Pleasure and Gratification: Hidup Adalah Tentang Memilih Kesenangan dan Memaknai Penderitaan

Manusia memang memiliki kecenderungan mencari hal-hal yang menimbulkan rasa nikmat dan bahagia dalam hidupnya. Bahkan, tidak jarang kita sebagai manusia mengatasnamakan mencari kenikmatan yang sifatnya sementara, tidak menumbuhkan jejak-jejak yang bisa dimanfaatkan untuk jangka panjang. Kenikmatan semacam itu bisa juga berdampak buruk dimasa yang akan datang. Namun, manusia seringkali lalai untuk mengejar nikmat-nikmat semacam ini. Lalu, mengapa demikian?

Martin Seligman, seorang pakar psikologi positif menyebut, perlu pemahaman yang baik mengenai arti kehidupan yaitu kehidupan yang menyenangkan dan kehidupan yang bermakna atau disebut dengan pleasure and gratification.

Pleasure: Kenikmatan yang Seringkali Melalaikan

Kenikmatan memang kita butuhkan, tetapi tidak semua kenikmatan bisa kita prioritaskan. Apalagi kenikmatan yang bersifat sementara. Di era milenial dan wabah kesepian ini, kebutuhan akan sebuah kenikmatan seolah menjadi sebuah kewajiban bagi manusia modern. Pada era ini, kita seakan-akan sangat bergantung dengan aneka kenikmatan yang ditawarkan oleh berbagai macam hiburan. Alhasil kehidupan selalu dihabiskan dengan memikirkan “hiburan apa lagi yang bisa kunikmati?” yang akhirnya membuat kita jauh dari antusiasme aktualisasi diri. Kita terlalu fokus pada bagaimana menciptakan keadaan emosi yang positif dan meminimalkan emosi negatif.

Itulah yang disebut oleh Seligman sebagai pleasure. Pleasure adalah sebuah bentuk kenikmatan yang terdiri atas perasaan-perasaan dasar dan komponen indrawi yang kuat. Ketika hanya perasaan-perasaan dasar yang menjadi penopang, maka ketika rasa tersebut terpenuhi akibatnya kita tidak lagi memikirkan apa yang kita butuhkan setelahnya. Kenikmatan semacam ini seringkali menjadi prioritas kebanyakan orang ketika membutuhkan rasa bahagia dalam waktu singkat.

Fenomena tersebut ibarat memakan es krim dalam porsi yang terus bertambah. Kita tidak akan merasakan kenikmatan yang sama pada es krim pertama dan kedua. Ketika kalori yang kita butuhkan dalam tubuh telah terpenuhi oleh porsi pertama, maka eskrim yang kedua menjadi tidak lagi senikmat eskrim pertama. Hal ini disebut dengan habituasi, dimana apabila sebuah asupan rasa nikmat sudah terpenuhi, maka kita akan butuh dosis nikmat yang lebih tinggi agar kita mampu kembali merasakan kenikmatannya. Ditambah, dalam sebuah penelitian bahwa seseorang seringkali merasakan emosi positif ketika mengalami atau menemukan pleasure yang ia cari. Namun, kehidupan yang bermakna lebih memiliki keterkaitan kuat akan kepuasan hidup daripada kenikmatan (pleasure).

Hidup Bermakna dan Kenikmatan Hidup yang Sesungguhnya (Gratification)

Berbeda dengan pleasure yang merupakan pemenuhan kenikmatan terkait indra atau biologis, gratifikasi lebih kepada pemenuhan kenikmatan dengan kekuatan dan kualitas diri. Untuk mengupayakan gratifikasi, seseorang harus memiliki konsistensi. Tidak jarang seseorang mengalami kegagalan, frustasi, penderitaan karena gratifikasi memang didapat bukan dalam waktu singkat. Itulah mengapa banyak orang yang mengabaikan kenikmatan hidup dalam bentuk gratifikasi. Tidak mudah memang, akan ada banyak tantangan yang nantinya bisa menjadi masa pertumbuhan kita untuk mendewasa.

Baca Selengkapnya Tentang Kegagalan dalam “Memaknai Kegagalan Menjadi Sebuah Cara Aktualisasi Diri”

Gratifikasi lebih menekankan pada kebahagiaan atau kenikmatan hidup yang didapat melalui kegiatan yang kita sukai. Kegiatan tersebut melibatkan tidak hanya perasaan dasar, tetapi juga komponen kognitif dan kemampuan interpretasi. Dengan kata lain, gratifikasi harus melibatkan diri kita secara aktif dan bukan menikmati kenikmatan secara pasif. Menurut Martin Seligman, gratifikasi bisa datang dari bermain voli, membaca buku, pemrograman komputer, memasak dan membantu tunawisma.

Jerome Kagan, seorang ahli psikologi perkembangan mengungkapkan bahwa ketika Amigdala-bagian otak emosional kita-mudah terpicu oleh emosi negatif dan lobus prefrontal berperan menjadi penjaganya, maka lobus prefrontal akan mengenali sinyal-sinyal emosi yang datang dari Amigdala. Artinya, setiap tantangan yang datang berupa pengalaman kegagalan atau keberhasilan, maka akan menjadi database dalam otak kita. Dimana dalam setiap pengalaman tersebut, akan selalu ada emosi-emosi yang menyertainya, sehingga otak akan mampu mengenali pengalaman yang terekam disertai dengan emosi yang kita munculkan pada pengalaman tersebut. Dengan begitu, kita akan akan mengenali respon dan reaksi tubuh kita terhadap suatu peristiwa. Hal ini akan membuat kita lebih familiar pada keadaan tertentu yang berarti kita akan cenderung merasa aman, karena peristiwa tersebut adalah peristiwa yang familiar dengan kita.

Apabila kumpulan interaksi dengan orang lain bisa dijadikan sebagai modal sosial, lalu kumpulan peninggalan yang terwarisi seperti buku dan museum adalah modal kultural, maka kumpulan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan, yang membutuhkan keterlibatan kita (gratifikasi) adalah modal psikologisnya. Dimana pengalaman dari tantangan itulah yang nantinya bisa kita manfaatkan untuk menambah rasa penghargaan diri bagi diri sendiri.

***


Tidak ada manusia yang menginginkan penderitaan dalam hidupnya. Namun, bukan berarti kita diciptakan hanya untuk mencari dan merasakan kenikmatan serta kebahagiaan semata. Inti kebahagiaan hidup bukanlah menjauhi perasaan tak menyenangkan, penderitaan, ketidaknyamanan. Namun, tidak membiarkan perasaan menderita berlangsung tak terkendali sehingga menghapus semua suasana hati yang menyenangkan. Artinya bahwa dalam menjalani kehidupan kita tidak hanya membutuhkan rasa nikmat dan senang, tetapi juga memerlukan sedikit rasa tidak nyaman layaknya khawatir akan kegagalan yang nantinya mampu mengarahkan diri kita untuk selalu berupaya memperbaikinya.

Baca Selengkapnya Tentang Berdamai dengan Rasa Tidak Nyaman dalam “Hidup Adalah Tentang Berdamai dengan Rasa Tidak Nyaman”

Previous
Previous

Pandemi dan Sepi

Next
Next

Self-healing: Sebuah Perjalanan Menyembuhkan Diri