Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

CURHAT: Saya Kerap Di-bully dan Ingin Kembali Percaya Diri

Curhat

Saya adalah korban bullying semasa SMP. Menurut saya, sejak di-bully saya mudah merasa kesepian, hingga menjadikan saya pribadi yang lebih tertutup dan pemalu. Bahkan ketika ada orang yang tertawa, saya merasa mereka menertawakan saya. Lingkungan tersebut membuat saya merasa kikuk, dan saya merasa kehilangan kemampuan komunikasi saya. Ketika saya berbicara dengan lawan bicara, saya sering merasa panik dan tegang. Seluruh tubuh saya berkeringat.

Bukan hanya di sekolah, di rumahpun saya memiliki orang tua yang berwatak keras, tidak mau mendengarkan pendapat anak, dan selalu menganggap bahwa sayalah yang bersalah. Tak hanya itu, mereka membanding-bandingkan saya dengan orang lain, yang membuat saya enggan untuk menceritakan apa yang terjadi. Mereka sering berteriak, bertengkar, membentak di depan saya. Alhasil, saya menjadi orang yang lebih tertutup. Saya sering mengurung diri di kamar dan menangis untuk mendapatkan ketenangan. Tapi sering orang tua memaksa masuk kamar saya dan bilang “Ini rumah, bukan kos-kosan, jangan suka kunci-kunci kamar”. Suatu hari saya mendengar ibu saya berkata ke adik saya “Kamu kalo jadi orang jangan kayak itu” (sambil menunjuk ke kamar saya, karena di kamar saya ada jendela). Dari situ saya pikir, seburuk itukah saya sebagai seorang anak? Di-bully di sekolah, masih harus menghadapi orang tua yang seperti itu.

Di keluarga besar pun saya dianggap orang yang pendiam. Setiap kali ada acara kumpul keluarga, sayalah yang paling sering jadi bahan tertawaan karena saya pendiam. Mereka selalu menyuruh saya “Ayo ngomong! Hei suara kamu kemana?!” Buat saya hal itu justru membuat saya makin enggan untuk berbicara. Selain pendiam, saya juga enggan untuk berfoto bersama keluarga, karena dari foto itu, pastilah saya yang selalu jadi bahan untuk dibicarakan. Pernah saya terpaksa berfoto dengan mereka, dan mereka bilang “Wah kamu senyum”, dan sekali lagi, itu membuat saya enggan untuk foto.

Masalah lain adalah saya kurang antusias terhadap suatu hal. Suatu hari, saya tertarik untuk mempelajari gitar, tapi ketika saya sudah beli gitar, minat saya hilang begitu saja, dan hal itu sering membuat saya ragu untuk memulai suatu hal yang baru dan positif. Akhir-akhir ini saya sadar, kalau komunikasi itu penting untuk mencegah adanya kesalah pahaman. Kitapun pasti butuh orang lain. Maka perubahan yang paling saya harapkan adalah saya bisa menjadi pribadi yang lebih percaya diri, lebih tenang, berpikiran positif, dan setidaknya mampu berkomunikasi dengan baik.

Gambaran: Laki-laki, 18 tahun, Pelajar

Jawaban Pijar Psikologi

Terimakasih atas kepercayaan kamu untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Luka akibat bullying itu masih sangat membekas dalam dirimu, ya. Saya memahami bagaimana pengalaman tersebut membuatmu enggan untuk berinteraksi dengan orang lain. Menakutkan sekali ketika kamu tidak mengetahui apa yang orang lain pikirkan. Dengan apa yang sudah kamu alami, sangat wajar apabila kamu merasa tidak aman di sekitar orang lain dan berpikir bahwa mereka akan menyakitimu.

Ketahuilah, kamu tidak pantas untuk mendapatkan semua perlakuan buruk yang telah kamu terima. Kamu mungkin merasa sedih, tidak berguna dan tidak berharga sehingga akhirnya kamu menyalahkan dirimu sendiri karena tumbuh menjadi menjadi pribadimu saat ini. Percayalah meskipun saya tidak mengenalmu, saya tahu kamu memiliki sesuatu yang bisa membuatmu bangga. Mungkin hal itu belum kamu temukan saat ini. Namun, suatu hari nanti kamu akan menemukannya jika kamu tidak berhenti berusaha.

Dalam ilmu Psikologi, ada teori tahap perkembangan dari Erik Erikson. Melihat usiamu sekarang, kamu berada dalam masa perpindahan antara tahap remaja (12-18 tahun) dan dewasa muda (19-35/40 tahun). Ada tugas perkembangan yang harus dilalui pada setiap tahapannya agar dapat melalui tahapan tersebut dengan baik. Tugas perkembangan pada masa remaja adalah mencari identitas diri dan mencoba untuk beradaptasi dengan kelompok tertentu yang membuatmu merasa nyaman. Dengan apa yang sudah terjadi, saya rasa masih sulit bagimu untuk menemukan identitas dirimu, apa yang kamu mampu untuk lakukan, peran apa yang paling cocok untukmu, dan di lingkungan mana kamu merasa mudah berbaur. Hal ini akhirnya membuat dirimu merasa tidak berharga dan bingung karena menurutmu kamu tidak bisa masuk dalam lingkungan manapun. Ditambah pula dengan kondisi orang tua yang seperti kurang memberikan dukungan untukmu di rumah, kamu benar-benar seperti sendirian di dunia ini dan tidak punya tempat untuk kembali atau sekedar menumpahkan perasaanmu. Menurut teori tersebut, kamu akan mampu beradaptasi ketika tugas perkembangan yang harus dilalui itu berhasil diselesaikan. Tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikannya sehingga kamu bisa memulainya dari sekarang. Kamu bisa memulainya dengan mencari lingkungan yang benar-benar membuatmu nyaman meskipun saya tahu menurutmu hal itu mungkin sangat sulit untuk dilakukan.

Hai kamu, adakah suatu kegiatan yang kamu suka atau tertarik untuk lakukan? Sesuatu yang mungkin sangat membuatmu bersemangat namun sudah lama tidak kamu lakukan atau sesuatu yang membuatmu tertarik untuk mempelajari (misalnya bermain gitar)? Mulailah melakukan sesuatu dari apa yang kamu sukai karena hal itu pasti akan membuatmu sangat bersemangat dalam melakukannya. Tidak apa-apa jika di tengah jalan motivasimu turun namun, cobalah untuk terus melakukan hal itu. Ketika kamu bisa melakukan sesuatu yang kamu sukai dengan baik, hal itu akan membuatmu bangga dan akan membantumu memiliki rasa percaya diri yang lebih besar. Dari kegiatan itu pula, kamu mungkin akan menemukan orang-orang dan lingkungan yang sangat cocok bagimu. Dari situ, kamu mulai bisa untuk belajar mempercayai orang lain dan berkomunikasi lagi dengan lebih baik. Luka karena mengalami kejadian yang sangat buruk mungkin memang tidak akan pernah terlupakan namun, hal itu juga tidak boleh menghambatmu untuk meraih masa depanmu. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik dan pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Terima kasih sudah bisa bertahan hingga saat ini.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.