Pekerja Media Kreatif Juga Harus Sehat Mental

“Bagaimana cara mengatasi stres pada pekerja startup/media kreatif yang terus menuntut kalau kita itu harus kreatif?"

Pekerjaan-pekerjaan kreatif mulai menjadi tren bagi generasi milenial. Menjadi tren karena pekerjaan-pekerjaan seperti ini sangat sesuai dengan karakteristik generasi milenial yang penuh fleksibilitas dan tidak terikat. Terlebih lagi, sudah banyak cerita mengenai budaya kerja di korporasi yang sangat hierarkis dan birokratis. Rasanya bekerja di industri kreatif, media atau startup jauh lebih bisa memberikan hawa segar dibandingkan bekerja di perusahaan besar.

Akan tetapi, bekerja di industri yang penuh deadline dan kreativitas tanpa henti juga memiiki beban stres yang berat. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental jika bekerja di industri kreatif.

Buat Batas yang Tegas

Milenial yang bekerja di startup dan industri kreatif sering kali bangga dengan status “jam kerja fleksibel” asal deadline kelar. Akan tetapi, kadang pekerjaan di bidang kreatif yang fleksibel malah memisahkan batas antara waktu personal dan waktu kerja. Bekerja lembur, meladeni klien via chat di malah hari, atau mengikuti event networking di akhir pekan. Awalnya kita merasa semua itu baik-baik saja. Padahal sebenarnya, kita telah melupakan batas waktu antara kerja dan personal kita. Kita lupa meluangkan waktu untuk kehidupan pribadi kita dan menikmati seutuhnya.

Bila Perlu, Gunakan Dua Smartphone

Masih terkait dengan membuat batas, kehadiran smartphone sebenarnya sangat mengacaukan batasan-batasan ini. Smartphone adalah tempat kita berjejaring dengan network pekerjaan, teman dan keluarga besar. Smartphone adalah gawai yang sangat fleksibel hingga bisa kita gunakan untuk bermain game atau berkonflik dengan pacar via instant messenger.

Kita terbiasa membuka smartphone kapan saja. Ketika kita sedang bekerja di kantor, misalkan, kemudian kita melihat notifikasi dari orang tua, hal tersebut akan memecah konsentrasi kita ketika bekerja. Sebaliknya, saat kita istirahat di rumah atau bahkan liburan di Maldives, kemudian chat dan email dari kantor masuk, hal ini juga akan membawa memori semua pekerjaan ke otak kita dan semua pekerjaan yang belum usai. Terus saja berputar seperti itu hingga akhirnya kita sulit membedakan kapan waktu kerja dan personal sesungguhnya bagi kita.

Padahal, di negara lain seperti Perancis dan Jerman sedang menggemborkan pengharaman surel dan telepon urusan kantor di luar jam kerja demi menjamin kesehatan mental karyawannya.

Karena negara kita dan perusahaan tempat kita bekerja masih jauh dari kebijakan tersebut, maka langkah ekstrem yang bisa dilakukan adalah memiliki dua smartphone sebagai cara memberi batas yang tegas.

Jaga Fisik Tetap Fit

Nasihat ini terdengar klise dan basi. Akan tetapi, hubungan erat antara fisik dan mental tidak bisa dibantah. Sebuah penelitian membahas bagaimana aktivitas dalam fisik memengaruhi keadaan dan kesehatan mental manusia.

Terlebih lagi kita orang Asia yang sejak dahulu tidak mengenal dualisme antara jiwa dan raga. Kesehatan fisik kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental, dan sebaliknya. Pikiran yang penuh beban dapat membuat pundak, leher dan pinggang sakit, sama halnya fisik yang tidak fit membuat kita lebih lambat dalam berpikir dan mudah marah. Maka dari itu, menjaga kesehatan fisik juga baik dilakukan untuk menyeimbangi pekerjaan yang penuh tekanan.

Terlebih pola bekerja yang sedentary mempercepat penumpukan lemak di paha dan perut. Dengan olahraga, kita akan lebih bahagia karena melihat badan kita tetap stay in shape dan bugar.

Self-Care

Seberapa padat tuntutan kerja yang dijalani, jangan lupa untuk tetap santai dan menikmati kehidupan kita. Meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas sederhana seperti, menulis gratitude journal, olahraga, membaca buku, mendengarkan musik, facial dan pijat refleksi. Aktivitas sederhana seperti itu dapat disebut sebagai self-care, yaitu cara mensyukuri hidup dengan merawat dan memanjakan diri kita. Dengan memberi waktu untuk diri sendiri, kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya untuk bekerja saja. Ada bagian dalam diri yang harus diperhatikan kesejahteraannya untuk tetap seimbang.

Lakukan Kreativitas yang Sebenarnya

Bekerja di industri kreatif dan melakukan kreativitas adalah hal yang berbeda. Dalam konteks bekerja di industry kreatif. Otak kita diperas untuk menghasilkan ide yang kreatif terkait suatu produk hingga bagaimana caranya menjual produk tersebut sesuai kebutuhan pasar. Otak kita dipaksa memikirkan beragam bentuk ide produk, ide iklan, ide pameran, ide penyaluran produk agar diterima masyakart. Kita dituntut kreatif dan ini bisa jadi penuh tekanan.

Berbeda dengan bermusik, menulis, menggambar, melukis atau mindful drawing, colouring, aktivitas-aktivitas ini adalah aktivitas kreatif yang tidak menuntut otak kita dan lebih banyak penyaluran emosi di dalamnya. Aktivitas tersebut juga menyerap penuh perhatian kita ke seni sehingga kita bisa lupa dan melepaskan beban pekerjaan.

Pola makan

Kita terbiasa minum kopi di pagi serta siang hari untuk menunjang performa. Setelah itu, mengonsumsi alkohol di malam hari untuk melepaskan stres. Kita juga terbiasa mengonsumsi junk food yang cepat untuk diraih dan dikonsumsi asal perut merasa kenyang. Bekerja sambil memakan camilan seperti coklat, permen, keripik dan sejenisnya juga biasa kita lakukan. Padahal, semua hal itu jika terlalu sering dikonsumsi malah akan memperburuk stres yang kita rasakan saat bekerja. Akan lebih baik ketika kita membiasakan untuk mengonsumsi sayur, buah, dan air mineral yang cukup saat bekerja.

Bekerja di startup atau industry kreatif memang menyenangkan karena memfasilitasi kebutuhan millenial yang tidak bisa diam dan juga butuh tujuan hidup. Akan tetapi, lika-liku stres di sana juga tidak kalah dramatis dengan kerja di korporasi besar.

Jadi gimana, masih menganggap bekerja di startup atau industri kreatif itu ideal?

Artikel ini dibuat atas kerja sama dengan Mojok.co untuk pengisian kolom konsultasi psikologi di media Mojok.

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

Merasa Bahagia dengan Decluttering Barang

Next
Next

Being Here and Now : Sebuah Ikhtiar Diri di Tengah Gejala Gangguan Mental