Resensi : How to Respect Myself

Judul Buku : How to Respect Myself

Pengarang : Yoon Hong Gyun

Penerbit : TransMedia Pustaka

Tahun Terbit : 2020

Jumlah Halaman : xiv, 342 hlm; 14x20cm

Harga Buku : Rp99.000

Sudahkah kamu menghargai dirimu sendiri?

”Proses utama adalah menerima.” Salah satu kutipan kalimat yang menjadi kunci utama pada buku pengembangan diri “How to Respect Myself” karya Yoon Hong Gyun. Buku ini diterbitkan untuk memberi jawaban yang menyejukkan terhadap berbagai pertanyaan dan kebingungan orang-orang yang hatinya terluka. Yoon Hong Gyun menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai seorang dokter kejiwaan yang menangani pasien dengan berbagai keluh kesah, seperti tidak percaya diri, insecure, dan emosi yang tidak stabil. Terdapat juga beberapa pengalaman yang Yoon Hong Gyun alami sendiri ketika melalui proses menjadi seorang dokter sehingga ia dapat menuangkan persepsi baru pada buku ini.

Tujuh Bab

Pada 342 halaman buku ini mengandung tujuh bab, dengan beberapa sub-bab penjelas di setiap babnya. Ketujuh bagian yang ada pada buku ini memuat pengetahuan mengenai cara untuk menghargai, mengenal, dan mencintai diri sendiri.

Bagian pertama akan membahas betapa pentingnya harga diri seseorang dengan mengenalkan tiga pilar dasar harga diri, yakni kebermanfaatan diri, kontrol diri, dan rasa aman. Harga diri dianggap sebagai kadar cinta terhadap diri sendiri. Namun, identitas manusia yang kian sering dibanding-bandingkan dapat berpengaruh besar terhadap harga diri.

Harga diri dalam pola percintaan dan hubungan manusia merupakan isi dari bagian kedua dan ketiga. Tidak percaya diri akan merusak hubungan interpersonal. Oleh karena itu, seseorang perlu memiliki teman dekat yang akan selalu mempercayainya, dan teman terdekat tersebut adalah dirinya sendiri.

Kesendirian akibat perpisahan adalah penderitaan yang dialami oleh semua manusia dan memang dapat menyebabkan kesepian. Akan tetapi, juga dapat membuat seseorang menjadi lebih bebas. Ketika sendirian, kita bisa merawat diri dengan sepenuh hati dan bisa terbebas dari campur tangan orang lain.

Pada bab ini juga dijelaskan mengenai perbedaan antara ingin dicintai versus takut kehilangan cinta; ingin bahagia versus tidak ingin sengsara; dan tulus versus takut pandangan orang. “Mengapa hanya aku?.” . sebuah pertanyaan yang sering hadir serta membuat permasalahan semakin pelik. Sebagai dampaknya, anak muda zaman sekarang harus berlari sambil terus mencari arah.

“Emosi adalah fesyen hati.” Bagian keempat memaparkan tentang perasaan yang menjadi penghambat harga diri. Semakin seseorang tidak bisa mengontrol emosi maka unsur pembentuk harga diri yang positif atau kontrol diri pun akan menurun. Emosi berdasarkan suhu memiliki beberapa tipe, emosi yang sulit diatur meliputi rasa malu, rasa hampa, dan ambivalen. Emosi panas yakni membenci diri sendiri, merasa bersalah, mengasihani diri sendiri, dan narsisme. Sedangkan emosi dingin meliputi kecewa, tak peduli, meremehkan, dan tak tertarik.

