“Di dalam tubuh yang sehat, ada jiwa yang kuat. Begitu juga sebaliknya.”

Anda memiliki teman yang selalu mengeluh sakit kepala atau gangguan pencernaan saat akan maju presentasi di depan kelas? Atau bahkan Anda sendiri mengalaminya? Inilah dia yang disebut dengan psikosomatis. Apakah anda pernah mendengar psikosomatis sebelumnya?

Psikosomatis adalah gangguan psikis yang pada akhirnya membuat Anda merasakan gangguan fisik pula. Psikosomatis terjadi karena seseorang yang memiliki pikiran negatif. Kemudian pikiran negatif tersebut menghasilkan perasaan takut, kecemasan, amarah atau emosi negatif lainnya. Hal ini menyebabkan seseorang turut mengalami gangguan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mengalami psikosomatis kemungkinan diawali dengan kejadian yang membuatnya takut, cemas, grogi, resah atau bahkan stress. Ketika emosi negatif sedang melanda pikiran, tubuh akan merespon dengan cara melepaskan hormon adrenalin, jantung berdebar lebih cepat, timbul keringat lalu akan disusul dengan rasa nyeri di dada maupun di perut.1

Lalu bagaimana Anda membedakan psikosomatis dengan penyakit biasa? Biasanya, gangguan fisik yang disebut psikosomatis seperti itu dirasakan berulang-ulang dan dalam waktu yang lama. Saat seseorang sering merasa mual atau sakit perut saat presentasi,  barangkali itu adalah salah satu tanda bahwa seseorang mengalami psikosomatis. Keluhannya bisa berganti-ganti atau berpindah tempat adalah gejala lain dari penderita psikosomatis. Maka sangat wajar jika penderita psikomatis sering bolak-balik ke dokter untuk memeriksakan dirinya. Tak jarang penderita psikosomatis bisa menyebabkan hipokondriasis, yaitu perasaan bahwa dirinya mengalami penyakit yang serius. Orang dengan hipokondriasis menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit serta nyeri (Barsky dkk, 2001).2

Psikosomatis tidak bisa diobati dengan obat-obatan kimia.  Meski begitu, Anda tak usah khawatir dengan psikosomatis. Penderita psikosomatis bisa sembuh asalkan ada keinginan kuat dan selalu berpikiran positif setiap menghadapi emosi negatif yang ada. Salah satu penanganannya bisa menggunakan hipnoterapi atau terapi behavior-kognitif salah satunya dengan self-talk. Apakah self-talk itu? Self-talk adalah kegiatan berbicara sendiri atau lebih tepatnya berbicara kepada diri sendiri. Self-talk sebenarnya adalah kegiatan yang sangat penting untuk diri kita. Mengapa? Karena apa yang kita ucapkan atau pikirkan akan terpogram ke dalam bawah sadar kita.3

Berbicara kepada diri sendiri atau sering dikenal sebagai self-talk ada yang bersifat positif dan negatif. Contoh yang positif adalah ketika Anda akan melakukan presentasi di depan kelas maka Anda dapat melakukan self-talk dengan cara berdiri di depan kaca atau ketika mengendarai dan berkata, “Aku pasti bisa melakukannya!’’. Sebaliknya, jika Anda berkata bahwa Anda tidak mampu, berarti Anda sedang melakukan self-talk yang bersifat negatif. Anda harus berhati-hati saat melakukan self-talk, jika Anda melakukan self-talk negatif bisa jadi Anda justru akan terkena psikosomatis karena psikosomatis berawal dari pikiran negatif yang melanda diri Anda.


Sumber Data Tulisan

[1] Selengkapnya dapat dibuka pada lama http://www.doktersehat.com/gangguan-psikosomatis

[2] Nevid, Jefrey, dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta. Erlangga

[3] Selengkapnya bisa dibuka pada laman http://www.kompasiana.com/primadi/the-power-of-self-talk-and-affirmation_550adb3da33311cb102e3aac

By: Dzikria Afifah Primala Wijaya

Featured Image Credit: alodokter.com

Total
21
Shares
%d bloggers like this: