Kebahagiaan dan Kerbermaknaan Hidup

Banyak orang mengejar karir yang baik, finansial yang stabil, cinta yang romantis dan melakukan berbagai macam olahraga untuk tetap merasa sehat dan bahagia. Namun, apakah semua itu sudah cukup untuk membuat kita merasa “cukup” bahagia?

***

Kebahagiaan setiap orang tentu saja memiliki definisinya masing-masing. Namun, beberapa studi menyebut kebahagiaan dikonseptualisasikan sebagai sesuatu yang memiliki banyak sisi yang terpisah secara empiris, termasuk kepuasan hidup, kepercayaan positif tentang kehidupan, dan kehadiran emosi-emosi positif. Kepuasan hidup misalnya kestabilan pendapatan seseorang dari karir yang cemerlang berdampak pada kesejahteraan serta kebahagiaan hidupnya. Selanjutnya, kehadiran emosi-emosi positif misalnya, ketika seseorang merasa lebih sehat dan bugar karena rutin berolahraga dan menjaga pola hidup sehat maka ia cenderung merasa bahagia. Sebuah studi menyebut status kesehatan, kepuasan finansial dalam rumah tangga, dan kebebasan dalam berpendapat serta memilih adalah cara-cara pemerintahan di seluruh dunia untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Selain itu, kepercayaan yang positif tentang kehidupan bisa juga menjadi sumber kebahagiaan seseorang. Hal itu datang dari tingkat spiritualitas yang baik. Sebuah penelitian dengan World Value Survey dari tahun 1981-2014 menyebut bahwa religiusitas (tingkat spiritualitas) seseorang berperan penting dalam membentuk kesejahteraan dan kebahagiaan. 

Lalu, bagaimana kestabilan finansial, hubungan pernikahan, karir dan pekerjaan, kesehatan serta spiritualitas bisa menghadirkan kebahagiaan dalam hidup? Apa benar kebahagiaan hidup hanya datang dari hal-hal tersebut?

Kestabilan Finansial

Uang memang bukan segalanya. Walaupun demikian, kebutuhan-kebutuhan dasar kita sebagai manusia yaitu makanan, pakaian, perlindungan maupun pemenuhan status sosial bisa didapatkan apabila kita memiliki uang. Status finansial sendiri merupakan faktor penyebab munculnya stres pada seseorang maupun pasangan dalam rumah tangga yang biasa disebut dengan stres finansial. Hal ini dapat memengaruhi tingkat kebahagiaan termasuk status kesehatan baik fisik maupun mental seseorang atau seseorang dengan pasangan apabila sudah berumah tangga.

Hubungan Pernikahan

Di 44 negara yang disurvei pada tahun 2002, kehidupan keluarga memberikan sumber kepuasan hidup dan kebahagiaan terbesar. Orang-orang yang telah menikah hidup rata-rata tiga tahun lebih lama dan menikmati kesehatan fisik serta psikologis yang lebih baik daripada orang-orang yang belum menikah. Memiliki keluarga meningkatkan kesejahteraan, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga akan semakin meningkatkan kebahagiaan seseorang.

Karir dan Pekerjaan

Orang-orang menganggap karir dan pekerjaan mereka saat ini adalah sebagai “job orientation” dan “career orientation”. Job orientation yang dimaksud disini adalah seseorang menganggap pekerjaan adalah ‘lahan’ mengumpulkan uang, sedangkan career orientation adalah anggapan seseorang pada pekerjaan yang berfokus pada hadiah dan pujian serta menganggap bekerja sebagai upaya untuk mencapai tujuan dalam hidupnya. Keduanya, ternyata tidak membawa kebahagiaan sejati. Lalu, apa yang bisa membawa kebahagiaan sejati dalam pekerjaan? 

Pandangan pekerjaan sebagai “calling orientation bisa menjadi alasan seseorang bahagia dengan pekerjaanya. Seseorang dengan calling orientation bekerja bukan untuk uang dan popularitas, tetapi ia bekerja karena pekerjaan tersebut ia sukai, berguna dan berharga bagi dirinya. Hal inilah yang membawa seseorang pada kebahagiaan. Bahwa orang tersebut bahagia karena pekerjaannya termasuk di dalamnya, lingkungan, gaji maupun hubungan antar relasi. Kebahagiaan sangat mungkin bukan sekadar konsekuensi dari apa dan bagaimana pekerjaannya, tetapi kebahagiaan juga menjadi penyebab kesuksesan dalam bekerja. Pada dasarnya, kehadiran emosi positif yang sering muncul (seperti bahagia dan puas) dapat memengaruhi seseorang dalam mencapai kesuksesan karirnya. Pekerjaan dan karir berdampak pada kebahagiaan seseorang dan sebaliknya kebahagiaan juga berdampak pada tingkat kepuasan dan kesuksesan dalam berkarir. 

