Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

CURHAT: Saya Tidak Berani Memiliki Keinginan untuk Menikah

Curhat

Saya nggak begitu yakin, tapi rasanya saya memiliki sedikit kecemasan berlebih terkait self-esteem yang kemudian berhubungan dengan masalah percintaan. Saya mudah hanyut dalam pikiran-pikiran tentang masa depan. Saya bahkan sudah merencanakan karir, pendidikan dan investasi masa depan saya meskipun masih duduk di bangku perkuliahan. Tentu sebagai manusia, sudah menjadi naluri untuk memiliki keinginan menikah dan melanjutkan keturunan. Sayangnya, entah kenapa saya tidak berani membayangkan sebuah pernikahan dalam hidup saya. Saya merasa pernikahan adalah sesuatu yang sulit saya jangkau.

Karena itu, beberapa malam ini sebelum tidur saya sering kepikiran dan berujung menangis tanpa sebab jelas. Ada banyak alasan kenapa saya tidak berani memiliki keinginan menikah. Pertama, saya merasa diri saya tidak menarik. Saya pribadi memiliki self-love yang cukup tinggi, namun saya juga sadar jika menurut standar orang kebanyakan, penampilan saya tidak menarik sama sekali. Kulit saya gelap dan saya mencoba berdamai dengan kenyataan itu. Tapi setiap saya mencoba untuk lebih percaya diri, teman saya yang cantik dan memiliki kulit terang selalu mengatakan kalau dia semakin jelek ketika kulitnya menggelap sedikit karena aktivitas outdoor.

Dari situ terkadang yang membuat saya sadar kalau menurut standar kebanyakan, fisik saya tidak menarik. Kepribadian saya pun, meskipun saya nyaman menjadi diri saya sendiri, mungkin bagi banyak orang tidak terlalu baik. Saya cenderung ceria, cukup bisa menempatkan diri, tapi saya tidak bisa memaksakan diri menjadi perempuan kalem yang dewasa. Saya merasa laki-laki yang baik akan mencari perempuan baik dan saya tidak sebaik itu. Sementara itu, laki-laki kebanyakan akan mendahulukan penampilan fisik lebih dulu. Saya ragu tentang apakah suatu hari akan ada laki-laki yang mau dengan saya.

Untuk menghibur diri, saya sering meyakinkan diri bahwa saya akan tetap baik-baik saja meskipun hidup sendiri sampai tua. Yang kedua, meskipun kehidupan pernikahan orang tua saya relatif baik-baik saja dan minim masalah serius, tapi saya merasa ada masalah komunikasi kecil tapi penting. Ayah saya sering mengesampingkan pendapat ibu saya di banyak hal (tidak di semua hal, sih). Untung saja ibu saya memang orang penyabar. Nah, saya merasa saya tidak akan bisa seperti ibu saya. Meskipun masalah itu belum tentu dialami oleh semua orang, tapi saya seperti tidak akan pernah siap untuk memiliki hubungan yang membuat saya makan hati entah karena persoalan apapun.

Selain itu, saya merasa setiap hubungan menantu-mertua, senormal apapun, pasti akan tetap ada konflik meskipun tidak ditunjukkan secara frontal. Apalagi dengan banyak bermunculan kasus pelakor, maupun kasus-kasus perceraian yang dialami tetangga atau kenalan, walaupun tidak dialami keluarga saya, tapi mendengar kasus-kasus itu membuat saya cemas dan takut hingga merasa skeptis dengan pernikahan. Kalau menurut teman saya, pemikiran saya ini cukup berbahaya karena menyalahi agama dan kodrat. Tapi mau bagaimanapun saya mengatasi pemikiran-pemikiran itu, ketakutan saya semakin terasa nyata. Saya ingin bisa mengatasi ketakutan-ketakutan itu.

Jika memang saya tidak ditakdirkan untuk menikah, setidaknya saya ingin menghilangkan ketakutan-ketakutan saya terhadap pernikahan. Ngomong-ngomong, sebenarnya saya juga memiliki keinginan untuk menikah, tetapi keinginan itu selalu kalah dengan ketakutan-ketakutan yang muncul, ketakutan-ketakutan bahwa pernikahan saya nanti tidak akan berjalan lancar. Berhubung saya masih mahasiswa, tentu pemikiran tentang pernikahan ini terasa terlalu dini. Tapi saya berpikir kalua bisa diatasi lebih awal, tentu lebih baik.

