Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Kenapa Konseling dengan Psikolog Hanya 50 Menit?

Buat kamu yang mulai merasa butuh ke psikolog, atau baru saja pulang dari sesi konseling dan bertanya dalam hati,

“Kok cuma sebentar? Padahal belum selesai cerita…”

Artikel di bawah ini akan menjelaskan sedikit banyak mengenai profesi psikologi dan mengapa satu sesi hanya sekitar 50-90 menit saja.

Karena Psikolog Juga Manusia

Dalam satu hari, psikolog tidak hanya menangani satu pasien. Dalam satu hari, psikolog bisa saja menangani 5-8 klien. Belum lagi, mereka masih harus membuat laporan pemeriksaan psikologis setiap kliennya. Oleh karena itu, kita pun harus menghargai profesionalitas mereka. Mereka tidak bisa kita paksa kerja rodi mendengarkan semua keluh kesah kita berjam-jam, bahkan seharian. Coba bayangkan jika kamu harus mendengarkan seseorang mengeluh selama 4 jam, lelah, kan?

Karena Psikolog adalah Professional yang Sekolah Bertahun-tahun

Untuk menjadi seorang psikolog, dibutuhkan prosses pendidikan yang panjang. Psikolog adalah seorang profesional. Setelah 50 menit sesi konseling yang kamu lakukan, psikolog masih harus mengerjakan laporan hasil pemeriksaan psikologi yang berisi analisis dan diagnosis kejiwaan yang kamu alami.

Selain itu, 50-90 menit sesi konseling sudah diramu dan diuji berkali-kali oleh lembaga profesi. Jumlah waktu tersebut adalah jumlah waktu yang pas untuk memulai prosesmu berkenalan dengan diri kamu sendiri dan mengenali kesedihanmu. Bahkan, 50 menit sesi terapi sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu oleh Sigmund Freud.

Karena ke Psikolog Tidak Cukup Sekali, Lukamu Terlalu Dalam dan Banyak!

Mari kita bahas bagian ini dalam bentuk pertanyaan:

Pertanyaan Pertama:

Sepanjang hidupmu, berapa kali kamu pergi ke dokter untuk mengobati sakit kepala dan demam? Berapa kali kamu pergi ke posyandu untuk imunisasi?

Mungkin kamu tidak ingat, tetapi fisikmu sudah diberi banyak sekali vaksin, obat, dan multi vitamin untuk membuat kamu semakin kuat.

Baca tentang imunisasi jiwa di sini

Pertanyaan Kedua:

Sudah berapa kali kamu ke psikolog?

Jiwa kita sama seperti tubuh. Sayangnya, karena tidak terlihat, kita sering mengabaikan kebutuhannya. Sering kali, seseorang baru pergi ke psikolog saat ia sudah benar-benar sedih dan tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Kemudian, ia berharap  satu kali sesi dan bimsalabim! Berubahlah ia menjadi Bunda Theresa atau Mahatma Gandi yang super tenang, damai, dan bahagia selalu.

Kenyataannya Tidak Begitu!

Tanpa disadari, kita sudah memupuk luka yang cukup banyak: ejekan teman ketika kecil, amarah ayah, pertengkaran orang tua, konflik dengan kakak, luka dari mantan pacar, perilaku bos di kantor yang kurang ajar, atau bahkan teman lawan jenis yang melecehkan kita. Semua itu menjadi luka yang kita ‘tabung’ dan siap meledak sewaktu-waktu.

Psikolog bukan tukang sulap yang bisa menyembuhkanmu sekali waktu. Psikolog mengajak kamu mengenali luka-luka itu. Psikolog membutuhkan waktumu, kesiapanmu, dan komitmenmu.

Terasa berat? Tentu saja, karena kamu sedang berproses menjadi versi terbaik dirimu!

Untuk mengetahui bedanya psikolog dan psikiater, baca di sini…

Karena Banyak Dari Kita, Denial terhadap Masalah Utama

Ada orang yang datang ke psikolog, menangis, dan mengeluh bahwa ia sedih dan marah atas sesuatu yang tidak ia ketahui. Dengan demikian, ia marah dan sedih akan semua hal yang terjadi padanya. Terkadang, permasalahan utamanya mungkin adalah pacar yang abusive dan posesif, atau orang tua yang banyak menuntut, atau kesedihan yang tidak diakui bertahun-tahun.

Banyak orang tidak menerima kalau dirinya sedih dan depresi. Psikolog membantu klien yang datang untuk bisa menerima permasalahan yang dialami. Semua ini karena seseorang tidak akan bisa sembuh dari penyakitnya, jika ia tidak mau mengakui penyakit tersebut, baik itu depresi ataupun penyakit jantung.

Terkadang, dibutuhkan dua sampai lima kali pertemuan dengan psikolog untuk membuat seseorang menerima bahwa ia mengalami depresi.

Berbicara Tentang Emosi Akan Membuat Lelah

Bagi teman-teman yang pernah ke psikolog, terlebih lagi mengikuti sesi psikologi yang mengupas emosi secara mendalam seperti transpersonal atau psikoanalisis, perasaan lelah dan kantuk setelah terapi bisa saja muncul. Hal ini karena kita tidak terbiasa membicarakan emosi kita dan juga kita sudah terlalu lama mengubur emosi kita. Jika boleh dibuat persamaan, lelahnya fisik mencangkul di sawah, juga bisa disamakan dengan lelahnya jiwa ketika menggali semua emosi negatif yang kita kubur dalam-dalam.

Waktu yang Terbatas Membuat Klien dan Psikolog Memaanfatkan Waktu Secara Efektif

Dengan adanya kesadaran bahwa waktu yang dimiliki terbatas, klien dan psikolog akan berusaha untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Klien dan psikolog akan memanfaatkan 50 menit yang dimiliki untuk mencapai tujuan dari dari konseling. Jika tidak diberi batasan waktu, maka pembicaraan akan berputar-putar dan tidak mencapai target yang dituju.

Sekian, semoga ulasan ini cukup menjelaskan. Selamat berproses menjadi dirimu!