JOKER dan Seberapa Jauh Kita Memahami Manusia

joker.jpg

SPOILER ALERTS!

Artikel ini mengandung spoiler film JOKER!

Belakangan ini kita ramai membicarakan sosok Joker berkat film solonya yang baru saja dirilis awal bulan ini. Banyak kalangan menyoroti sosok Joker sebagai tokoh yang lahir dari kegelapan, kesengsaraan dan kekejaman dunia. Dunia yang masih saja gagal memahami manusia. Benarkah demikian?

***

Dalam film yang berdurasi 122 menit ini mengisahkan lahirnya sosok Joker yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Batman. Kita bisa melihat bahwa dibalik sosok Joker adalah seorang pria bernama Arthur Fleck yang mengalami pseudobulbar affect (PBA) yaitu sebuah gangguan emosi yang ditandai dengan tertawa atau menangis yang tidak terkendali. Tawa dan tangis tersebut biasanya muncul tidak sesuai dengan konteks sosial. Pseudobulbar affect ini terjadi karena adanya gangguan neurologis yang mengatur ekspresi emosional. Beberapa gangguan neurologis yang berbeda dapat menyebabkan munculnya PBA, misalnya amyotrophic lateral sclerosis, stroke, multiple sclerosis (MS), Parkinson, Alzheimer, dan cedera otak traumatis. Gangguan ini berdampak besar pada keadaan psikologis dan interaksi seseorang dengan lingkungan sosialnya. Diceritakan dalam film bahwa semasa kecil Arthur Fleck mengalami berbagai kekerasan fisik yang kemudian mencederai bagian otaknya.

Seperti Joker, seseorang yang mengalami masalah kejiwaan akan cenderung merespon lingkungannya dengan cara yang berbeda. Hal inilah yang berdampak pada kondisi (tidak hanya) psikologis saja, tapi juga interaksinya dengan lingkungan sosial. Pada scene awal setelah Arthur Fleck mengunjungi konselornya yang merupakan pekerja sosial, ia terlihat sedang menaiki bus dan ia tertawa setelah seorang ibu menegurnya ketika ia membuat candaan pada anaknya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang bertujuan memberitahu si Ibu bahwa dia tidak punya maksud apapun pada saat ia tertawa karena ia memiliki gangguan bernama pseudobulbar affect. Namun, apa yang dilakukan si Ibu adalah sebagian perilaku kita yang masih mendiskriminasi orang-orang dengan gangguan jiwa. Si Ibu hanya melihat Arthur Fleck dengan tatapan yang diskriminatif sambil mencoba menghindarkan anaknya dari kemungkinan interaksi dengan Arthur. Scene seolah-olah sedang menampar kita sebagai masyarakat yang dipaksa untuk merefleksikan diri bersama-sama. Apakah kita sudah memahami manusia secara utuh? Apakah ada bagian dari diri kita yang tanpa sadar seperti si Ibu mendiskriminasi orang-orang dengan gangguan jiwa ketimbang memilih untuk berempati dan bersikap baik pada mereka?

Baca juga: Sudahkah Kita Memahami Manusia? di sini.

 Apa yang Perlu Kita Pahami dari Sosok Arthur Fleck?

1. Perjuangan Orang dengan Gangguan Jiwa Sama Sekali Tidak Mudah

Seseorang dengan masalah kejiwaan sudah memiliki setidaknya satu tugas besar dan kompleks: berjuang dengan dirinya sendiri. Perjuangan ini membutuhkan tenaga yang besar dan emosi yang seringkali membuat mereka kelelahan. Arthur Fleck dan orang-orang dengan gangguan jiwa lainnya juga rentan terhadap stressor yang terkadang dekat dengan mereka. Belum lagi, cara pandang kita sebagai masyarakat yang mendiskriminasikan orang-orang dengan gangguan jiwa seperti Arthur Fleck sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Secara tidak langsung, cara pandang seperti itu menyebabkan berbagai masalah bagi mereka seperti distress, rasa malu, isolasi sosial, hingga dalam beberapa kasus, ketidakmampuan untuk bekerja. Bahkan, bisa jadi dengan rangkaian permasalahan tersebut mereka mengalami depresi. Hal inilah yang membuat mereka seringkali terjun dalam lubang hitam yang tak berujung bernama rasa tidak berharga (worthless) dan putus asa (hopeless).

Baca juga: Depresi Apa sih Ciri-Cirinya? di sini. 

Seperti Arthur, orang-orang dengan gangguan jiwa lainnya semakin lelah karena mereka tidak hanya menghadapi dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang abai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Kita bisa membayangkan jika orang dengan depresi harus tersenyum sepanjang hari karena khawatir dibilang lebay dan lemah;  atau orang dengan kecemasan harus selalu tampil tenang karena khawatir dilabeli tidak percaya diri dan takut ditinggalkan pasangan. Realita-realita seperti ini, tanpa kita sadari seakan sedang menuangkan air bah ke dalam wadah yang harus dibawa oleh orang-orang dengan gangguan jiwa. Mereka “dipaksa” membawa wadah tersebut kemanapun mereka pergi. Sementara, kedua tangan mereka sudah penuh membawa dua ember berisi air panas. Apakah itu adalah perjuangan yang mudah? Tentu kita sepakat untuk berkata tidak. Memaksa orang dengan masalah jiwa untuk bersikap seperti orang kebanyakan, tidak akan membantu ia merasa lebih baik. Justru, ‘penolakan yang tidak langsung’ kita berikan terhadap mereka ini bisa menjadi beban baru yang terpaksa mereka bawa kemana-mana.

