Alasan Psikologis di Balik Perilaku Teror

Belakangan ini, perilaku teror semakin sulit dinalar akal sehat. Pada tanggal 13 Mei 2018 lalu, lima bom meledak dalam 24 jam di Surabaya dan Sidoarjo. Tiga di antaranya menyasar tempat ibadah1 lainnya di rumah susun yang padat penduduk, dan 1 lagi di markas aparat kepolisian. Disusul pula dengan penyerangan ke Mapolda Riau pada tanggal 16 Mei 2018. Puluhan nyawa melayang dan puluhan lainnya luka-luka, termasuk mereka yang memilih melakukan bom bunuh diri.

Lalu, mengapa seseorang bisa begitu mudah menghilangkan nyawanya sendiri dan orang lain, bahkan mengajak anak? Mengapa pula seseorang bisa mengadopsi paham yang begitu ekstrem sehingga akhirnya “mengecilkan” nilai kehidupan manusia lainnya?

Untuk memahami pembentukan teroris secara lebih sederhana, kita bisa gunakan ilustrasi berikut:

Seorang wanita mendapat gaji lebih rendah dibandingkan teman-teman prianya di kantor. Fakta tersebut memunculkan persepsi tentang kesenjangan dalam sistem pemberian gaji di perusahaan tempatnya bekerja. Fakta tersebut juga membuatnya merasa kecewa dan akan berusaha mencari solusi atas keadaan tersebut.

Langkah pertama yang dilakukan adalah berusaha membicarakan kesenjangan tersebut dengan atasannya. Ia berusaha berdialog dengan atasannya, tetapi atasannya menolak dan beranggapan nominal gajinya sudah sesuai dengan beban kerja. Kegagalan dalam negosiasi dengan atasan membentuk persepsi yang lebih buruk dan kekecewaan yang lebih besar. Ia pun berusaha menaikkan level negosiasi mulai dari yang paling halus hingga paling keras, misalnya mengajak teman-teman lainnya untuk berdemo atau menggugat perusahaan.

Ternyata proses pembentukan seseorang teroris tidak jauh berbeda dengan proses yang dilakukan wanita dalam ilustrasi di atas. Dalam ilmu psikologi, pemikiran (kognisi), perasaan (afeksi), dan perilaku merupakan tiga komponen yang saling berhubungan antara satu sama lain. Pada ilustrasi di atas, persepsi mengenai kebijakan perusahaan merupakan komponen kognisi, perasaan kecewa merupakan komponen afeksi, dan usaha yang dilakukan untuk menghilangkan kesenjangan merupakan komponen perilakunya.

Kognisi – Persepsi bahwa Sistem yang Berjalan Tidak Adil

Peneliti terorisme dari Georgetown University bernama Fathali Moghaddam percaya bahwa akar terbentuknya teror adalah persepsi yang diyakini seseorang. Awalnya perilaku teror dimulai dari persepsi mengenai ketidakadilan pada sistem yang berjalan. Ketidakadilan tersebut dapat berdampak pada diri sendiri maupun kelompok tempatnya bernaung. Persepsi tersebut kemudian memunculkan keinginan untuk mengubah sistem menjadi lebih baik. Semakin usaha yang dilakukan tidak berhasil, maka persepsi mengenai sistem yang berjalan akan semakin memburuk. Dan setiap persepsi yang muncul akan mempengaruhi perasaan dan perilaku terhadap pihak yang dianggap salah.

Kognisi – Persepsi bahwa Kejayaan Peradaban Terdahulu Bisa Diulang

Seseorang yang masuk ke dalam kelompok yang melakukan teror seringkali disuguhi harapan-harapan tentang kepemimpinan yang lebih baik. Sejarah tentang kejayaan peradaban terdahulu yang masih menggunakan perang sebagai cara perebutan kekuasaan dipertontonkan. Tokoh-tokoh yang dianggap pernah memberikan keadilan diperkenalkan. Disini, orang-orang yang sudah mulai gerah dengan ketidakadilan diberikan idola baru dan sistem baru yang dianggap lebih baik.

Contohnya sebuah kelompok teroris yang memandang dan percaya bahwa kepemimpinan kepala negaranya di tahun 1890-an merupakan contoh kepemimpinan yang adil. Maka ketika ada anggota baru yang masuk ke dalam kelompok tersebut, ia akan disuguhi dengan dokumentasi keadilan pemerintahan terdahulu tersebut. Ia akan diberikan informasi mengenai hebatnya gaya kepemimpinan kepala negara lama, dan diberikan contoh keburukan kepala negara yang saat ini menjabat yang mungkin sudah direkayasa.

Mereka lalu memilih menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan harapan tersebut. Seseorang yang sudah mempercayai mimpi dan persepsi tentang kepemimpinan impian ini akan mengalami perubahan pola pikir. Teror dilihat sebagai sesuatu yang bermoral karena dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu mewujudkan keadilan. Sementara yang dilakukan pihak lain dianggap tidak bermoral karena menimbulkan ketidakadilan.

