Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Media Sosial: Saatnya Mengaktifkan Tombol Mute dan Block pada Diri Sendiri

Manusia bebas untuk mengekspresikan opini, mengunggah foto maupun video, atau memberi komentar terhadap orang lain di media sosial. Sebagian besar dari kamu mungkin menyetujui pernyataan tersebut. Menyetujui dengan alasan setiap manusia memiliki hak dan kebebasan untuk melakukannya. Namun, apa yang terjadi bila aktivitas tersebut menimbulkan konflik dan perdebatan?

Berbagai Macam Komentar

https://louisem.com/7331/instagram-comments-blocked

Pemilik akun media sosial tidak akan pernah bisa mengontrol dan memperkirakan respons orang lain. Suatu unggahan yang dianggap baik sekalipun, masih memiliki kemungkinan untuk direspons negatif. Begitu pula dengan suatu unggahan yang dianggap buruk. Selama ada yang bisa melihat sisi baiknya, maka tetap ada yang memberi respons positif.

Salah satu contoh adalah unggahan foto yang bernuansa liburan. Nuansa liburan ini diisi dengan pemandangan suatu tempat yang indah dan baru dikunjungi untuk pertama kalinya bagi pemilik akun.

Orang yang merespons baik akan memberi komentar positif, yang berisikan apreasiasi dan turut senang atas momen yang terjadi.  Sementara itu, orang yang merespons negatif akan memberi cibiran. Seperti memberikan komentar yang menganggap si pemilik akun sebagai orang yang sombong dan suka pamer. Selain itu, pemilik akun akan dinilai memiliki hidup yang terlalu santai karena hanya diisi liburan.

Contoh lain adalah ketika artis kesukaanmu menyatakan telah berpacaran dan mengunggah foto di akun media sosialnya. Seketika unggahan tersebut dibanjiri komentar pro dan kontra. Ada pihak yang mendukung dan turut bahagia atas hubungan tersebut. Di sisi lain, ada pihak yang malah menghujat si “pacar”, menjelek-jelekan, dan tidak menyetujui hubungan tersebut.

Tidak Ada Tempat Lain

Apa kamu adalah salah satu yang suka mengungkapkan perasaan melalui media sosial? Membuat status di Facebook, ceplas-ceplos di Twitter, menulis di Tumblr, atau mengunggah instastory yang berisikan tulisan-tulisan perasaan yang sedang kamu rasakan.

Beragam media sosial yang ada, membuat seseorang dapat memilih media mana yang nyaman baginya untuk mengekspresikan kondisi dirinya. Bahkan, ada yang merasa baik-baik saja dengan beragam pilihan tersebut sehingga akan mengungkapkan perasaannya di setiap akun media sosial yang dimilikinya.

Mungkin kamu pernah melakukan atau melihat temanmu mengungkapkan hal berikut ini di media sosial:

“Beruntungnya buat kalian yang punya uang, semua terasa mudah di hidup kalian. Apalah kalau aku ini, cuma remah-remah gak dianggap.”

“Perasaan aku lebih rajin daripada dia, tapi kenapa nilai IPK dia selalu lebih tinggi daripada aku.”

“Emang gak ada yang bisa ngertiin aku. Gak pernah ada yang mau dengerin aku. Gak ada yang peduli sama aku.”

Pernyataan-pernyataan serupa seperti di atas, yang berisi keluhan, kesedihan, amarah, ataupun kekecewaan seringkali ditemui di media sosial. Bagaimana biasanya kamu menanggapi postingan yang demikian?

Ada yang memilih untuk mengabaikan. Pengabaian ini disebabkan anggapan terhadap pelaku yang hanya mencari perhatian saja. Menilai mereka tidak pantas untuk melakukan itu di media sosial. Menganggap seharusnya berbicara secara langsung saja terhadap orang, bukannya malah update di media sosialnya.

Lebih Nyaman di Media Sosial

Akan tetapi, bisa saja sebenarnya mereka tidak memiliki tempat yang tepat untuk mengungkapkan dan didengar. Sebuah riset menerangkan, anak perempuan lebih nyaman berceloteh di media sosialnya daripada berbicara dengan orangtua saat merasa cemas. Survei juga menunjukkan, perempuan cenderung lebih sering mengalami stress daripada laki-laki, dengan rata-rata dua kali dalam seminggu.

