Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

CURHAT : Saya Lelah Karena Setiap Hari Pikiran dan Perasaan Saya Sangat Kacau

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Akhir-akhir ini saya sering merasa cemas. Saya juga sering memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan seperti merokok ataupun minum alkohol. Semua ini berawal dari ketika saya merantau untuk menempuh kuliah. Saya menjadi mudah sekali merasa kesepian dan jenuh. Belum lagi ditambah dengan masalah pertemanan di perkuliahan. Beberapa teman saya dari yang dulu baik, sekarang berubah menjadi circle pertemanan yang sangat toxic. Mereka tidak menyukai saya karena beberapa alasan. Pertama, mereka berpikir bahwa saya menggoda pacar salah seorang teman saya sehingga pacarnya menyukai saya. Padahal, saya tidak pernah ada niatan sedikitpun untuk hal-hal seperti itu. Kedua, mereka juga sering menunjukkan sikap iri ketika saya memiliki barang-barang baru. Mereka akan cerewet seputar barang saya seharian dan keesokan harinya, mereka akan membeli barang yang sama.

Awalnya saya mencoba berpikir bahwa ini semua hanyalah berasal dari pikiran saya. Tetapi, semakin lama perasaan ini semakin membuat saya tidak nyaman. Perasaan ini kemudian juga mengganggu saya dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Saya jadi suka tiba-tiba menangis, merasa kesal, dan merasa lelah ketika menjalani hari. Bahkan, suatu waktu saya juga pernah beberapa kali berbicara sendiri, berujar kalau saya lelah, lalu menangis hebat dan menggoreskan gunting ke lengan saya. Apa yang harus saya lakukan agar pikiran dan perasaan saya bisa kembali stabil secepatnya?

Gambaran: Perempuan, 20 Tahun, Pelajar/Mahasiswa.


Jawaban Pijar Psikologi

Terimakasih karena telah mempercayakan Pijar Psikologi untuk menjadi tempatmu berbagi cerita.

Hal pertama yang terbesit setelah membaca ceritamu adalah tidak akan mudah untuk menjadi dirimu yang tetap bertahan dengan situasi di lingkungan pertemanan serta perasaan-perasaan tidak nyaman yang menyertai belakangan ini. Sudah pasti bahwa berada dalam situasi pertemanan yang demikian dalam jangka waktu yang cukup lama akan terasa sangat mengganggu. Wajar jika kamu sekarang cukup lelah dan tiba-tiba menangis. Perlu diingat bahwa menangis itu tidak apa-apaMenangis tidak menjadikanmu pribadi yang lemah. Terkadang, menangis memang cukup membantu melegakan berbagai perasaan negatif yang sudah lama terpendam. Menangis juga mungkin menjadi isyarat tubuhmu yang ingin tetap mempertahankan diri meski berada di situasi yang sulit dan melelahkan. Untuk itu, terima kasih karena kamu tetap bertahan walau mungkin selama ini kamu lebih banyak melalui semuanya seorang diri. Tidak ada salahnya jika sekarang kamu juga berterima kasih pada dirimu sendiri yang telah berjuang banyak untuk dapat melalui hari-hari yang berat kemarin.

Terus terpapar dengan situasi atau kejadian-kejadian tidak menyenangkan dapat berdampak pada bagaimana seseorang akan berpikir. Bisa jadi, seseorang akan menjadi lebih waspada terhadap situasi tidak menyenangkan di masa depan, yang bahkan belum tentu terjadi. Beberapa orang lainnya justru akan mengembangkan pikiran-pikiran negatif terhadap dirinya ataupun orang-orang di sekitarnya. Pikiran-pikiran negatif yang dimaksud ini berupa pikiran seperti, “Jika aku menjadi orang yang buruk, mungkin semua orang membenciku” atau “Jika aku tidak menarik, mungkin semua orang akan meninggalkanku”. Pikiran-pikiran tersebut menurut psikologi klinis terbentuk secara tidak disadari sejak masa kanak-kanak melalui pola asuh orangtua atau adanya respon-respon negatif dari lingkungan terdekat, seperti situasi tidak nyaman dengan orang sekitar (teman, pasangan, keluarga, dosen, dll).

Terus-menerus memiliki pikiran negatif terhadap diri sendiri juga perlu kita waspadai karena dapat memengaruhi perasaan dan bagaimana kita beraktivitas sehari-hari. Untuk itu, mari kita cari tahu tentang kapan pikiran-pikiran tersebut mulai muncul dan alasan dibalik munculnya pikiran negatif seperti itu sebenarnya apa. Mengapa ini menjadi perlu? Karena kita semua berhak untuk diterima dan dicintai apa adanya, setidaknya oleh diri kita sendiri. Mari kita coba melakukan langkah-langkah di bawah ini agar perlahan-lahan bisa mengenali, memahami, menerima serta mencintai diri sendiri secara utuh apa adanya.