2. Rasa Sakit yang Dirasakan Nyata dan Valid

Arthur Fleck adalah sosok yang digambarkan dengan rasa kesepian, hampa, gelap, tidak dihargai, dan meskipun begitu ia harus tetap tampak bahagia karena pola asuh yang ditanamkan oleh ibunya bahwa ia harus selalu tampak bahagia dan tersenyum. Hal ini justru berdampak pada kondisi psikologisnya yang tidak seimbang. Ada sisi-sisi emosional Arthur yang ditekan dan coba ia hilangkan misalnya kesedihan, kesepian, kehampaan, dan flat feeling,  Namun, emosi-emosi tersebut justru semakin nampak,terbuka dan menganga seakan menguak semua luka batinnya selama ini. Kekerasan yang ia alami sewaktu ia kecil, ketidakseimbangan emosi, dan karena kondisinya itu banyak orang kemudian tidak pernah menghargainya seberapapun keras ia dalam berjuang.

Apa yang coba dilakukan Arthur justru adalah bentuk nyata represi atau menekan emosi yang dirasakan agar tidak muncul, yang dilakukan secara terus menerus dan dalam jangka waktu panjang. Represi tidak lantas membuat kita tidak merasakan emosi tersebut. Emosi yang dirasakan tetap ada. Emosi tersebut nyata dan valid. Namun, emosi tersebut hanya disimpan dalam-dalam, tidak diizinkan untuk keluar dan diproses dengan sehat, hingga menumpuk dan membesar menjadi gulungan bola salju yang pada akhirnya membuat diri penuh dan tumpukan emosi itu pun pecah dalam bentuk yang beragam. Arthur melakukan represi bertahun-tahun hingga tumpukan emosinya pecah menjadi perilaku kekerasan yang didahului dengan lelucon-lelucon gelap sarat makna kekecewaan. Hal ini akan berdampak pada masalah psikologis yang lebih besar di kemudian hari. Mulai dari sulitnya merasakan bahagia, muncul keluhan fisik, hingga berkembang menjadi gangguan jiwa serius. Gejala kemarahan yang ditekan ini tidak jarang ditemui pada berbagai gangguan jiwa, termasuk depresi hingga skizofrenia

The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t”– Arthur Fleck

Kekecewaan, rasa sakit Arthur dan kegelapan hidupnya yang digambarkan sepanjang film seakan menusuk-nusuk hati kecil kita sebagai manusia. Kita tidak jarang abai dengan kondisi emosi yang kita rasakan sehari-hari. Kita melabeli emosi-emosi mana yang baik dan emosi mana yang buruk lalu menekan emosi buruk itu kuat-kuat. Kita menganggap emosi-emosi tersebut adalah fiktif, tidak nyata dan abstrak tak bernyawa. Padahal, penekanan dan penyangkalan emosi itu justru akan menjadi kepedihan yang nyata. Seperti kepedihan Arthur dan manusia-manusia lain yang mengalami kondisi psikologis maupun neurologis yang tidak seimbang. 

3. Kita Tidak Pernah Tahu Apa yang Sedang Mereka Hadapi

Arthur Fleck adalah salah satu representasi bahwa seseorang dengan gangguan jiwa atau masalah psikologis memang terlihat seperti manusia yang baik-baik saja. Ia bisa bekerja, ia bisa menjalankan aktivitasnya seperti orang-orang pada umumnya. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu rasa sakit, perasaan yang mereka rasakan, pikiran-pikiran yang mereka hadapi, dan berbagai kompleksitas yang ada dalam diri mereka. Orang dengan depresi atau gangguan jiwa lainnya bisa tampak dalam berbagai bentuk dan tidak selalu dalam keadaan murung atau bersedih. Orang dengan masalah jiwa bisa tampak seperti orang-orang sehat pada umumnya. Mereka bisa tertawa, bekerja, bercanda, tanpa kita tahu bahwa di dalam hatinya ia sedang berusaha mengelola semua perasaan dan pikiran negatifnya. 

***

Melalui Arthur, kita seakan diajak berbicara untuk belajar menyadari setiap apa yang akan kita lakukan atau katakan dan apa konsekuensi yang diakibatkan dari keputusan atau perkataan kita tersebut. Kita diajak untuk lebih aware terhadap perasaan dan kondisi orang lain, orang-orang di sekitar kita, karena kita tidak pernah tahu akan sesakit apa perkataan/perilaku kita pada orang lain. 

Arthur Fleck adalah gambaran orang dengan gangguan jiwa yang hidup dalam masyarakat kita yang masih saja antipati dalam memahami manusia. Kita tidak pernah mau memahami kebutuhan mereka terhadap penerimaan, apresiasi, cinta kasih dan pengertian dari kita yang amat mereka nantikan. Padahal, semua itulah yang akan membuat mereka lebih berarti dalam hidupnya. 

Andai saja kita mau mengerti dan memahami mereka dengan gangguan jiwa maupun gangguan neurologis yang membuat seseorang berpikir dan merespon sedikit berbeda dengan cara berpikir dan merespon kita, maka mungkin tidak ada lagi sosok yang merasa sendiri, sepi, terasing, dan tidak dihargai seperti yang dirasakan Arthur Fleck hingga dirinya menjadi sosok Joker yang kita kenal. Mari bersama menciptakan lingkungan yang penuh dengan penerimaan dan cinta kasih yang siapapun bisa merasakannya tanpa terkecuali orang-orang dengan gangguan jiwa, gangguan neurologis, maupun masalah psikologis.

Semoga semua makhluk berbahagia!


Sumber gambar: www.pinterest.ca

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

CURHAT : Saya Benci Diri Saya yang Punya Ketakutan Berlebihan

Next
Next

5 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengingat