Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Kepergian Jonghyun: Sebuah Reminder Untukmu, Untukku

Senin, 18 Desember 2017, dunia industri musik kehilangan salah satu musisi terbaik mereka hingga banyak yang berduka. Salah satu anggota idol grup terbesar di Korea Selatan, Jonghyun, yang merupakan salah satu member SHINee, meninggal dunia. Jonghyun diduga melakukan bunuh diri dengan menghirup karbon monoksida dari briket yang dibakar di kediamannya. Sebelum ini terjadi, Jonghyun telah mengirimkan pesan kepada kakak perempuannya, yang berisikan, “It has been really hard. Let me go. Tell me I did well. This is my last goodbye.”

Kepergian Jonghyun ini sangat mengejutkan berbagai pihak dari berbagai belahan dunia, selain keluarga. Baik fans KPOP maupun nonKPOP juga lebih menyadari isu kesehatan mental berkenaan dengan berita ini. Para selebriti Korea serta fans pun turut berkabung dengan berita ini. Fans seperti tidak percaya pada awalnya. Akan tetapi, ketika berita ini terkonfirmasi kebenarannya, kita harus menerima.

Jonghyun di Mata Fans

“Jonghyun adalah bias pertamaku di K-Pop. Aku pribadi menyukainya karena suara dan kemampuan bermusik yang dimilikinya. Yang kulihat melalui media juga dia sebenarnya punya banyak support system, jadi amat sangat disayangkan dia sampai bunuh diri”

“Jonghyun, sesuai dengan arti nicknamenya, Bling Bling, selalu bisa membuat member lain ketawa. Memiliki ambisi positif. Memiliki suara yang bagus dan unik. Saat mendengar suaranya berhasil membuatku merasa adem dan dia juga jadi produser musik. Lirik lagu yang dibuatnya begitu dalam. Sampai sekarang kumasih berharap dia gak meninggal, berharap ini semua bohong.”

“Memiliki suara yang bagus, pekerja keras, musiknya semua berkualitas dan bermakna.”

“Dia pribadi yang sayang banget sama keluarganya. Pekerja keras. Suaranya mengalihkan duniaku. Sedih pas dengar kabar dia meningal, nggak nyangka di balik senyumnya selama ini dia menyimpan luka yang teramat dalam.”

Beberapa pendapat di atas menggambarkan sosok seorang Jonghyun di mata penggemar. SHINee yang telah debut sejak tahun 2008 ini, memberikan kenangan tersendiri bagi penyuka K-Pop sejak masa itu sampai sekarang. Fans K-Pop pada masa itu ada yang mengakui, Shinee sebagai salah satu yang mengenalkan mereka ke dunia K-Pop. Ada juga yang menyatakan, perjalanan sekolah ia saat itu ditemani oleh lagu-lagu Shinee. Seolah-olah ia tumbuh bersama lagu Shinee.

Pengaruh terhadap Fans dan Nonfans

Jonghyun yang diduga melakukan bunuh diri memberi pukulan lebih keras bagi fans. Adanya keterikatan yang begitu kuat antara idola dengan fans, membuat kehilangan Jonghyun sama sepertinya kehilangan kerabat dekat. Meskipun kamu tidak teridentifikasi sebagai Shawol (sebutan untuk fans Shinee), apabila kamu mendengarkan serta mengikuti perjalanan musiknya, kamu turut merasakan duka yang sama.

Fans kembali menelaah lagu yang pernah diciptakan oleh Jonghyun. Mereka kemudian merasa sangat menyayangkan ketika lirik lagu yang begitu dalam dari salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Lee Hi namun ditulis dan diproduseri oleh Jonghyun, “Breath”, seakan menjadi penggambaran nyata apa yang sedang dialami saat itu. Banyak fans yang menuliskan, meminta maaf karena tidak peka dengan apa yang dirasakan Jonghyun selama ini. Menyayangkan di balik sosoknya yang selalu ceria dengan karir cemerelang, ada sebuah tekanan dan permasalahan berat untuk dihadapinya. Fans juga semakin terpukul ketika beredar surat terakhir dari Jonghyun untuk mereka. Seolah-olah, Jonghyun telah menyiapkan semua salam perpisahan sebelum kepergiannya.

