Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

CURHAT: Saya Merasa Tidak Harmonis Lagi dengan Istri yang Saya Nikahi Selama 22 Tahun

Curhat

Saya adalah seorang suami dan ayah 5 anak. Saya sudah menikah dengan istri saya selama 22 tahun. Selama kurun waktu tersebut, saya merasa ada berbagai hal yang membuat pernikahan kami kurang harmonis. Saya merasa tidak ada kecocokan antara saya dengan istri. Seringkali kami cekcok karena berbagai masalah rumah tangga. Setiap kali saya memberitahu istri saya, ia hanya akan berubah dalam beberapa waktu. Seterusnya, ia pun kembali pada kebiasaannya yang lama. Rumah selalu saja berantakan, tidak bersih dan rapi. Istri saya juga tidak melayani saya sebagai suami dengan baik. Saya merasa tidak dihargai.

Perlu saya sampaikan bahwa anak kami yang ke-4 mengalami ketidaksempurnaan secara fisik. Namun, terlepas dari itu, dia adalah anak yang hebat dan cerdas. Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan adalah istri saya adalah bungsu dari 7 bersaudara yang dulunya berasal dari keluarga kota. Dia kurang memahami tentang kebersamaan dan kepeduliaan seperti seharusnya keluarga yang harmonis.

Akhir-akhir ini saya merasa sudah tidak kuat lagi, rasanya ingin berpisah dari istri. Namun, saya teringat dengan kelima anak saya. Walaupun mereka telah beranjak dewasa, tetapi saya tetap memikirkan bagaimana nasib mereka apabila orang tuanya bercerai. Saya sangat bingung dengan kondisi rumah tangga yang tidak harmonis seperti ini.

Saya mohon bantuannya.

Gambaran: Laki-laki, 47 Tahun, Pegawai Negeri Sipil.


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaan Bapak untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Salam sejahtera, Pak. Semoga Bapak dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak mudah pastinya bagi Bapak untuk menghadapi permasalahan yang terjadi dengan pernikahan Bapak. Bapak mungkin merasa jenuh menghadapai kesulitan dalam mengajarkan kepada seseorang yang selama ini Bapak sayangi, agar ia mau berubah dan memahami apa yang diharapkan oleh Bapak selaku suami.

Rasa muak terhadap pasangan mungkin seringkali Bapak rasakan. Muak karena melihat sikapnya yang terkesan acuh, atau penampilannya, reaksinya, ekspresinya, bahkan wajahnya. Dua puluh dua tahun tentu bukanlah waktu yang singkat untuk dapat saling memahami pasangan. Bapak mungkin sudah  seringkali memberikan masukan dan nasihat kepada istri mengenai hal-hal yang Bapak sukai dan tidaksukai. Namun, rasanya masih saja pasangan keras kepala dan tidak berubah seperti yang Bapak harapkan. Berubah dalam beberapa waktu mungkin iya, tapi seterusnya akan kembali lagi ke watak semula. Rasanya istri menjadi orang yang keras kepala sekali, masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Memutuskan untuk berpisah tentu tidaklah mudah baik bagi Bapak maupun istri. Penyesuaian dengan istri nyatanya tidak hanya membutuhkan waktu yang lama, tetapi juga memiliki harga lainnya, yaitu rasa kecewa. Tidak apa, Pak. Memang seperti itulah harga dari rasa kasih dan sayang yang Bapak miliki untuk sebuah kebersamaan. Saat Bapak menginginkan sesuatu dari Ibu, artinya Bapak memiliki harapan kepada istri. Hal itu menandakan bahwa Bapak optimis bahwa istri dapat memenuhi keinginan Bapak. Kekecewaan yang Bapak rasakan menandakan nilai harap yang tidak kunjung terjadi.

Seperti cerita Bapak, istri berasal dari keluarga yang berbeda dengan Bapak. Hal ini tentu membawa perbedaan pula dalam hal kebiasaan, nilai dan norma dalam berkeluarga. Pastinya tidak mudah untuk beradaptasi dan mengubah hal itu. Berbeda pendapat, pandangan dan juga tujuan mungkin mewarnai perselisihan yang terjadi. Hal itu adalah kondisi yang wajar pada pasangan.

Dalam cerita yang Bapak, kami menangkap sebuah kebingungan yang Bapak alami, terutama untuk memilih melanjutkan pernikahan atau menyudahinya. Kami pun menangkap hal lain dari cerita Bapak bahwa Bapak pun sebenarnya masih ingin mempertahankan hubungan pernikahan. Kami yakin bahwa Bapak pasti mengharapkan yang terbaik untuk kelangsungan rumah tangga, terutama untuk mencapai kenyamanan, ketentraman dan keberkahan dalam pernikahan.