Terima kasih karena sudah diijinkan untuk bercerita.

Gambaran: Perempuan, 20 Tahun, Mahasiswa

Jawaban Pijar Psikologi

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Rasanya begitu khawatir ya kamu ketika dihadapkan dengan segala ketidakpastian di masa depan. Kadangkala cemas rasanya jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, atau bahkan ada rasa takut jika nantinya akan merusak ekspektasi orang lain. Padahal, kamu ingin sekali rasanya berdamai dengan segala kekhawatiran, kecemasan, atau katakutan tersebut, agar dapat lebih percaya diri dalam menjalani setiap aktivitas. Namun sebelum saya membahas secara lebih detil, saya benar-benar menghargai kemampuanmu menayadari segala perasaan yang masih bercampur aduk tersebut, dan bisa bertahan hingga saat ini. Sekalipun kamu merasa bahwa berpikir akan masa depan terutama dalam menjalin rumah tangga, dapat dibilang terlalu dini, namun saya dapat melihatnya sebagai suatu persiapan yang baik karena siapapun tentunya menginginkan masa depan yang cerah.

Tidak ada yang pasti di dunia melainkan ketidakpastian itu sendiri.

Dalam setiap momen kehidupan, tidak dipungkiri bahwa seseorang akan menghadapi pasang dan surut. Terkadang kita akan merasa bahagia, semangat, atau ceria dalam situasi tertentu, namun seketika bisa jadi kita akan merasa sedih, kecewa, ataupun kehilangan hanya dikarenakan pemantik kecil. Jika diperbolehkan, siapapun ingin rasanya mengontrol keadaan sesuai dengan yang diinginkan, “​Karena apa?”​,sebab hal ini akan membuat kita merasa lebih yakin, percaya diri, dan siap untuk setiap masalah yang terjadi.

Begitu pula halnya saat kamu mencemaskan masa depan terlebih dalam urusan percintaan. Jika diizinkan, ingin rasanya meminta kepada Tuhan agar diberi kejelasan, “​siapa sebenarnya yang akan menjadi pendampingku di masa depan?”, “akankah ia akan menerima ku apa adanya?”​. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di dalam pikiranmu. Akan tetapi, jika kamu bersedia, cobalah bayangkan sejenak jika saat ini kamu sudah tahu tentang segala sesuatu yang telah diatur oleh-Nya. Lalu rasakan di dalam diri, mana yang lebih terasa nyaman antara:

  • Saat kita berada di situasi yang penuh dengan rahasia, dibandingkan dengan

  • Kita selalu tahu tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mungkin awalnya, pilihan 2 akan terasa nyaman untuk seketika, tapi bayangkan jika kita terus menerus dipaparkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui sebelumnya. Sama halnya seperti menonton film, mungkin untuk 1 atau 2 film, rasanya nyaman jika sudah tahu bagaimana endingnya. tetapi bagaimana jika kamu sudah mengetahui akhir dari setiap film yang akan kamu tonton, ​di mana lagi letak kenikmatan dari menonton film?​

Selain itu, saya ingin kamu menjawab di dalam hati akan satu pertanyaan ini, “​Apakah Tuhan pernah bermaksud untuk menciptakan makhluknya sebagai sosok yang tidak menarik​?”. Petanyaan seperti ini dimaksudkan agar kita dapat memberikan sedikit waktu untuk melihat diri kita secara utuh. Tinggi badan, warna kulit, besar kecilnya bola mata adalah bagian dari tubuh kita yang pada dasarnya tidak memiliki keterkaitan apapun dengan sifat tertentu.

Pada sebagian budaya, warna kulit gelap diidentifikasi sebagai sosok wanita yang menarik, namun berbeda halnya dengan budaya lain. Hal ini yang dalam ilmu psikologi disebut dengan skema. Skema adalah proses di dalam pikiran yang membantu seseorang untuk menginterpretasi, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia sekitarnya. Skema ini pun dipengaruhi oleh persepsi/pandangan. Oleh sebab itu, kita dapat mengetahui bahwa penilaian ataupun sikap seseorang terhadap kita merupakan pengaruh dari skema yang mereka miliki. Tentu saja, kita tidak dapat mengatur skema orang lain, begitu pula mereka terhadap skema kita.

