CURHAT: Saya Ingin Bisa Terbebas dari Rasa Benci Terhadap Diri Sendiri

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Saya ingin bercerita tentang permasalahan saya. Semuanya berawal dari kedua orang tua saya yang berpisah sebelum saya lahir. Ibu saya adalah korban penipuan ayah, karena ternyata sebelum menikahi ibu, ayah sudah menikah. Namun, pada waktu itu ayah berkata bahwa dirinya adalah lelaki bujang. Ibu mengetahui fakta itu ketika ia sudah menikah dengan ayah dan dalam kondisi hamil, lalu istri pertama ayah mendatangi ibu dengan marah-marah. Menurut cerita ibu, ayah juga sempat ingin mengugurkan kandungan ibu karena desakan dari istri pertamanya, tetapi ibu tidak mau. Saat kondisi mengandung saya, hidup ibu terombang ambing tidak menentu. Bahkan saat melahirkan pun, ayah saya hanya mengantarkan ibu ke rumah sakit, kemudian beliau pergi meninggalkan ibu tanpa uang sepeser pun.

Ketika saya berumur 10 hari, saya kemudian diserahkan oleh pihak keluarga ibu ke nenek dari ayah saya. Semenjak itu jadilah saya diasuh dan dirawat oleh nenek dari ayah hingga saya kelas 2 SD. Lalu, setelah itu saya memutuskan untuk ikut dengan ibu. Selama saya dirawat dan diasuh oleh ibu, tidak jarang saya mengalami kekerasan fisik, verbal maupun seksual. Pada saat saya kembali tinggal dengan ibu, ibu telah menikah kembali dengan seorang duda beranak 2. Perlakuan ibu pada saya sangat berbeda dengan 2 anak angkatnya. Saat saya melakukan kesalahan, ibu tidak segan memukuli saya hingga babak belur. Sering sekali kepala saya dibenturkan ke dinding, tangan saya dicubit menggunakan tang, dikurung di dalam gudang yang lembab, ditonjok bahkan saya pernah dipukul menggunakan panci penanak nasi. Tidak berhenti di situ saja, saya juga pernah mengalami pelecehan seksual dari ayah tiri ketika saya SMP. Namun, pada waktu itu saya belum memahami apa yang terjadi dengan saya. Karena perlakuan tersebut, saya sering sekali kabur dari rumah karena sudah tidak tahan dengan sikap ibu yang memperlakukan saya seperti sampah dan tanpa kasih sayang. Saya diperlakukan sangat berbeda dengan anak tirinya. Pada satu titik, saya menyadari bahwa perlakuan ibu terhadap saya bisa saja karena kebenciannya terhadap ayah kandung saya (mantan suaminya).

Setelah lulus SMA, saya ingat sekali saya sempat bertengkar dengan ibu dan sejak itu saya memutuskan untuk tinggal bersama bibi. Selama tinggal dengan bibi, hubungan saya dengan ibu mulai membaik. Terhitung 2 tahun lebih saya tinggal bersama bibi dan setelah itu saya memutuskan untukkembali tinggal bersama ibu. Kami mulai memperbaiki hubungan dan saling mebuka diri. Dari situ, sikap ibu perlahan mulai membaik dan saya mulai kuliah sambil bekerja. Semua baik-baik saja hingga permasalahan antara saya dan ibu datang lagi. Masalah berawal dari kejengkelan saya karena ibu selalu lebih perhatian kepada anak-anak tirinya dibanding dengan saya. Saya pun sempat bingung dengan perasaan ini, mengapa tiba-tiba saya merasa kesal dengan hal itu. Oleh sebab perasaan itu, saya mengurung diri di kamar hampir 2 bulan lamanya. Sebenarnya saya tidak ingin hal ini terjadi, tapi saya terlalu takut untuk keluar kamar karena saya tahu saya akan melihat kenyataan pahit lalu saya pasti akan dimarahi oleh ibu. Saya keluar kamar kalau tidak ada siapapun di rumah, karena saya terlalu takut jika berpapasan dengan ibu dan terlebih lagi dengan ayah tiri. Mendengar suara mereka saja saya enggan bahkan cenderung takut. Setiap saya ingin menyelesaikan masalah antara kami dan berbicara baik-baik, saya selalu saja ketakutan dan gemetar terlebih dahulu. Pernah suatu waktu pulang kuliah saya bertemu dengan ayah tiri di ruang keluarga dan beliau menanyakan alasan mengapa saya terus mengurung diri di kamar. Bukan jawaban pasti yang saya berikan, tetapi entah kenapa saya justru kesulitan untuk menjelaskan alasan saya ke beliau apalagi ke ibu. Ayah terus mendesak meminta jawaban saya dan saya pun tidak bisa menjawab apapun. Namun, dalam hati sebenarnya banyak hal yang ingin saya katakan. Saya hanya enggan karena saya tahu mereka tidak akan memahami alasan saya dan justru akan tetap menyalahkan saya. Begitu sulit memang bagi saya untuk bisa berbicara, hingga semua badan saya terasa kaku seperti orang yang terkena stroke.

