Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Menjadi Pribadi yang Sehat Mental dengan Gaya Hidup Minimalis

Berapa banyak dari kita yang berbelanja untuk sekadar memenuhi keinginan? Kita membeli sesuatu tanpa tahu arti kebutuhan. Kita memupuk obsesi dan keinginan. Kita menumpuk barang-barang. Kita terlanjur lekat dengan gaya membeli dan memiliki sesuatu secara berlebihan. Lalu, berapa dari kita yang kemudian sadar bahwa tumpukan keinginan, obsesi dan barang-barang itu justru membawa ketidakbahagiaan?

***

Era digital membuat kita semakin mudah mengakses barang-barang yang kita inginkan. Menjamurnya online shop, e-commerce telah menggeser orientasi hidup kita menjadi berorientasi pada materi. Berbelanja dan memiliki barang-barang bukan lagi sebuah kebutuhan, tetapi juga ajang pemenuhan keinginan, kompetisi diri maupun kompetisi dengan orang lain. Seakan rasa kepemilikan kita terhadap barang-barang tertentu menjadi sebuah obsesi yang semakin hari semakin tidak ada batasnya. Kita seakan sedang terjebak dalam perilaku konsumtif yang tidak perlu. Hal itu justru merupakan salah satu pemicu ketidakbahagiaan dalam hidup. Mengapa demikian?

Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara materialis dan perilaku konsumtif dengan kebahagian serta kepuasan hidup seseorang. Orang-orang materialis yang memiliki tingkat konsumsi serta kepemilikan barang yang tinggi cenderung mengalami permasalahan psikologis, seperti insecure, overthinking, tidak puas pada hidup, diri, serta relasi dan buruknya suasana hati.

Perilaku yang kita pupuk sejak lama terhadap keputusan membeli produk/barang karena obsesi kepemilikan, citra, status dan keinginan memperoleh penghargaan serta pujian, kompetisi sosial dan koneksi komunitas serta sekadar pemuas diri sejatinya adalah bentuk ketidakberdayaan kita terhadap berbagai keinginan. Bukan tidak mungkin semakin banyak kita menumpuk barang, lama-kelamaan juga akan penuh dan sesak. Dekorasi yang berlebihan, tumpukan perabot yang berantakan, lampu-lampu artifisial yang terlalu keras dan penuh cahaya buatan telah terbukti memengaruhi suasana hati dan kesehatan mental. Bukan membawa kebahagiaan atau manfaat, justru perilaku membeli lalu menumpuk barang bisa menjadi bumerang bagi kesehatan diri kita sendiri.

Kebahagiaan yang kita anggap berasal dari materi-materi, keinginan dan obsesi nampaknya kini tidak terbukti. Gaya hidup konsumtif, materialis ternyata bukanlah gaya hidup yang sehat secara fisik dan mental. Depresi, kecemasan, panick attact, overthinking, dan sederet gangguan psikologis lainnya membayangi kita yang terlanjur memuja materi sebagai sumber kebahagiaan.

Baca juga: Hati-Hati dengan Kebahagiaan Sementara Dibalik Belanja di sini.

Menjaga Kewarasan dengan Gaya Hidup Minimalis

Di tengah gaya hidup materialis yang konsumtif, semakin banyak apa yang kita miliki, maka semakin banyak pula yang kita simpan dan pikirkan setiap hari. Hal inilah yang seringkali membuat pikiran kita terlalu sibuk, dan akhirnya menjadi overthinking. Barang-barang yang kita simpan berkontribusi besar terhadap apa yang kita pikirkan sehingga kita sering merasa insecure, tidak nyaman, tidak tenang, selalu dalam kondisi waspada dan akhirnya membuat kita mudah stres.

Padahal sebenarnya kita punya kendali atas diri kita sendiri, menyeluruh baik secara fisik maupun mental. Begitu juga dengan ketidakberdayaan kita terhadap berbagai keinginan. Kita punya kendali besar untuk mengontrol keinginan-keinginan yang belum tentu kita butuhkan dengan mengubah pola dan gaya hidup materialis menjadi minimalis.

Gaya hidup minimalis bisa membantu kita untuk memandang sesuatu dengan lebih jelas dan sederhana. Termasuk tentang memutuskan sesuatu, apakah itu adalah kebutuhan atau keinginan semata? Apakah kita benar-benar memerlukannya atau tidak? Minimalis membantu kita untuk selalu memegang kendali atas keputusan-keputusan yang kita buat, dalam membeli barang, membeli makanan, ataupun mengikuti sesuatu yang kita anggap menyenangkan. Dengan berlatih untuk hidup minimalis, kita akan terbiasa untuk melepas setiap obsesi, keinginan, harapan, impian yang tidak perlu dan fokus pada apa yang penting. Karena apabila kita tidak terbiasa melepaskan mereka, maka konsekuensinya kita akan hidup dalam perilaku konsumtif yang otomatis mengharuskan kita untuk memiliki banyak rupiah. Hal itu berdampak pada fokus hidup kita hanya untuk bagaimana mendapatkan banyak uang untuk membeli barang-barang. Waktu dan tenaga kita habis untuk mengejar sebuah keinginan semu. Kita mengorbankan kesehatan dan kewarasan. Kita terlalu lelah untuk menjadi manusia yang berbahagia.

Gaya hidup minimalis hadir sebagai penyeimbang akan derasnya gelombang materialisme. Minimalisme juga menawarkan solusi terhadap ketimpangan berpikir kita yang hanya terfokus pada materi dan melupakan kekuatan diri. Kita sering melupakan akar permasalahan dalam diri, seperti ketidakberdayaan kita melihat secara jelas tentang mana yang penting dan mana yang tidak. Minimalisme adalah tentang memutuskan mana yang penting untuk kita. Dengan belajar menjadi minimalis kita berkesempatan untuk masuk ke dalam diri sendiri, mendalaminya, memahami apa kebutuhan diri yang sesungguhnya. Dengan demikian kita akan memandang permasalahan jauh hingga ke akarnya.

Menjadi minimalis juga mengajarkan kita tentang “berhenti sejenak” untuk melihat kedalam diri, menepi dari keramaian dan menyapa diri sendiri tanpa adanya intervensi. Dengan begitu, pilihan dan keputusan yang kita ambil adalah buah hasil kontemplasi diri yang matang. Selain itu, kebiasaan melihat apa yang penting akan membuat pikiran kita menjadi lebih tenang dan jernih dalam memandang sesuatu. Maka dari itu, gaya hidup yang kita terapkan sehari-hari sangat penting dalam proses penentuan keputusan-keputusan hidup. Sebab, keputusan-keputusan kita sangat memengaruhi kualitas hidup yang kita jalani. Hal ini sejalan dengan hasil studi yang dilakukan di Jerman, menyebutkan bahwa pilihan gaya hidup berkaitan erat dengan kesehatan mental seseorang. Semakin sehat gaya hidup yang dipilih seseorang, baik secara fisik maupun mental, maka semakin tinggi tingkat kepuasan hidupnya serta semakin rendah tekanan psikologis yang ia rasakan.

***

Tidak ada salahnya untuk mencoba belajar hidup minimalis. Mengikhlaskan apa yang menjadi keinginan semu kita. Tidak salahnya untuk menengok kembali diri sendiri apabila sekiranya kita hilang kendali atas keputusan-keputusan dalam hidup. Dengan hidup minimalis kita juga akan belajar untuk tidak memuaskan setiap nafsu dan keinginan. Hidup minimalis adalah usaha kita untuk bertahan dalam derasnya arus materialisme dan menyelamatkan kita dari kekacauan hidup.