Dari berbagai penghambat harga diri tersebut, maka di bagian kelima dan keenam akan disampaikan apa saja hal-hal atau kebiasaan yang perlu dilatih untuk memulihkan harga diri. Hal yang perlu dibuang adalah rasa mudah putus asa, tidak bergairah, rendah diri, gemar menunda menghindar, serta sensitif. Kemudian hal yang perlu ditaklukkan adalah luka, mengatasi hambatan, kritik dan lingkaran setan. Dalam lingkaran setan, terdapat dua hal di dunia ini yang tidak bisa diubah, yaitu orang lain dan masa silam. Selain itu, sifat juga sulit untuk diubah, tak jarang orang mendatangi rumah sakit karena merasa memiliki tanda-tanda Gangguan Kepribadian Ambang (BPD—Borderline Personality Disorder).

Terakhir, bagian ketujuh akan menerapkan lima praktik untuk meningkatkan harga diri. Diawali dengan bertekad mencintai diri sendiri secara buta atau tanpa alasan tertentu, mencintai diri sendiri dengan memupuk rasa percaya kepada diri sendiri, memilih dan memutuskan apa yang tepat untuk dirinya sendiri, fokus dengan ‘kini, di sini’ yang mengacu pada tindakan di masa yang akan datang, dan berhenti bersikap kalah.

Selain memuat tujuh bagian tentang menghargai diri sendiri, buku yang menjadi #1 best seller di Korea Selatan ini juga mengandung 24 latihan untuk meningkatkan kepercayaan diri. Bagian ini bernama “Kegiatan Hari Ini untuk Meningkatkan Harga Diri” yang berisi tentang praktik menulis tentang diri sendiri, mencatat ciri khas diri, menulis hal-hal yang diinginkan, memikirkan tekad yang akan dilakukan, menulis catatan emosi dengan kalimat seru, latihan mengklasifikasi pikiran, peregangan, dan menghafal mantra penghapus sifat sensitif.

Kenyamanan dalam Membaca Buku How to Respect Myself

Gaya Bahasa yang interaktif, halus, dan mudah dipahami dapat membuat pembaca tenggelam dengan keseruan isi buku ini. Meskipun membahas hal-hal yang bersifat personal dan sensitif tetapi dengan strategi pemilihan kata yang apik maka pembaca tidak akan merasa terhakimi. Permasalahan yang diangkat pun berasal dari pengalaman Yoon Hong Gyun sendiri sehingga membuat para pembaca merasa terhubung dengan alur cerita dan dapat memahaminya secara mendalam. Buku How to Respect Myself diharapkan dapat memberi kesempatan kepada pembaca yang merasa kecewa, marah, bingung, atau sedih untuk dapat menegakkan kembali harga dirinya dan menciptakan hidup yang baru.

Beberapa bab yang kemudian dibagi lagi menjadi sub-bab memungkinkan pembaca menjadi kurang memahami isi buku secara mendalam. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya penjelasan tiap bagian. Selain itu, lembar latihan yang interaktif membuat buku ini tidak cocok untuk dibaca dalam sekali duduk atau dengan waktu yang singkat karena pembaca perlu mengisi dan mengikuti langkah-langkah lembar kerja tersebut.

Aku layak dicintai. Jadi wajar kalau ada seseorang yang mencintaiku

Sering kali perpisahan adalah jalan pintas menuju kebahagiaan

Sendirian juga ternyata tidak masalah

Apakah mereka membutuhkanku? Akankah aku diakui?

Beberapa kutipan tersebut akan senantiasa mengingatkan kita untuk tetap fokus pada proses yang kita alami dalam membangun atau menegakkan kembali harga diri. Dengan buku How to Respect Myself, kamu bisa melihat, menyadari, dan memberikan bukti nyata bahwa dirimu bisa bertahan hingga detik ini.

Fadina Zahra

an undergraduate student of Communications Science in State University of Surabaya — commonly known as — Unesa. I spent my time to learn about Development Communications and finding as much social experiences.
I developed my critical mind by writing and reading, whether it was literature or scientific writing. Therefore, I also interested in applying the field of managing language (grammar)—especially Indonesian.

Next
Next

Merasa Bahagia dengan Decluttering Barang