Akhir-akhir ini saya sulit untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan, terkadang pikiran dan perasaan saya pun suka bertentangan. Saya dulu pernah mengalami depresi berat sewaktu SMA dan sempat ada keinginan untuk bunuh diri, tetapi saya urung melakukannya karena saya tahu hal itu dilarang oleh agama yang saya percayai. Terkadang saya membenci diri saya sendiri dan tak jarang saya berusaha melukai diri sendiri, tapi niat itu selalu saya urungkan karena di dalam benak saya selalu berkata hal itu akan menyakiti diri saya sendiri. Saya amat kesulitan dalam memahami apa yang saya rasakan. Ada keinginan untuk marah, menangis, memukuli diri sendiri, tapi seketika itu juga saya bisa merasa tenang. Terkadang saya ingin tertawa saat menangis dan menangis saat tertawa. Ketika saya stres atau ada masalah yang berkaitan dengan ibu, saya selalu ingin menertawakan diri sendiri ditengah-tengah saya menangis. Saya benar-benar tertekan dengan apa yang saya rasakan saat ini. Rasanya semuanya menumpuk dan sesak, emosi saya mudah berubah, adanya keinginan untuk bunuh diri, dan saya pun sulit untuk mengekspresikan perasaan. Pelampiasan saya justru dengan menarik diri dan enggan bertemu dengan keluarga. Saya juga sering merasa kesulitan menceritakan permasalahan yang saya hadapi dengan orang lain, karena bagi saya cerita hidup saya sangat rumit dan panjang untuk diceritakan. Ditambah lagi, setiap saya bercerita tentang masalah saya, saya sering beranggapan mereka tidak bisa benar-benar memahami bagaimana situasi yang saya hadapi, karena itu juga saya merasa hopeless. Saya hanya ingin ada seseorang yang bisa mengerti kondisi mental saya saat ini dan juga saya ingin bisa memahami diri saya sendiri, apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang sebenarnya bisa membuat saya bahagia tanpa harus membuat orang lain terluka. Hal yang terpenting lagi, dengan memahami diri saya sendiri saya berhenti bersikap impulsif dalam mengambil keputusan-keputusan hidup.

Saya menuliskan ini secara acak berdasarkan apa yang muncul dalam benak saya, jadi mohon maaf apabila cerita saya membingungkan bagi beberapa orang ketika membacanya. Bahkan saya sendiri pun sering bingung kenapa saya bisa hidup seperti ini. Terima kasih tim Pijar Psikologi, saya berharap saya bisa lebih tenang dan mampu mengatasi semuanya dan terbebas dari rasa bersalah. Saya juga berharap bisa memahami diri sendiri sehingga orang-orang tidak salah memahami diri saya.

Gambaran: Perempuan, 22 Tahun, Mahasiswa.


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih atas kepercayaanmu untuk bercerita di Pijar Psikologi. Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah sudah mulai beraktivitas seperti biasa? Semoga kamu merasa jauh lebih baik ketika menerima membaca pesan ini ya.

