanya pemahaman yang baik terkait bagaimana manusia memandang arti kehidupan yang menyenangkan dan kehidupan yang bermakna atau yang biasa disebut dengan pleasure dan gratification. 

Kenikmatan dan Kebahagiaan Hidup Kini, Saat Ini

Pleasure berbicara tentang kenikmatan atas perasaan-perasaan dasar dan komponen indrawi yang kuat. Sementara gratification, berbicara tentang kebahagiaan atau kenikmatan hidup melalui kegiatan yang kita sukai. Gratification tidak terbatas pada perasaan dasar, tetapi juga melibatkan kemampuan berpikir dan interpretasi manusia dalam memandang apa yang terjadi. 

Di era ini, kita  seakan sangat bergantung dengan aneka kemudahan dan kenikmatan yang ditawarkan. Alhasil kehidupan kita selalu dipenuhi dengan memikirkan “Hiburan apa lagi yang bisa kunikmati?”, “ Bagaimana nantinya jika aku tidak mempunyai hidup yang menyenangkan?”. 

Hal seperti inilah yang kadang membuat kita gagap dalam menumbuhkan potensi – potensi yang ada pada diri kita. Kita terlalu fokus agar terciptanya keadaan emosi positif dan meminimalkan emosi negatif dalam diri kita. Pencariaan keadaan emosi positif ini pun sering kali berada di luar diri sendiri, sampai lupa menengok apa yang ada saat ini. 

Maka dari itu, sudah waktunya kita fokus terhadap kehidupan sekarang dan saat ini. Dengan berfokus pada saat ini, kita diajak untuk menelaah kembali adanya hal-hal baik yang sudah diraih. Segala sesuatu yang terjadi di masa lalu cukup kita jadikan sebagai referensi pembelajaran di masa kini atau masa depan. Sementara apa yang akan terjadi di masa depan, kita cukupkan dengan apa yang bisa kita upayakan serta pasrah meyakini bila itu akan terjadi. 

***

Sehat mental adalah kebutuhan penting. Mari menjaga kesehatan mental dengan pelan-pelan terbiasa dan terlatih untuk menyadari dan menikmati setiap detik dalam hidup kini, saat ini. Meyakini bahwa manusia punya kendali untuk hidupnya saat ini. Dengan mengizinkan diri untuk terbebas dari jeratan masa lalu, maupun menjernihkan imajinasi yang belum pasti dari masa depan. 

Muhammad Hafizh Renaldi

Mahasiswa S1-Komunikasi dan Penyiaran Islam Univeristas Muhammadiyah Yogyakarta 2019

Previous
Previous

Pekerja Media Kreatif Juga Harus Sehat Mental

Next
Next

Pahit dan Sakit Sebuah Kegagalan