Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Cara Tepat Menyampaikan kepada Anak bahwa Ia adalah Anak Adopsi

“Keluarga tidak hanya didefinisikan oleh gen dan keturunan. Namun, dibangun dan dipupuk oleh cinta dan kasih sayang.”

Anak merupakan hadiah terindah yang diberikan Tuhan. Beberapa ada yang mendapatkan rezeki untuk dapat memiliki anak dari darah dagingnya sendiri. Namun dengan berbagai pertimbangan, ada juga yang memilih untuk memiliki anak adopsi. Anak adopsi atau anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan keluarga ke lingkungan orang tua angkat berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan.1

Mengadopsi anak merupakan suatu keputusan yang besar. Orang tua angkat bertanggung jawab dalam perawatan, pendidikan dan membesarkan anak.1 Tidak hanya keinginan pribadi semata, orang tua angkat perlu memastikan bahwa masa depan anak adopsi dapat menjadi lebih baik setelah dialihkan hak asuhnya.

Namun terkadang, asal usul anak adopsi disimpan rapat-rapat oleh orang tua angkat karena diliputi oleh rasa takut. Jika anak adopsi mengetahui identitas aslinya, maka suasana keluarga dikhawatirkan menjadi canggung, anak akan merasa terasing, atau ketakutan orang tua angkat melakukan kesalahan dalam bersikap sehingga akan berdampak pada kesehatan mental anak adopsi.

Tidak perlu khawatir. Berikut cara-cara yang dapat ditempuh untuk memberitahu bahwa ia anak adopsi.

1. Tanamkan pengertian anak adopsi sejak dini

Menurut tokoh psikoanalis, Erik Erikson, anak pada usia 0-18 bulan mengalami perkembangan kepercayaan yang dapat menumbuhkan rasa optimis, kepercayaan diri, dan rasa aman. Dalam tahap ini, orang tua dapat memperkenalkan istilah adopsi melalui berbagai cara. Ketika menimangnya, dapat disisipkan dengan, “Ibu tidak melahirkamu, tapi kasih sayang Ibu tidak akan pernah habis buatmu, nak”. Walaupun anak belum dapat mengerti kata-kata, hal itu akan terekam  dalam memorinya. Sedangkan usia 18 bulan-3 tahun anak mulai tumbuh harga diri dan kemandirian. Pada masa ini ketika anak mulai memahami kata hingga kalimat, bacakan buku cerita edukasi yang mengangkat tema anak adopsi. Hingga usia 3 tahun-5 tahun anak akan mengeksplorasi lingkungan sehingga memiliki banyak pertanyaan. Jawablah pertanyaan dengan dengan jujur dan tidak perlu menceritakan hingga detail. Pada usia emas ini (0-5 tahun), sebaiknya anak diperkenalkan asal-usulnya.

2. Pastikan ia mendengarnya langsung dari mulut Anda

Sekuat apapun mencoba, tidak ada yang bisa mengendalikan suara-suara yang muncul dari lingkungan sekitar. Tetangga yang secara tidak sengaja melontarkan pertanyaan yang menyinggung identitas anak atau teman anak yang mengejek ketika bermain. Ketika hal itu terjadi, anak dapat terguncang dan mempengaruhi emosinya. Kehilangan kepercayaan kepada orang tua angkat hingga depresi dapat mengancam masa depan anak adopsi. Oleh karena itu, sebelum hal tersebut terjadi, beritahula perlahan mengenai asal usul anak. Katakan pada anak adopsi bahwa apapun yang dikatakan oleh orang lain tidak akan mengubah perlakuan Anda kepadanya.

3. Temukan waktu dan kata yang tepat

Perkembangan emosi tiap anak berbeda. Orangtua angkat sebaiknya memperhatikan kondisi kesiapan anak dalam menerima informasi mengenai asal-usulnya. Pastikan ketika membicarakan mengenai proses adopsi, kondisi anak adopsi dan orang tua angkat dalam keadaan yang tenang tanpa adanya kemarahan.

Selain itu, gunakanlah kata-kata yang baik dan sampaikan dengan nada yang lembut seperti orang tua kandung –bukan orang tua asli, Ibu tidak bisa hamil –bukan ibu tidak punya anak, orang tua kandungmu tidak bisa merawat anak ketika itu –bukan orang tua kandungmu tidak bisa merawatmu, orang tua kandungmu merencakan proses adopsi –bukan orang tua kandungmu merelakan/menyerahkanmu untuk adopsi.

4. Bekerja sama dengan orang-orang di sekitar

Menjalin komunikasi dengan orang tua kandung merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar anak tidak melupakan asal usulnya. Kunjungan rutin maupun komunikasi melalui telepon dapat dilakukan. Walaupun tanggung jawab anak telah beralih kepada orang tua angkat, orang tua kandung berhak untuk mengetahui perkembangan anak yang lahir dari darah dagingnya. Informasi mengenai pengadopsian anak tentu saja terdengar oleh kerabat dan tetangga. Sampaikan bagaimana cara Anda akan memberi tahu asal asul anak sehingga mereka tidak melewati batas itu. Ada baiknya Anda berbicara kepada guru yang mengajar anak adopsi di sekolah sehingga guru dapat mengantisipasi materi belajar dan siswa lain dengan pendekatan yang tepat.

5. Berikan dukungan moral

Tantangan dari dunia luar yang akan dihadapi oleh anak adopsi lebih beragam. Orang tua sebagai tempat berlindung bagi anak memiliki peranan penting dalam membentuk karakternya. Kehadiran orangtua secara fisik dan emosional dalam menemani tumbuh kembang anak akan mempengaruhi bagaimana cara anak bersikap. Oleh karena itu, sebagai orang tua angkat yang mengutamakan masa depan anak adopsi sebaiknya meyakinkannya bahwa tidak ada yang salah menjadi anak adopsi serta mendorongnya untuk melakukan kegiatan positif sama seperti anak-anak lainnya.

Mengadopsi anak bukan hanya memindahkan tanggung jawab pengawasan anak. Proses dimulai dari anak tiba di rumah dan mendapatkan curahan kasih sayang dari orang tua angkat hingga bagaimana anak menghadapi tantangan yang ada. Orang tua berperan penting dalam membentuk pola pikir anak dalam bersikap. Menyisipkan aspek kejujuran dalam rumah tangga dapat menjalin hubungan yang harmonis antara orang tua angkat, anak adopsi, serta lingkungan yang ada di sekelilingnya.


Sumber Data Tulisan

1Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak

Tahap perkembangan psikosial manusia menurut Erik Erikson:

http://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

Cara mengasuh anak adopsi:

https://creatingafamily.org/adoption/resources/talking-kids-adoption/

https://www.childwelfare.gov/topics/adoption/adopt-parenting/

Pengaruh orangtua terhadap perkembangan anak: https://my.vanderbilt.edu/developmentalpsychologyblog/2014/05/parental-influence-on-the-emotional-development-of-children/

By: Faizana Izzahasni