Setelah kami membaca ceritamu, ada banyak sekali pengalaman tidak menyenangkan dengan orangtua dan keluarga terdekat. Berat rasanya tetap bertahan hingga hari ini dengan membawa luka fisik dan mental yang walaupun tak kasat mata, tetapi tetap ada. Orangtua yang semestinya berperan untuk melindungi dan memberimu kasih sayang, justru banyak mengajarkanmu emosi negatif seperti rasa sakit, kecewa, bahkan rasa marah. Jika kami membayangkan pengalamanmu, sakit … sesak rasanya … menerima komentar negatif dan kasar, bahkan pukulan atau hukuman fisik dari seorang ibu. Di sisi lain, kami bisa menangkap dirimu mampu memahami sikap ibu yang merasa sakit hati ketika ditinggalkan oleh ayahmu dulu. Akan tetapi, tidak membenarkan perilaku ibu yang meluapkan semua emosi negatif itu padamu. Tidak adil sepertinya jika seorang anak yang baru lahir hingga saat ini menanggung semua perasaan bersalah dari rasa sakit hati ibu yang mungkin sebenarnya ditujukan kepada sikap ayah.

Berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menjalani hidup sepertinya juga bukan hal mudah untuk dilakukan. Berada di lingkungan baru mungkin membuatmu belajar menyesuaikan diri. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya menyesuaikan diri, apalagi jika dilakukan berulang kali. Belum lagi dengan perlakuan ibu dan ayah tiri yang kurang menyenangkan sehingga membuatmu merasa takut dan memilih menghindar agar tidak berpapasan dengan mereka. Meskipun sifat atau perlakuan ibu dan ayah tiri lebih baik dari sebelumnya, sepertinya bekas luka yang ditinggalkan masih lebar dan berdampak pada kondisimu saat ini ya. Tidak apa-apa jika saat ini kamu memilih mengambil jarak karena belum bisa mengelola emosi negatif seperti rasa takut atau mungkin rasa marah ketika menyampaikan masalahmu. Berhadapan dengan seseorang yang memberimu rasa sakit dan pengalaman yang tidak menyenangkan adalah kondisi yang tidak nyaman untuk dilakukan. Ambil jarak jika dibutuhkan, wajar jika kamu masih merasa takut dan belum siap menghadapi mereka. Kami ingin menyampaikan padamu, ini semua bukan kesalahanmu. Kamu punya hak merasakan kasih sayang dan diperlakukan layaknya seorang anak. Kehadiranmu bukan sebuah kesalahan, melainkan sebuah tanda bahwa baik ibu, ayah, maupun ayah tirimu masih memiliki tanggung jawab melakukan peran mereka sebagai orangtua untuk peduli dan menjagamu. Terima kasih sudah bertahan sampai saat ini.

Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dapat berdampak pada pembentukan pikiran, emosi (perasaan), dan perilaku kita saat ini. Bahkan efek samping seperti perasaan takut yang disertai meningkatnya reaksi fisik (seperti rasa tegang dan kaku pada bagian tubuh tertentu, gemetar, serta meningkatnya detak jantung) sangat mungkin dialami kembali. Terutama ketika teringat atau berhadapan kembali dengan suasana, tempat, maupun orang yang mirip atau sama dari masa lalu. Kondisi ini sering dikenal dengan istilah umum trauma psikis, secara spesifiknya dalam dunia psikologi dikenal dengan gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). PTSD sangat mungkin dialami bertahun-tahun setelah kejadian traumatis berlangsung jika tidak ditangani. Adapun empat gejala PTSD yang banyak ditemui yaitu:

  1. Gejala intrusif adanya memori, mimpi, atau kilas balik yang muncul dan berdampak pada munculnya emosi negatif atau meningkatnya reaksi fisik.

  2. Suasana hati (mood) negatif

Pikiran dan perasaan negatif yang seakan-akan membuat seseorang sulit merasa bahagia dan kehilangan minat melakukan kegiatan sehari-hari.