Afeksi – Kemarahan Terhadap Sistem yang Berjalan

Persepsi mengenai ketidakadilan diikuti dengan perasaan malu, kecewa, dan marah. Malu karena tidak bisa berbuat lebih banyak untuk menghilangkan kesenjangan. Kecewa pada sistem yang tidak berjalan dengan adil. Dan marah atas ketidakadilan yang menekan kebebasan diri. Dan tentu masih banyak perasaan negatif yang ikut mendorong seseorang untuk melakukan perubahan.

Perubahan yang dilakukan dianggap bisa mengubah ketidakadilan dan nantinya akan mengubah perasaan individu menjadi lebih positif. Sama seperti persepsi, semakin usaha yang dilakukan untuk mengubah keadaan gagal, semakin negatif perasaan yang dirasakan. Ketika wanita pada ilustrasi tadi gagal mengubah kesenjangan di perusahaannya, maka ia akan merasa semakin kecewa. Teroris pun begitu. Ketika usaha penegakan hukum yang lebih adil tidak berhasil, maka mereka akan semakin marah. Mereka akan semakin membenci pihak yang menghalangi kehendak mereka, termasuk aparat negara.

Belum lagi usaha pemerintah untuk menekan gerakan mereka. Pada tahun 2014, aksi terorisme di Indonesia menurun secara signifikan karena banyak orang yang memilih berperang di Suriah. Akan tetapi, semenjak pemulangan ratusan WNI dari Suriah secara bertahap sejak 2015 lalu, aksi terorisme di Indonesia kembali meningkat. Hal ini terjadi karena WNI yang dipulangkan merasa marah dan kecewa tidak bisa berjuang di Suriah. Mereka merasa kebebasan untuk memperjuangkan agamanya ditekan oleh pemerintah Indonesia. Sehingga mereka akhirnya melampiaskan kemarahan tersebut dengan melakukan aksi teror di dalam negeri.

Afeksi – Menemukan “Rumah” dalam Kelompok Teroris

Usaha mengubah kondisi akan membuat beberapa orang berperasaan sama bertemu dan berkumpul menjadi anggota kelompok teroris. Rasa senasib sepenanggungan membuat para anggota merasa terikat dan terhubung antara satu sama lain. Mereka merasa memiliki “rumah” tempat bernaung baru yang terdiri dari orang-orang dengan nasib dan tujuan sama. Rasa kekeluargaan tersebut akhirnya menguatkan sense of belonging antara satu sama lain. Perasaan itu juga yang membuat mereka terpicu melakukan aksi balas dendam ketika rekannya mengalami peristiwa tidak menyenangkan.

Perilaku – Dimulai dari Penyebaran Ajaran hingga Kekerasan

Berbeda dengan kognisi dan afeksi, perilaku adalah komponen yang terlihat secara kasat mata. Dalam terorisme, perilaku yang dapat dideteksi beragam. Mulai dari melakukan protes pada pihak yang dianggap tidak adil, atau dengan cara mencari kelompok-kelompok yang dianggap memiliki visi sama.

Berbagai cara dilakukan termasuk mengubah persepsi orang lain agar menyetujui persepsi yang dimiliki. Lagi-lagi dimulai dari yang paling halus dan paling dekat dengan dirinya, misalnya menciptakan sepaket norma baru yang diterapkan pada kelompok kecil, seperti keluarga. Setelah itu usaha mengubah persepsi yang lebih intens dilakukan, misalnya menyebarkan ajaran kebencian di media sosial. Sama seperti ilustrasi wanita di atas, perilaku yang pertama dilakukan adalah dialog dengan atasannya. Dalam kasus teroris, mungkin bukan dialog yang dilakukan, tapi dengan penyebaran ajaran-ajaran persuasif yang menarik orang lain untuk sepaham dengannya.

Perilaku yang dilakukan akan semakin meningkat intensitasnya ketika perilaku kecil tidak memberikan hasil yang diinginkan. Mulanya hanya penanaman rasa tidak adil melalui diskusi, lama kelamaan berubah menjadi kekerasan yang ditujukan kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab. Mulanya hanya diskusi kelompok kecil, lama kelamaan berubah menjadi rencana pemberontakan menggunakan bom bunuh diri.

Kognisi, afeksi, dan perilaku yang saling berhubungan ini adalah usaha memahami proses pembentukan perilaku teror yang dilihat dari kacamata psikologis. Tentunya proses memahami perilaku teror tidak bisa dilakukan dengan mudah. Namun proses pembentukan perilakunya sebenarnya serupa dengan proses pembentukan perilaku lainnya. Hanya saja, pemikiran yang ditanamkan kepada mereka merupakan pemikiran yang tidak sesuai dengan norma yang dianut kebanyakan orang. Sehingga terasa sangat sulit untuk dapat memahami alasan dibalik aksi yang dilakukan.

Ayu Yustitia

Psychology graduate. When she’s not busy writing about how to understand mind and soul, she reviews makeup and skincare at senandikaayu.wordpress.com

Previous
Previous

Mahasiswa LPDP Peduli Kaum Difabel

Next
Next

Call For Journalist Pijar – Final Stage