Memaknai Kegagalan Menjadi Sebuah Cara Aktualisasi Diri

Nilai-nilai yang kita pegang menentukan hakikat permasalahan kita, dan hakikat permasalahan kita menentukan kualitas hidup kita.” – Mark Manson

Hidup di dalam kosmos (alam semesta) ini, tentunya akan selalu bersinggungan dengan makhluk hidup lainnya. Tetapi sadarkah bahwa diri kita sendiri adalah aspek terpenting dari hidup ini? Untuk kemudian nilai kehidupan, yang kerap dihiraukan, ternyata adalah suatu tolok ukur terhadap kebahagiaan dan penderitaan yang telah dan akan kita lalui? Berikut adalah salah satu kisah yang tercantum dalam buku pertama Mark Manson dengan judul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

Perjalanan Pemain Drum dalam Mengubah Nilai Kehidupan

Pada tahun 1962, pemain drum dalam kelompok musik beraliran rock dari Liverpool, Inggris dikeluarkan secara tidak resmi tiga hari sebelum rekaman pertama mereka dimulai. Manajer dari band tersebut tidak memberikan alasan apa pun dan hanya menjelaskan bahwa anggota band lainnya menginginkan dia keluar dari grup. Pete Best, pria tampan yang sempat dianggap lebih cocok menjadi wajah dari band yang justru mendepaknya dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Enam bulan pasca kejadian, kelompok musik itu mendapat begitu banyak pujian dengan single pertamanya, Love Me Do.

Kejadian itu cukup membuat Pete Best jatuh dalam kubangan depresi berat. Hingga pada tahun 1965, dia menuntut dua anggota The Beatles atas tuduhan pemfitnahan, proyek musik yang ia rintis mengalami kegagalan, dan percobaan bunuh diri pada tahun 1968. Namun, dalam semua proses yang telah dialaminya dapat dikatakan bahwa Pete Best telah berhasil mengaktualisasikan diri untuk kemudian menemukan nilai kehidupan yang baru. Keberhasilan tersebut dalam psikologi transpersonal dimotivasi dari peak experiences (pengalaman puncak), pengalaman lainnya secara menyeluruh, dan transendensi diri. Mengapa dapat dikatakan seperti itu?

“Saya lebih bahagia sekarang dibanding jika saya masih bertahan di Beatles,” ucap Pete Best dalam suatu wawancara pada tahun 1994. Dia menjelaskan bahwa runtutan kejadian yang membuatnya hampir mati itu menuntunnya untuk bertemu dengan istrinya. Menjadikan nilai-nilai kehidupannya berubah seiring waktu dan pengalaman-pengalaman baru. Menjadi terkenal, dipuja-puja orang, memiliki banyak penggemar di seluruh dunia tentunya adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Namun memiliki keluarga yang penuh cinta, pernikahan yang stabil, dan hidup sederhana adalah hal-hal yang kemudian dia anggap jauh lebih berharga dan membahagiakan.

Itulah mengapa melewati suatu atau beberapa penderitaan dapat menjadi tolok ukur akan nilai hidup seseorang. Tentunya, tidak semua orang dapat melewatinya seperti yang Pete Best lakukan. Tidak semua orang juga untuk pada akhirnya memilih nilai yang baik untuk diri dan lingkungannya sendiri. Nilai penderitaan menjadi salah satu orientasi psikologi transpersonal, yang di mana hal itu berkaitan dengan konsep utama dari studi yang ditemukan pada akhir abad ke-20 ini, yaitu transendensi diri.

Mengenal Lebih Dekat Psikologi Transpersonal

Menurut Shapiro, psikologi transpersonal mengkaji potensi tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman, perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi. Secara umum, psikologi transpersonal membahas lebih jauh perihal spiritualitas dan sampai integritas transpersonal dalam mencapai peak experiences (pengalaman puncak). Namun dalam orientasi nilai penderitaan, hal ini baru sampai pada integritas personal yang mana seseorang telah sadar akan fisik, emosi, dan intelektual diri untuk kemudian memutuskan akan mengubah atau tidak nilai kehidupannya berdasarkan pengalaman yang didapat. Urutan tingkat kesadaran dan fungsi manusia dalam psikologi transpersonal ialah sebagai berikut.

 

Dalam diagram di atas, lingkaran 1 mewakili dimensi fisik dari energi manusia, lingkaran 2 ialah kondisi emosi yang mesti dikendalikan, lingkaran 3 mencakup totalitas pengertian akan kesadaran yang menyangkut pemikiran dan pemahaman, lingkaran 4 mewakili proses integrasi lingkaran 1, 2, dan 3 dalam fungsi harmonisasi dari tingkat pribadi (Mujidin, 2005). Keempat fungsi terluar dari kesadaran manusia inilah yang saling berhubungan, untuk pada akhirnya menciptakan suatu nilai baru dari pengalaman yang telah ditempuh.

Pengalaman Puncak dan Pencapaian Memaknai Kehidupan

Dari kisah Pete Best di atas, dia telah mengalami begitu banyak pengalaman dan salah satunya bahkan berhadapan dengan kematian (near-death experience). Pengalaman tersebut merupakan salah satu bentuk pengalaman religius. Sebuah penelitian menemukan bahwa pengalaman religius dapat mengubah sikap, tujuan, perasaan, perilaku, makna hidup, dan meningkatkan emosi positif.

Dapat dikatakan apa yang telah dihadapi Pete Best dalam perjalanan hidupnya adalah suatu proses aktualisasi diri untuk mencapai pengalaman puncak. Dengan hal itu, dia menemukan pemaknaan hidupnya yang lebih sederhana dan memilih nilai kehidupan yang kemudian membuatnya lebih bahagia. Penelitian dari Panzarella menemukan bahwa setelah melewati pengalaman puncak, seseorang akan memiliki perasaan lebih positif terhadap diri sendiri juga relasi dengan orang lain, ingatan akan pengalaman lebih gamblang, meningkatkan penghargaan terhadap estetika (seni dan keindahan serta tanggapan terhadapnya), dan lebih optimistis. Selain itu, pengalaman puncak juga memberikan perubahan yang dramatis dalam hal penemuan makna kehidupan.

Akhir kata, dapatkah kita menjadikan suatu pengalaman kegagalan sebagai proses aktualisasi diri untuk mencapai pengalaman puncak yang kemudian dapat menentukan atau mengubah nilai kehidupan? Tentu setiap orang dapat melakukannya, termasuk diri kita. Selamat berbahagia!

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Erwanda Ersa. Ia memiliki nama pena Prémí Hévana yang berarti Kekasih Langit. Erwanda Ersa memiliki hobi berorganisasi, berpuisi, dan bertualang. Ia dapat dihubungi di  Instagram dengan nama akun @erwandaersa dan Facebook: Erwanda Ersa

Let others know the importance of mental health !