3. Sikap atau perilaku menghindar

Usaha untuk menghindar atau menutup diri karena adanya rasa takut atau cemas ketika menghadapi suasana atau orang-orang yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.

4. Gejala hyperarousal

Secara umum ditandai dengan rasa gelisah, rasa cemas atau takut berlebihan, mudah marah dan meluapkan rasa marah, serta sulit berkonsentrasi.

Apakah kamu mengalami beberapa gejala pada tabel di atas? Kami mencoba memberikan ilustrasi gambar untuk membantumu memahami kondisi diri:

Pikiran, perasaan, reaksi fisiologis, dan perilaku yang kita lakukan saling mempengaruhi. Pengalaman traumatis dapat berdampak pada gejala gangguan psikologis jika belum tertangani dengan baik. Berdasarkan ilustrasi yang kami berikan, ada kemungkinan dirimu mengalami kilas balik pengalaman traumatis masa lalu yang berdampak pada pikiran negatif (anggapan bahwa ibu dan ayah tiri akan menyalahkan atau tidak akan memahami kondisimu), emosi negatif (takut, sedih, kecewa, marah), dan reaksi fisiologis (tubuh kaku, gemetar) sehingga membentuk respon menghindar. Pada PTSD, ada pula kemungkinan menekan emosi negatif karena belum siap terbuka mengenai pengalaman traumatis pada orang sekitar. Biasanya seseorang akan menunjukkan emosi positif (senang, bahagia, tertawa) di permukaan sebagai bentuk pertahanan diri untuk menyembunyikan atau menekan emosi negatif yang sebenarnya dirasakan dalam diri. Meskipun demikian, gejala PTSD dapat dikurangi dengan melakukan beberapa usaha sebagai berikut:

  1. Berproses untuk Memaafkan dan Menerima Diri Sendiri

Seorang psikolog ahli dari Universitas Airlangga, Ike Herdiana mencoba menjelaskan proses memaafkan diri sendiri melalui salah satu artikel Pijar Psikologi (https://pijarpsikologi.org/mengobati-luka-batin-dengan-memaafkan-diri-sendiri/). Memaafkan berarti proses untuk melepaskan rasa bersalah, rasa tidak nyaman, benci, atau marah pada diri sendiri atau pada orang lain, bukan berarti menyangkal atau menghindari segala perasaan negatif tersebut. Memaafkan diri sendiri dapat tercapai saat kamu berhasil mengenali bahwa diri sendiri atau orang lain yang pernah ada dalam hidupmu tidak sempurna dan banyak melakukan kesalahan. Saat kamu mengenali dan menyadari ketidaksempurnaan tersebut, kamu akan sampai pada pemikiran bahwa luka batin yang kamu alami terjadi karena banyak faktor sehingga tidak perlu menyalahkan salah satunya. Memaafkan diri sendiri merupakan awal bagi kita memaafkan orang lain dan kemudian melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif. Memaafkan diri juga akan membantumu lebih mudah untuk menerima diri apa-adanya. Proses memaafkan diri sendiri dapat dillakukan secara bertahap dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Jika merasa sedih, kecewa, kesal, atau marah (emosi negatif), cobalah untuk menstabilkannya dengan berlatih relaksasi pernapasan. Sebelumnya perlu disadari terlebih dahulu: “apa yang aku rasakan saat ini?”, “pada siapa, saat aku sedang menghadapi apa?”. Setelah menyadari, kamu dapat memfokuskan relaksasi pernapasanmu untuk menstabilkan perasaan yang tengah kamu alami. Berikut ini adalah langkah-langkah melakukan relaksasi pernapasan:

  • Posisikan tubuh senyaman mungkin dan rentangkan bagian tubuh yang terasa berat atau tegang

  • Ambil napas dan rasakan nafas itu masuk dari hidung dan mengalir ke dalam tubuh