Di sisi lain, ikatan emosional yang begitu kuat dapat menyebabkan fans cenderung untuk ikut depresi. Jonghyun sebagai sosok idola Korea terkenal, membuat berita tentangnya tersebar di banyak media. Pemberitaan media yang terlalu mendramatisasi ternyata dapat memicu pikiran bunuh diri bagi pembacanya. Selain itu, cara yang dilakukan untuk bunuh diri berpotensi menjadi role model bagi yang sedang merasa depresi untuk ikut bunuh diri. Sebagai tambahan, beberapa Shawol ada yang berpikiran untuk bunuh diri karena merasa sangat kehilangan dengan Jonghyun. Dengan demikian, para nonfans Korea perlu menjaga sikap dalam mengomentari kejadian ini.

Mungkin bagi pihak nonfans Korea, sulit memahami respons fans Korea terhadap berita ini. Beberapa komentar negatif pun kerap ditemukan sekalipun ini adalah kabar duka. Sebagai contoh, “Hina ya artis Korea bunuh diri kayak gitu,” ataupun “Satu plastik bunuh diri, mereka menangis.” Untungnya, beberapa ulasan menghina seperti itu telah menuai banyak kecaman dari netizen sehingga pemilik akun pun segera menghapus tulisan tersebut.

Tahukah kamu? Perilaku yang menghakimi maupun menstigma negatif bunuh diri tersebut dapat menghambat seseorang yang ingin melakukan bunuh diri mencari bantuan. Selain itu, pernyataan seperti bukanlah respons yang sesuai dalam menyikapi kejadian ini.

Mengapa Orang Ingin Bunuh Diri?

Kepergian Jonghyun yang disebabkan oleh bunuh diri menarik simpati banyak pihak. Tidak hanya fans K-Pop, tetapi juga nonfans turut berbicara. Sebagian besar bertanya-tanya, mengapa sosok Jonghyun yang terkenal, berbakat, memiliki kehidupan bercukupan, dekat dengan keluarga serta artis lainnya, bisa mengakhiri hidupnya dengan seperti ini? Itu semua memang yang terlihat dari layar kaca, berita, ataupun media sosialnya, tetapi siapa yang bisa tahu keadaan sesungguhnya?

Kekuatan pikiran manusia memang sangat kuat hingga akhirnya mendorong keinginan untuk bunuh diri. Pada umumnya, seseorang tidak bunuh diri karena sedang dalam rasa sakit. Seseorang bunuh diri karena tidak mempercayai ada alasan baginya untuk tetap hidup dan menganggap dunia akan menjadi lebih baik tanpa kehadirannya. Selain itu, kesempatan serta kecakapan juga diperlukan untuk melakukan aksi bunuh diri itu sendiri.

Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa hal yang perlu dipahami terkait pesan bunuh diri seseorang. Diantaranya:

Tingkat Beban yang Dirasakan

Ketika seseorang merasa terlalu berat untuk menanggung beban, pemikiran bahwa lebih baik dirinya tidak ada lagi dalam kehidupan adalah jawaban yang tepat.

Rasa Sakit Emosional

Penderitaan yang dirasakan seseorang memiliki rasa sakit emosional yang beragam. Ketika merasa sudah tidak sanggup lagi menahan dan menghadapi rasa sakit emosional tersebut, maka rasanya mengakhiri kehidupan lebih baik daripada harus bertahan.

Melepaskan Diri dari Perasaan Negatif

Mereka memiliki pikiran daripada harus menjalani hidup yang dipenuhi dengan perasaan negatif, lebih baik melepaskannya dengan cari pergi dari kehidupan ini.