Hal yang perlu dilakukan adalah ​mencintai dan menjadi diri sendiri​. Sebagaimana Be U di dalam kata beautiful, berarti bahwa cantiknya seseorang tergantung pada kemauannya untuk menjadi diri sendiri. Saya sangat salut dengan kemampuan kamu dalam mengetahui kelebihanmu yang ceria, bisa menempatkan diri, dan tidak ingin memaksakan diri untuk menjadi seperti kebanyakan wanita lainnya. Karena hal itu pula kamu dicintai oleh orang-orang di sekitarmu.

Bolehkah diri ini menikmati setiap proses dan bersyukur?

Di luar dari pembahasan di atas, hal yang terpenting adalah sudahkah kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati setiap proses yang kita alami serta bersyukur? Kita ingin selalu bahagia, namun tidak bisa selalu merasakannya. Namun kita bisa menikmati setiap momen yang kita jalani. Bagaimana jika aku merasa cemas? Cobalah katakan kepada cemas, “​Hai cemas, aku mengizinkanmu berada di dalam diriku.. aku menerimamu, dan aku mencintaimu.. Namun setelah ini izinkan aku ya untuk bertemu dengan ketenangan, agar kita bisa sama-sama menjalani hari ini dengan bahagia ​☺​“

Tidak lupa juga bersyukur akan setiap kenikmatan yang kamu rasakan, sekalipun udara yang kamu hirup, jalanan yang kamu tempuh setiap hari, serta orang-orang yang kamu temui. Karena kamu tidak akan pernah tahu apapun yang terjadi di masa mendatang, maka mulailah bersahabat dan mensyukuri masa sekarang. Percayalah, setiap momen yang kamu syukuri saat ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah kamu sesali di masa depan.

Di samping poin-poin diatas, saya telah menuliskan beberapa pilihan yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi permasalahan yang sedang kamu alami.

  1. Berlatih mengelola emosi dan pikiran yang menyertainya agar dapat membiasakan diri untuk berpikir positif. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan melakukan relaksasi sederhana. Ketika pikiran-pikiran yang mengganggu tersebut muncul (seperti ketakutan akan masa dengan, berpikir bahwa orang lain akan memandang diri ini rendah), kamu dapat mencoba mengikuti langkah-langkah dibawah ini:

  • Ambillah posisi duduk yang nyaman disekitar tempat kamu sedang beraktivitas.

  • Hadirkan dirimu sepenuhnya untuk melakukan relaksasi, dan apabila telah siap silahkan pejamkan mata dan mulailah menarik ​nafaspanjang dan dalam, lalu hembuskan perlahan.. (lakukan sebanyak 3 kali).

  • Fokuskan perhatian kedalam diri dan sadari setiap aliran udara yang mengalir kesekujur tubuh..Kini bernafaslah seperti biasa

  • Apabila kamu sudah dapat fokus dan memiliki kontrol penuh terhadap diri, mulailah mengucapkan hal-hal positif (boleh diucapkan di dalam atau diluar hati) kepada diri kamu. Contoh: “Aku mampu mengatasinya, Aku siap menghadapi apapun yang terjadi, Semua akan berjalan baik-baik saja, orang-orang mencintai aku apa adanya.”

  • Ulangi secara terus menerus hingga kamu merasa tenang dan perlahan-lahan gerakan jari-jari tangan dan kaki sambil membuka mata.

  • Kamu juga dapat melakukan relaksasi sambil diiringi musik instrumental seperti contoh yang saya berikan berikut.

    2. Selipkan harapan-harapan positif dalam setiap doa agar diberikan masa depan dan rumahtangga seperti yang diharapkan. Sekalipun nantinya menemukan konflik, tapi yakinkan pada diri kamu bahwa

“Rumah tangga yang ​sehat bukan lah rumah tangga ​tanpa masalah​,rumah tangga yang ​sehat adalah rumah tangga yang ​mampu bangkit dan menyelesaikan masalah.”

Sehingga mintalah kepada-Nya untuk senantiasa diberikan kekuatan untuk terus bangkit dan menyelesaikan masalah-masalah di masa kini maupun mendatang.

Harapannya, melalui sedikit informasi dan masukan-masukan yang saya berikan di atas, kamu dapat lebih percaya diri melalui penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri, sehingga kamu tidak terlalu terganggu oleh pendapat orang lain. Saya percaya bahwa kamu adalah wanita yang mampu untuk menemukan potensi dan kelebihan yang kamu miliki sehingga dapat menjadi diri sendiri. Tetap semangat ya.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi