Akankah Cinta Saja Cukup Untuk Mempertahankan Sebuah Hubungan?

Membahas cinta tentu bukan sesuatu yang aneh, janggal, atau bisa dibilang ini sebagai sesuatu yang biasa. Ya, cinta sangat biasa dibahas dalam berbagai aspek kehidupan atau bahkan dalam bentuk gubahan karya seni. Entah itu lagu, lukisan atau karya seni lainnya. Tetapi pengekspresian menggunakan kata “Aku menyayangimu”, “Aku mencintaimu” atau “I love you” tampak sangat jarang tersampaikan, khususnya di negara kita ini. Negara Indonesia yang mungkin terbiasa dengan budaya untuk memiliki rasa malu, gengsi, dan aneh untuk mengekspresikan perasaan secara terbuka.

Hanya Butuh Modal Cinta Saja?

Di dalam psikologi kita butuh yang dinamakan “reinforcement” atau penguatan. Dalam hubungan tentu hal ini bisa dilakukan melalui kata-kata pengingat yang sederhana, seperti “I love you”. Hal inilah yang membuat kita merasa bermakna, merasa dicintai oleh pasangan dan tentunya kita juga mencintai pasangan kita. Lalu apakah itu saja sudah cukup?

Semakin kita masuk dalam pemahaman, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ya, cinta memang memiliki peran besar dalam pemilihan dan pengambilan keputusan bahwa dialah yang terbaik untuk menjadi pendamping seumur hidup kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Lalu apakah hanya sampai situ peran cinta? Karena terkadang meskipun sudah saling mencintai, ada saja pernikahan yang tak berujung bahagia.

Kemampuan Komunikasi Jadi Hal Krusial

Memiliki argumen, saling berdebat, adu pendapat, berkonflik lalu rujuk kembali adalah hal yang lumrah dalam suatu pernikahan. Namun, akan menjadi sebuah masalah apabila kita sudah saling menghindari dan memiliki keinginan untuk saling menyakiti. Cinta saja tidak akan menyelesaikan permasalahan itu. Tapi, kita perlu memiliki keterampilan khusus untuk mampu mempertahankan sebuah hubungan.

Skill yang dimaksud tentu peran utamanya bisa tersampaikan melalui komunikasi (verbal dan nonverbal). Antara dua orang manusia, dengan dua perkembangan kehidupan berbeda, hingga membentuk dua kepribadian yang berbeda akan menjadikannya memiliki pandangan yang berbeda pula. Ya, mungkin awalnya akan sangat terasa “complicated”. Dua orang harus berusaha menjadi satu. Tapi sebenarnya akan sangat indah bila kita mampu mengkomunikasikan perasaan sayang dan bahkan permasalahan dengan tepat dan baik.

Kemauan Saling Empati Juga Perlu Diasah

Selain komunikasi, perlu adanya kemauan dan keinginan untuk saling berempati. Empati akan mendasari kita dalam proses mengenal kepribadian pasangan hingga proses mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Ya, empati membuat kita akan lebih bisa merasakan pasangan dengan tetap memikirkan jalan keluar. Empati juga membantu kita menyadari situasi saat ini dengan mendengarkan secara aktif dan melihat permasalahan secara keseluruhan. Dengan empati, kita akan belajar melihat sesuatu dari sudut pandang pasangan, yang membantu kita memahaminya dan bukan hanya menyalahkan. Selain itu, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk jujur akan perasaan kita dan mau mengekspresikannya kepada pasangan. Because we are team right!…

—-

Menjalin dan mempertahankan pernikahan atau sebuah hubungan tentunya bukan sebuah hal yang mudah, tapi juga bukan sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Kita hanya perlu memahami bagaimana untuk tidak memperbesar konflik dan berfokus untuk menyelesaikannya. Always be positive and be happy with your partner!

Anda tidak memilih orang yang salah, kita hanya membutuhkan cinta yang cerdas (Sherod Miller PhD, Psikolog)

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Arum Septi Mawarni. Ia lahir di Trenggalek, 27 September 1992. Saat ini Arum sedang mengenyam pendidikan S2 Profesi Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Padjajaran, Bandung. “It’s all about human and life” adalah alasan yang membuatnya menyukai dunia Psikologi. Menjadi bermanfaat baik dan positif adalah makna hidup yang ingin ia impelementasikan. Arum berharap melalui tulisannya, ia bisa saling berbagi manfaat sebagai sesama manusia. Arum dapat dihubungi di E-mailarumawarni@gmail.com dan Instagram @arumawarni

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

Inilah yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Berbahagia

Next
Next

Memaknai Kegagalan Menjadi Sebuah Cara Aktualisasi Diri