Mengubah Dunia Sosial

Ada seseorang yang merasa bermasalah dengan hubungan sosialnya. Kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, merasa tidak percaya untuk berbagi kisah atas tekanan dan permasalahan yang dirasakan, ataupun terlalu sering berkonflik dengan orang lain dapat mendorong keinginan untuk bunuh diri. Ia merasa bahwa untuk mengubah dunia sosial yang dihadapinya dengan mengakhiri hidup. Dengan begitu, ia terbebas dari hubungan sosial yang rumit dan pelik.

Ketidakberdayaan

Seseorang merasa sudah tidak berharga lagi dalam kehidupan ini. Ia tidak lagi menemukan arti serta alasan untuk terus hidup. Bahkan, ia mempertanyakan, apa memang ada bukti kalau kehidupannya akan menjadi lebih baik?

Bukan Depresi Saja yang Bisa Menyebabkan Bunuh Diri

Seringkali, depresi diduga sebagai penyebab seseorang bunuh diri. Padahal, ada hal lain yang turut menjadi alasan untuk membunuh dirinya sendiri. Beberapa alasan seperti, rasa dengki, takut, benci, balas dendam, kesepian, serta kecewa dapat mendorong untuk bunuh diri. Selain itu, pandangan terhadap diri sebagai pribadi yang menjijikan serta merasa kehilangan identitas diri juga turut menjadi alasan seseorang bunuh diri.

Ketika kamu merasa tidak puas dengan kehidupan, terasingkan oleh orang lain, ataupun kehilangan sosok penting dalam kehidupan, mengakhiri kehidupan bisa menjadi pilihan yang tidak tepat untuk pergi dari semua itu.

Jangan Berlarut dalam Kesedihan

Mungkin saja sampai hari ini, penggemar K-Pop, terlebih lagi Shawol masih merasa tidak percaya dan sedih yang begitu mendalam atas kepergian Jonghyun. Apalagi dengan pihak keluarga ataupun kerabat dekat Jonghyun yang ada di luar sana. Untuk para penggemar, kepergian ini memang menyakitkan tapi jangan biarkan dirimu ikut terjebak dalam duka cita lebih lama.

Alasan di balik kepergian Jonghyun menarik berbagai simpati, yang mengarah pada pentingnya menjaga kesehatan mental serta menjaga dari keinginan untuk bunuh diri. Beberapa gerakan terkait bunuh diri pun turut menyuarakan sebagai bentuk kepedulian. Sebagian dari kamu atau mungkin temanmu juga turut menyuarakan untuk berani berbicara jika ada masalah, lebih peduli satu sama lain, demi menjaga kesehatan mental satu sama lain.

Jangan merasa lelah atau menilai negatif berita bunuh diri yang beredar. Pemberitaan ini bukan untuk dihakimi begitu saja, tetapi menjadi sebuah kisah yang mengajak orang-orang untuk bertindak.

Apa yang kamu lihat belum berarti sesungguhnya. Apa yang kamu perlihatkan terhadap orang lain juga bukan berarti sebenarnya. Manusia akan selalu hidup dalam sebuah topeng yang membuatnya nyaman dan memudahkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketika topeng itu dibuka, belum tentu orang lain menerimanya dengan mudah dan hangat.

Hal inilah yang seringkali menjadi alasan seseorang takut untuk berbagi kisah sesungguhnya. Rasa pahit, sakit, resah, segala tekanan yang ada takut untuk dibuka dan dibagikan terhadap orang lain. Bisa saja kamu memberikan respons secara tidak sadar yang membatasi seseorang itu untuk bercerita. Respons seperti, “Ah, itu mah biasa aja sih, gak berat.” “Kok kamu jadi lemah gini sih? Biasanya juga kamu kuat kok.”

“Ketika kamu berani untuk menyerukan pentingnya kesehatan mental dan aksi untuk mewujudkannya, sudahkah kamu benar-benar menerapkannya dalam hidupmu?”