Status Kesehatan

Berdasarkan sebuah studi, terdapat dua faktor yang mendasari kebahagiaan, yaitu faktor endogenik (biologis, kognitif, kepribadian dan etika) dan faktor eksogenik (perilaku, sosial budaya, ekonomi, geografis, peristiwa kehidupan dan estetika). Di antara semua faktor endogenik, keadaan biologis atau kita sebut sebagai kondisi fisik adalah faktor yang sangat memengaruhi kebahagiaan. Hasil studi mengenai apakah faktor genetik berpengaruh pada kebahagiaan? Hasilnya menunjukkan rata-rata efektivitas genetik sekitar 35 -50% pada kebahagiaan. Hal inilah yang membuat kondisi fisik juga memengaruhi kesehatan psikologis. Gen-gen tersebut mendistribusikan sinyal-sinyal yang akan memengaruhi emosi dan suasana hati. Studi neurosains menunjukkan bahwa beberapa bagian otak (misal amigdala dan sistem limbik) dan neurotransmiter (misal dopamin, serotonin dan endorphin) berperan dalam mengendalikan kebahagiaanMaka dari itu, faktor biologis dan kesehatan fisik sangat penting dalam mendasari kebahagiaan dan perannya dalam kesehatan secara menyeluruh. Orang-orang yang berbahagia diketahui memiliki tingkat optimisme yang tinggi, memiliki tujuan pencapaian dalam hidup, produktif, memiliki pandangan terhadap diri yang positif, serta berpikir lebih jernih dan fokus pada solusi dalam bernegosiasi.

Spiritualitas

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang beragama cenderung lebih bahagia, lebih sehat, dan pulih dari trauma mereka dibandingkan dengan orang-orang yang tidak religius. Hal ini dipengaruhi oleh adanya dukungan sosial dan kepemilikan identitas yang diberikan oleh milik komunitas beragama, misalnya kumpulan gereja kristen/katolik, komunitas kuil, atau masjid yang cukup erat. Selain itu, agama biasanya dipraktekkan dalam sebuah persekutuan yang saling berbagi beban satu sama lain, saling membantu dan menawarkan persahabatan maupun interaksi kekeluargaan. Maka dari itu, agama maupun spiritualitas sangat membantu seseorang menemukan makna dalam kehidupannya. Kebanyakan orang perlu merasa bahwa mereka penting, bahwa penderitaan dan kerja keras mereka tidak sia-sia, dan bahwa hidup mereka memiliki tujuan sehingga mereka bisa menjalani kehidupan dengan lebih fokus, penuh syukur dan welas asih.

Kebahagiaan dan Kebermaknaan Hidup

Menurut Aristoteles, kebahagiaan terdiri dari dua aspek: hedonia (pleasure) dan eudaimonia (a live well lived). Dalam psikologi kontemporer, aspek-aspek ini biasanya disebut sebagai kesenangan (pleasure) dan makna (meaning). Walaupun menurut literatur empiris menunjukkan bahwa orang yang lebih bahagia akan mencapai kehidupan yang lebih baik, termasuk dalam kesuksesan finansial, hubungan yang positif, kesehatan mental, coping yang efektif, dan status kesehatan fisik yang baik. Namun, kebahagiaan tidak hanya bertumbuh pada hal-hal tersebut. Kebahagiaan tidak hanya tentang apa yang menyenangkan dan kesuksesan apa dalam hidup, tetapi juga dari kebermaknaan hidup. Bagaimana seseorang bertumbuh dalam setiap fase kehidupannya bukan semata-mata untuk mencari kesenangan semata. Namun, ia juga bisa membangun perasaan-perasaan positif, nyaman dengan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya, mempunyai dukungan sosial atau support system yang selalu mendukungnya. Bagaimana seseorang terus belajar tentang nilai-nilai moral yang ia yakini dapat membawa kebahagiaan sejati pada dirinya. Lalu, kebahagian sejati tersebut bisa mengantarkan ia pada makna kehidupan yang sebenarnya. Jadi seberapa bermakna hidup kita saat ini?


  Sumber gambar: www.unsplash.com

Rinesha Tiara Romauli Siahaan

S1 Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan. Memiliki minat dalam dunia perkembangan anak dan remaja.

Previous
Previous

CURHAT: Saya Sering Dicaci Maki Karena Orang-Orang Menganggap Saya Telah Berselingkuh

Next
Next

CURHAT: Saya Ingin Berhenti dari Kecanduan Menonton Anime dan Film Porno