Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Di Balik Tren Memilih Makanan sebagai Bagian dari Gaya Hidup

“Ini adalah pilihan kita, Harry, yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, lebih jauh dari kemampuan kita sendiri.” (J.K. Rowling, Harry Potter and The Chamber of Secrets)

Akhir-akhir ini teman-teman Anda mungkin melakukan beberapa perubahan pada pola makannya. Tiba-tiba saja mereka mulai tidak mengkonsumsi nasi sebagai bahan makanan pokok dan menggantinya dengan kentang, jagung, atau sayur-sayuran. Mungkin teman Anda juga hanya memakan sayur dan daging saja akhir-akhir ini, hanya makan 1-2 kali sehari, atau mengganti minumannya dengan infuse water, atau oxygen water. Mungkin bukan teman Anda saja yang melakukannya, tapi Anda juga mengalaminya. Lalu, apa sebenarnya yang perlu kita ketahui dari pilihan makan yang kita konsumsi sehari-hari?

Tiap orang mempunyai selera makan yang berbeda-beda dan hal ini bisa mempengaruhi pilihan mereka pada makanan. Konteks sosio-kultural juga mempengaruhi penilaian kita dalam memilih makanan. Sayangnya, makanan yang kita konsumsi terkadang mengesampingkan fungsi dari nutrisi utamanya. Makanan yang dikonsumsi lebih banyak menggambarkan tentang budaya dan gaya pola makan kita mengikuti sebagian besar masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh pengaruh global dan cepatnya perkembangan tren saat ini. Banyak informasi-informasi khususnya melalui internet tentang konsumsi makanan yang sehat, pantangan dalam pola makan, sampai pengaruh jenis makanan tertentu terhadap bentuk tubuh. Apalagi fenomena untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal sedang marak akhir-akhir ini. Keinginan untuk mendapatkan tubuh ideal menjadi salah satu faktor orang menjaga pola makannya, entah itu untuk mempertahankan kesehatan atau hanya mengikuti tren saja.

Stigma dalam memilih makanan pun muncul dalam masyarakat, seperti jenis makanan yang dianggap ‘feminin’ yaitu makanan dengan porsi kecil seperti salad. Sedangkan jenis makanan yang dianggap ‘maskulin’ adalah makanan dengan porsi lebih besar seperti sandwich daging. Menurut seorang dokter di Pennsylvania, Basow, dan Pelatih Kesehatan Austin, Kobrynowicz dikutip dalam Conner dan Armitage, wanita yang makan dengan porsi kecil mendapat persetujuan sosial yang lebih tinggi daripada saat mereka makan dengan porsi makan yang lebih besar. Makanan seharusnya membuat kita merasa lebih baik. Jika Anda makan terlalu sedikit atau terlalu banyak, hal itu akan mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup Anda. Justru, hal ini yang menyebabkan perasaan negatif terhadap makanan dan keinginan untuk mengubah kebiasaan makan tersebut.

Banyak orang menggunakan makanan sebagai mekanisme penanganan stres (coping mechanism) untuk mengatasi perasaan stres, kebosanan, dan kecemasan, ataupun mempertahankan perasaan bahagia. Sayangnya, hal itu mengatasi masalah untuk jangka pendek saja. Makan untuk meredam perasaan sering menimbulkan perasaan penyesalan dan meningkatkan perasaan negatif. Bahkan lebih jauh lagi, Anda bisa menambah masalah self-image (citra diri) dengan bertambahnya berat badan.

Menurut beberapa ahli, orang cenderung mengubah kebiasaan mereka karena terancam dengan penyakit tertentu. Sebagian orang memerlukan beberapa petunjuk untuk mengambil tindakan dalam mengubah kebiasaan atau membuat keputusan terkait kesehatan mereka. Selain itu ada beberapa teori yang menjelaskan kebiasaan seseorang berasal dari tiga hal yaitu sikap, persepsi tekanan sosial untuk melakukan suatu perilaku, dan kontrol yang dirasakan atas perilaku tersebut.

Nah, cara kita dalam memilih makanan yang dikonsumsi menunjukkan budaya dan gaya hidup kita. Sebagian orang mengikuti tren pola makan sehat mengacu pada kebutuhan fisik. Namun, tidak jarang juga penilaian dan stigma dari masyarakat mempengaruhi psikologis kita untuk melakukan hal yang sama. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pilihan makanan yang kita konsumsi tetap terjaga keseimbangan gizinya. Jadi, pilihlah dengan cermat tergantung kebutuhan tubuh Anda ya!


Referensi:
Conner, M. & Armitage, C. 2002. Applying Social Psychological: The social psychological of food.
Dr. France Bellisle. 2006. The determinants of food choice. EUFIC. http://www.eufic.org/en/healthy-living/article/the-determinants-of-food-choice
Gaby Pfeifer. 2009. Factors in food choice. The British Psychological Society. https://thepsychologist.bps.org.uk/volume-22/edition-7/factors-food-choice

Sumber foto:
https://68.media.tumblr.com/e3c8164b1272923cd3465f118dd15f89/tumblr_ok765gJ4cM1v4v4kjo1_500.jpg