Motif-Motif di Balik Kebohongan

unsplash-image-3h6Q-9Y0LqI.jpg

Pernahkah Anda memuji seseorang yang pada kenyataannya tidak sepenuhnya benar dengan pujian itu? Atau pada lain waktu, apakah Anda pernah mengaku sibuk kepada orang lain karena ingin menghindari berbicara dengan mereka? Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita telah berbohong. Atau kita tidak sadar apa sebenarnya alasan di balik kebohongan itu.

Seringkali kita tidak menyukai apabila orang lain berbohong. Namun, mungkin saja justru kita lah pelakunya. Pada sebuah penelitian didapatkan bahwasanya seseorang dapat mengucapkan kebohongan hingga dua kali dalam setiap harinya.

Berbohong Sebagai Bentuk Perlindungan Diri

Ketika diri kita berada di kondisi yang terancam, tentunya kita pernah berpikir untuk menghindarinya meski melalui jalan berbohong. Misalnya, secara tidak sengaja kita pulang larut malam karena terlalu asyik hangout bersama teman. Namun, ketika sampai di rumah kita mengatakan pada orangtua bahwa alasan pulang larut malam karena mengerjakan tugas atau pekerjaan.

Pilihan untuk berbohong juga bisa menjadi sebuah bentuk penyangkalan terhadap hal-hal yang tidak kita miliki. Hal yang wajar bila kita cenderung ingin agar orang lain melihat kita sebagai individu atau pribadi yang baik, meskipun sebenarnya ada hal-hal yang tidak kita punyai. Selain itu, terkadang kita takut apabila mengatakan hal yang sesungguhnya atas diri kita akan menyebabkan orang lain menjauh. Oleh karena itu, daripada harus mengakuinya terkadang berbohong menjadi suatu hal yang lebih mudah dan nyaman untuk dilakukan.

Dipelajari dan Dilakukan Sejak Kita Kecil

Penelitian menunjukkan bahwa manusia mulai mengenal dan melakukan kebohongan bahkan sejak 6 bulan. Bentuk kebohongan pada usia ini misalnya dengan pura-pura menangis atau merengek. Tujuannya sebenarnya adalah untuk mencari perhatian dari ibu atau orang terdekat mereka. Saat usia semakin besar, anak-anak mulai belajar untuk pura-pura asyik dengan mainannya agar tidak disuruh tidur, yang terkadang menjadi salah satu kegiatan yang dihindari anak-anak.

Ada Hubungannya dengan Kepribadian?

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan kepribadian ekstrover memiliki frekuensi yang lebih tinggi untuk berbohong daripada individu dengan kecenderungan kepribadian introver. Hal ini dikarenakan seorang ekstrover lebih cenderung untuk lebih banyak menghabiskan waktunya bersama orang lain dan sangat reaktif terhadap lingkungan sosialnya, Bisa jadi seorang ekstrover melakukan kebohongan agar interaksi sosialnya lebih lancar dan menyenangkan. Namun sebenarnya, perbedaan tindakan kebohongan antara ekstrover dan introver tidak terlalu substansial.

Pembohong Maksimal?

Orang yang sudah terbiasa berbohong biasanya akan lebih sulit berhenti menebarkan kebohongan pada orang lain. Perilaku kebohongan berulang tersebut biasanya dikatakan dengan istilah pembohong patologis. Pembohong patologis merupakan gejala dari gangguan kepribadian narsistik. Orang dengan kepribadian narsistik merasa sulit menerima kritik dan tidak ingin menerima penolakan dari lingkungannya.  Seringnya berbohong dapat menjadi salah satu gejala kepribadian narsistik karena mereka tidak memiliki rasa empati pada orang lain. Sehingga ketika berulang kali berbohong, individu narsistik tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain yang dibohongi.

 

***

Meskipun setiap manusia tidak pernah luput dari cela, alangkah baiknya bila kita tidak perlu bersusah payah dan harus berbohong pada diri sendiri ataupun orang lain untuk menjadi pribadi yang bukan diri kita sendiri. Berbohong tak hanya melelahkan, namun kebohongan juga ikut menghilangkan eksistensi kita untuk menjadi diri sendiri dan patut dihargai oleh orang lain.

Previous
Previous

Hati-Hati dengan Kebahagiaan Sementara di Balik Belanja

Next
Next

CURHAT: Saya Kerap Di-bully dan Ingin Kembali Percaya Diri