Hubungan Harmonis antara Orangtua, Anak Remaja dan Teman Sebayanya, Bisakah Tercipta?

β€œIde bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua mereka adalah hal yang terlalu dibesar-besarkan. Kelompok teman sebaya anak atau remaja lah penentu yang jauh lebih besar dibanding aspirasi orang tua terkait bagaimana perkembangan dan prestasi mereka nantinya.” (Steven Pinker)

Kutipan di atas menggambarkan betapa besar pengaruh kawan sebaya terhadap anak dan remaja. Tidak dapat dipungkiri, pada usia remaja persentase waktu ketika anak bergaul dengan kawan sebayanya jauh lebih besar daripada saat berkumpul dengan orang tuanya.

Di situlah proses pertukaran pengaruh terjadi, baik dalam hal yang sifatnya materialistik seperti kekompakan dalam memilih gaya potongan rambut, gaya baju yang setipe hingga make up. Bahkan pengaruh bisa terjadi pada yang lebih mendasar seperti bagaimana cara anak tersebut bersikap terhadap orang yang lebih tua, kebiasaan belajar, dan perilaku sehari hari.

Begitu kuatnya ikatan remaja dengan kawan sebayanya sehingga seringkali membuat hubungan antara remaja dan orang tua menjadi kurang dekat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang bijaksana supaya hubungan antara remaja dan orang tua tetap terjaga dengan baik.

Meski pada umumnya, banyak orang tua yang tidak terlalu mempermasalahkan jika anak remaja mereka lebih banyak bergaul dengan kawan sebayanya. Alasannya, karena orang tua merasa itu hal yang normal untuk terjadi, menganggap hal itu merupakan hak remaja. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan remaja dengan kawan sebayanya pun masih seputaran belajar kelompok, bermain gitar bersama, mengerjakan PR, pergi bersama ke suatu tempat dan sebagainya.

Namun, ada baiknya sebagai orang tua, Anda bisa melakukan beberapa strategi bijaksana supaya tetap memiliki ikatan dan komunikasi yang tidak kalah kuat dengan ikatan anak remaja dengan kawan sebayanya. Berikut strateginya!

1. Menghargai keberadaan kawan sebaya anak

Mendukung kegiatan bergaul anak dengan teman sebayanya adalah hal yang cukup penting. Dengan catatan, kawan sebayanya membawa dampak positif bagi anak. Akan lebih baik lagi, apabila Anda turut masuk bergaul sesekali dalam lingkungan teman sebayanya tersebut.

Hal itu bisa dilakukan dengan misalnya berbincang tentang dunia remaja saat mereka main ke rumah atau dengan memasakkan makanan-makanan kesukaan mereka. Sesekali melakukan sharing dengan anak Anda tentang kawan sebayanya juga dapat dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas keberadaan mereka.

2. Mengawasi tetapi tidak mengekang

Pada usia remaja, anak-anak ingin diakui eksistensinya dan kemandiriannya sehingga sikap mengekang pergaulan mereka justru akan mengakibatkan perlawanan dari mereka. Anda sebagai orang tua tetap bisa melakukan pengawasan-pengawasan terhadap aktivitas anak remaja dengan kawan sebayanya baik melalui komunikasi langsung (dengan anak Anda) maupun dengan komunikasi tidak langsung (sharing dengan kawan sebayanya maupun menjadi pengikut atau teman di semua akun sosmednya).

3. Nasehati anak dengan cara yang halus namun tegas

Berbicara kasar membuat anak remaja tergores harga dirinya. Apabila Anda memiliki tujuan untuk menasehati mereka. Lakukan dengan cara halus, anggun namun tetap tegas. Hal tersebut membuat anak remaja mau menerima nasehat dengan baik pula.

4. Sering mengajak anak mengobrol santai maupun diskusi.

Sesibuk apapun Anda sebagai orang tua, sebaiknya tetap selalu menyempatkan waktu untuk berbagi, berbincang dan diskusi dengan anak tentang berbagai macam hal. Topik-topik tersebut bisa tentang kegiatan ekstrakurikulernya, perkembangan akademiknya, film yang sudah ditonton bersama kawan sebayanya, bahkan bisa jadi topik-topik serius seperti korupsi di Indonesia dan sebagainya. Interaksi dan komunikasi yang intens membuat hubungan orang tua dan anak lebih kuat dan harmonis.

5. Memberi contoh nyata tentang bagaimana Anda bersikap kepada orang tua Anda

Dalam aktivitas pengasuhan, contoh ataupun teladan adalah kunci utama penanaman perilaku positif pada anak. Bila Anda sebagai orang tua juga memperlakukan orang tua mereka dengan sangat baik, maka anak remaja tersebut mendapatkan contoh/teladan nyata dalam berperilaku. Bagaimanapun juga, sifat anak adalah cerminan dari sifat kedua orang tuanya.

Anak-anak dan remaja adalah aset emas masa depan bangsa yang dititipkan Tuhan untuk dididik oleh orang tua dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan utama suatu pengasuhan orang tua terletak pada bagaimana orang tua menjalin komunikasi dengan anak.

Selain itu, bagaimana orang tua memberi contoh nyata atau teladan tentang bagaimana cara berperilaku positif dalam berbagai situasi juuga berperan besar. Kawan sebaya memiliki pengaruh yang sangat tinggi terhadap perkembangan dan prestasi anak, sehingga sebaiknya orang tua turut memberikan pendampingan agar kawan sebaya anak mampu membawa dampak positif untuknya.

Sumber gambar: http://www.huffingtonpost.com/galtime/things-you-should-never_say-to-your-tween-or-teen_b_3799588.html

Nuurul Rahmawati

Mahasiswa Magister Profesi Psikologi Pendidikan UGM

Previous
Previous

Balas Dendam Sehat, Kenapa Tidak?

Next
Next

Fakta-Mitos Seputar Move-on setelah Putus Cinta