Bapak boleh mempertimbangkan kembali hubungan pernikahan bapak dengan istri. Untuk itu, kami membantu Bapak untuk mengidentifikasi akar permasalahan dalam rumah tangga yang sedang Bapak hadapi dengan mencoba melengkapi pertanyaan berikut ini.

Rasanya sulit sekali ketika cekcok di rumah tangga terjadi, saya biasanya mengatakan …………… kepada istri saya. Biasanya istri saya menjawab ………

Saya sulit untuk menerima apa yang dikatakan istri, terutama saat istri bilang ……………… yang saya lakukan apabila saya benar-benar marah pada istri adalah ………………… Setelah percekcokan biasanya saya dan istri tidak bicara (hal lain) selama ………………hari.

Kami berbaikan karena …………

Baca juga: Pernikahan dan Kesehatan Mental Tema yang Jarang Dibicarakan di sini.

Dalam pernikahan, dua insan selalu saling terlibat dan terikat. Tidak ada yang benar dan salah dalam hubungan pernikahan, yang ada hanyalah tepat dan kurang tepatnya kunci dalam menjalankan pernikahan tersebut. Kunci pernikahan dalam berkeluarga itu adalah komunikasi, komitmen, kepercayaan, dan pengasuhan. Kunci pernikahan tersebut tentu pelru dijalankan dengan serius agar tidak terjadi perselisihan atau kesalahpahaman. Hal terpenting yang memainkan peran besar dalam menangani perselisihan atau kesalahpahaman adalah komunikasi. Melalui komunikasi yang baik dengan pasangan, maka kualitas hubungan pernikahan akan baik pula. Adapun cara berkomunikasi yang baik adalah melalui pemilihan bahasa yang tepat dalam menyampaikan sesuatu. Beberapa contoh, yaitu:

  1. Melibatkan orang yang diajak berbicara di dalam pembicaraan. Misalnya saja: Aku merasa bahwa kamu …………..

  2. Mengapresiasi hal yang telah dilakukan oleh orang tersebut. Misalnya saja: Aku merasa bahwa kamu sudah berjuang untuk mengurus rumah dengan baik ………………….

  3. Menyampaikan harapan yang Bapak inginkan untuk istri dengan kalimat yang memiliki kesan lebih positif. Misalnya saja: Aku merasa bahwa kamu sudah berjuang untuk mengurus rumah dengan baik, hal lain yang aku inginkan dari kamu adalah kamu dapat melayaniku dengan baik juga.

  4. Memberikan kalimat harapan yang mudah dilakukan oleh orang tersebut, bukan hanya abstrak saja. Misalnya saja: Aku merasa bahwa kamu sudah berjuang untuk mengurus rumah dengan baik. Hal lain yang aku inginkan dari kamu adalah kamu dapat melayaniku dengan baik juga, misalnya waktu aku pulang, rambut kamu sisir dan wangi.

Merumuskan bahasa untuk disampaikan ke pasangan memang tidak mudah. Hal ini akan membutuhkan usaha untuk menjadi kebiasaan yang terus dilakukan agar pasangan tidak tersakiti, apabila kita hendak memberikan masukan/nasihat kepada pasangan. Sebab, bisa jadi pemilihan bahasa yang kurang tepat menyebabkan kesalahpahaman diantara pasangan. Bisa jadi komunikasi tersebut membawa kesan menyerang, mengintimidasi atau merendahkan pasangan. Bapak tentu bisa mencoba merumuskan hal yang Bapak ingin sampaikan kepada istri dengan prinsip yang telah kami jabarkan sebelumnya.

Apabila Bapak merasa membutuhkan konsultasi terkait hubungan pernikahan, Bapak bisa berkonsultasi dengan psikolog atau pun pemuka agama yang sangat memahami pernikahan untuk meminta nasihat/pandangan terhadap kondisi pernihakan Bapak sekarang. Tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan dari mereka-mereka yang sudah ahli, profesional, atau yang ekspert dalam hal pernikahan. Dengan meminta bantuan, bukan berarti Bapak lemah, sebaliknya itu justru membuktikan bahwa Bapak adalah pribadi yang kuat. Bapak kuat karena terus mengusahakan bagaimana caranya menjalankan hari-hari Bapak dengan nyaman.

Pernikahan adalah penyatuan dua manusia. Sudah sewajarnya apabila pernikahan adalah tentang keterlibatan dua manusia. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dimusyawarahkan, dikomunikasikan bersama. Semuanya adalah untuk kebaikan bersama. Namun, apabila dalam prosesnya ternyata menyakiti salah satu atau keduanya, maka  memaafkan dan memperlebar spektrum penerimaan adalah kuncinya. Ingat kembali tujuan awal ketika menikah, kami yakin bahwa niatan awal sebuah pernikahan adalah cinta. Semoga cinta yang sama memberikan Bapak keudahan menuju keluarga yang harmonis.

Terima kasih telah berbagi.

 

Salam,

PijarPsikologi