Riset tersebut bukan berarti menggambarkan bahwa semua hubungan orangtua dengan anak adalah hubungan yang tidak berjalan dengan baik. Namun, pada kenyatannya tidak semua anak mampu bercerita dengan bebas terhadap orangtuanya.

Riset lain juga menyatakan, kaum muda yang merasa kesepian, tertekan, atau cemas memilih untuk berinteraksi di dunia maya karena tidak harus bertatap muka secara langsung dengan orang lain. Selain itu, orang yang mengalami kesulitan dengan kurangnya perhatian ataupun spontan, merasa lebih mudah untuk berinteraksi di media sosial.

Hal tersebut menjelaskan, mereka yang mengalami ketidaknyamanan dan keraguan untuk bercerita terhadap orang secara langsung, memilih media sosial sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk berceloteh dengan bebas. Mereka dapat mengekspresikan kesukaan dan ketidaksukaan dengan leluasa.

Pengaruh yang Dirasakan

Berbagai macam penilaian yang muncul dari orang lain secara sadar maupun tidak, dapat memengaruhi pemilik akun. Keinginan untuk selalu dinilai baik yang diwujudkan dengan mendapatkan love, like, maupun komentar positif, secara tidak langsung memberikan tuntutan bagi seseorang untuk selalu terlihat sempurna dalam setiap unggahan di media sosialnya

Kemudian, pemilik akun menciptakan image di dunia maya berdasarkan gambaran diri yang diinginkan dan gambaran diri yang ingin dilihat oleh orang lain. Image yang diciptakan ini diibaratkan sebagai ideal self dalam diri seseorang. Ideal self adalah gambaran diri yang dicita-citakan.

Ketika terjadi ketidaksesuaian antara ideal self di dunia maya dengan image diri yang dimiliki, menyebabkan rasa tertekan pada diri seseorang. Hal ini mendorong dirinya untuk terus menunjukkan sisi positif dari dirinya serta menutup kekurangan atau sifat negatif yang dimilikinya. Pada akhirnya, ia terbiasa untuk diam ketika menghadapi masalah dan tidak tahu bagaimana mengekspresikannya karena takut dihujat oleh orang lain.

Di samping itu, respons negatif yang diperoleh berupa komentar tidak baik atau tidak mendapat like atau love, dapat memengaruhi keberhagaan diri seseorang. Ia merasa dirinya tidak disukai atau tidak menarik. Selain itu, komentar negatif yang diperoleh menyebabkan dirinya merasa tertekan dan menimbulkan rasa takut untuk bertemu ataupun berinteraski dengan orang lain.

Seperti fenomena tweet war maupaun hate speech yang terjadi di media sosial sekarang, pernahkah kamu membayangkan berada di posisi yang diserang dan bagaimana perasaannya?

Bagaimana Seharusnya Sikap Kita?

Mengingat kembali pernyataan bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk mengungkapkan yang dirasakan dan mengunggah apapun yang diinginkan, menyadarkan kita bahwa penilaian terhadap orang lain di media sosial akan terus berjalan. Kita tidak bisa menilai segala sesuatu itu baik atau buruk hanya dari kacamata diri sendiri. Hal ini disebabkan masing-masing individu memiliki standar penilaian baik-buruk yang berbeda dan akan menjadi perdebatan bila dipeributkan.

Apabila kamu merasa belum siap menjadi sosok yang selalu bisa menerima dan merespons unggahan orang lain secara positif, mungkin lebih baik kamu yang membatasi diri akan orang tersebut. Berbagai macam fitur yang disediakan oleh media sosial seperti hide postblockmute, dan sejenisnya dapat menjadi alternatifmu untuk menghindari respons negatif terhadap orang lain.

Pada akhirnya, diri kita yang memilih dengan siapa saja kita berteman dalam media sosial. Berteman dengan orang-orang yang kita anggap baik atau dengan orang yang tidak kita sukai. Ketika berteman dengan orang yang baik maka akan memberi pengaruh baik pula bagi diri kita. Sementara itu, bertahan dengan orang-orang yang tidak kita sukai akan memancing diri untuk mencibir serta memberi respons negatif terhadap orang lain.

Segala sesuatu akan menjadi baik ataupun buruk, tergantung pada bagaimana kita memanfaatkan dan menyikapinya, bukan?