  • Tahan napas tersebut selama 3 detik, hitung secara perlahan 1 … 2 … 3 …

  • Lepaskan napas perlahan dan rasakan nafas itu keluar dari dalam tubuh

  • Lakukan secara berulang 2-3 kali sampai merasa rileks

2. Mengekspresikan apa yang kamu rasakan melalui self-talk yang bertujuan untuk menyadari apa saja yang kamu butuhkan untuk introspeksi atau mengembangkan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik untuk ke depannya. Dialog ini bisa berfokus pada diri sendiri atau dengan orang lain. Salah satu teknik meditasi Buddha yang bisa dilakukan ketika berbicara dengan diri sendiri dengan mengucapkan:

“Jika aku telah melukai seseorang, sengaja atau tidak sengaja, aku meminta maaf. Jika siapapun telah melukaiku, sengaja atau tidak sengaja, aku memaafkan mereka. Jika aku telah melukai diriku sendiri, sengaja atau tidak sengaja, aku menawarkan permintaan maaf.”

Kamu juga bisa merubah atau membuat kalimatmu sendiri agar membuatmu merasa nyaman untuk mengucapkannya.

3. Membangun kembali pandangan terhadap diri sendiri (citra diri yang baru), lebih positif dengan mengambil hikmah masa lalu sebagai pengalaman maupun pembelajaran yang membantu membentuk diri saat ini.

2. Mencari Dukungan Sosial dan Bantuan Profesional

Sadarilah bahwa dirimu tidak sendiri. Kamu bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang yang kamu percaya atau yang membuatmu nyaman. Berterus terang ke ibu dan ayah tiri juga salah satu cara yang dapat membantu mengurangi gejala PTSD. Akan tetapi, terbuka juga bisa dilakukan secara bertahap, misalnya terbuka ke teman dekat, ke bibi, setelah itu ke orangtua. Dukungan sosial juga penting untuk memberimu apresiasi dan membantumu mengklarifikasi pikiran negatif apakah benar seperti itu adanya atau hanya pemikiranmu semata. Akan tetapi, hanya kamu sendiri yang dapat menentukan kapan kamu merasa mau dan siap untuk terbuka. Ambil waktu sebanyak yang kamu inginkan, karena proses membuka diri bukan hal yang mudah. Berikut ini merupakan salah satu artikel Pijar Psikologi yang dapat membantumu mengenali PTSD dan penanganan lain yang bisa dilakukan:

Apabila kamu masih merasa terganggu dan sulit terlepas dari suicidal thoughts (pemikiran bunuh diri) atau perasaan bersalah, kamu dapat mempertimbangkan untuk melakukan konseling dengan psikolog di puskesmas, rumah sakit atau biro psikologi terdekat. Proses konseling dengan psikolog dapat membantumu berproses untuk memaafkan diri, menyelesaikan trauma yang dialami, serta mengelola pikiran dan emosi menjadi lebih positif. Psikolog juga bisa berperan sebagai jasa untuk melakukan mediasi dan dukungan sosial untuk mengkomunikasikan kondisimu dengan ibu maupun ayah tirimu. Berikut ini adalah salah satu jasa layanan psikolog yang dapat kamu akses di wilayah Tangerang:

P2TP2A Tangerang Selatan

Alamat : Raya No.43, Jl. Ciater Bar., Ciater, Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310

No.Telpon : +62 811-9719-966

Semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat dan sedikit meringankan permasalahan yang kamu hadapi. Proses berdamai dengan masa lalu dan mengenal diri sendiri memang membutuhkan waktu dan kesiapan dalam diri. Meskipun terlihat sulit, bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Percayalah bahwa setiap usaha tidak akan sia-sia, begitu pula perjuanganmu untuk bertahan sampai di titik ini. Oleh karena itu, jangan menyerah dan tetap semangat ya!

Terima kasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Pijar Psikologi

Pijar Psikologi adalah media non-profit yang menyediakan informasi kesehatan mental di Indonesia.

Previous
Previous

5 Kebutuhan Dasar bagi Seorang Anak untuk Tumbuh Menjadi Pribadi Resilien

Next
Next

Cerita Kami: Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri Setelah Mengalami Generalized Anxiety Disorder