  1. Mengidentifikasi pemikiran negatif yang mengganggu

Aktivitas ini bertujuan untuk mengubah pemikiran negatif yang mengganggu. Pada tahapan ini, kita bisa memulainya dengan membuat daftar pikiran-pikiran negatif yang selama ini secara otomatis muncul dalam diri kita. Contohnya seperti, “Aku selalu dipandang rendah oleh teman-temanku”. Kemudian, kamu bisa menuliskan perasaan apa yang menyertai pikiran-pikiran negatif tersebut.  Apakah perasaan itu seperti sedih, atau mungkin merasa bingung dan kesal. Kamu bisa melanjutkan tulisan ini dengan menambahkan situasi apa yang terjadi sampai pikiran negatif ini muncul. Kamu bisa menuliskan hal-hal seperti, “Teman-teman selalu mengacuhkan ceritaku dan tidak mempertimbangkan opiniku ketika kita berdiskusi”. Selanjutnya, lengkapi tulisan ini dengan pernyataan atau respon dari orang-orang di sekitarmu mengenai situasi dan pikiran yang kamu miliki. Apakah menurut orangtua, saudara, teman paling dekat, pasangan, atau guru/dosen, situasi yang kamu alami bermakna bahwa mereka memandangmu rendah? Di samping akan membantumu untuk mengkonfimasi apakah pikiranmu ini benar, aktivitas ini juga akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman dan perspektif lebih luas tentang pemikiran negatif tersebut.  Kamu bisa lebih baik lagi dalam mempertimbangkan apakah pemikiran ini layak untuk tetap dipertahankan ataukah sudah saatnya untuk diubah ke pikiran-pikiran yang positif. Metode ini juga sekaligus bisa membantu mengatasi masalah overthinking yang kamu miliki.

Baca juga: Self-Loathing: Belenggu Membenci Diri Sendiri di sini.

2. Mengevaluasi, menerima kekurangan, dan menemukan kelebihan diri

Kebanyakan orang cenderung lebih mudah menemukan kekurangan dalam diri daripada kelebihan yang dimiliki. Padahal, ada kalanya orang memberikan beberapa penilaian negatif terhadap dirinya yang belum tentu benar dan sudah dianggap sebagai kekurangannya. Misalnya “Aku tidak menarik”, atau “Aku membosankan”. Kali ini, cobalah menuliskan kelebihan dan kekurangan versi dirimu. Kemudian, cobalah untuk mengkonfirmasi penilaian-penilaianmu tersebut kepada orang-orang terdekatmu. Menemukan kelebihan yang disetujui oleh orang disekitar tentu dapat membantumu lebih percaya diri. Sebaliknya, menemukan kekurangan yang dibenarkan oleh orang-orang terdekatmu, mungkin akan membuatmu berkecil hati. Namun, ingatlah bahwa setiap orang pun juga memiliki kekurangan. Dan hal itu wajar. Ada kekurangan yang dapat diubah dan ada pula yang tidak dapat diubah. Jika tidak dapat diubah, salah satu cara agar tetap nyaman adalah menerima kekurangan tersebut sebagai bagian dari dirimu. Tidak apa-apa memiliki kekurangan. Akan menjadi lebih baik jika dapat mengenali, menyadari, memahami, lalu menerima kekurangan, sehingga kita lebih tahu bagaimana akan menempatkan diri di manapun dan kapanpun tanpa mengganggu kenyamanan orang lain.

Baca juga: Self-Compassion: Berbelas Kasih Pada Diri Sendiri di sini.

3. Membiasakan diri untuk memberi afirmasi positif

Afirmasi merupakan serangkaian kata positif yang dapat diucapkan pada diri sendiri dengan penuh keyakinan untuk membentuk citra diri baru dan meningkatkan rasa percaya diri. Setelah melalui kejadian atau situasi buruk, mari membiasakan diri mengatakan hal-hal positif yang didapatkan dari kejadian tersebut. Misalnya, “Walaupun hari ini sulit, tapi aku masih boleh bersyukur karena ternyata aku mampu melaluinya. Aku perempuan yang tangguh”. Memberikan afirmasi positif dapat dilakukan setiap hari untuk membantu diri terbiasa memproses sesuatu secara positif lalu menggantikan pikiran-pikiran negatif yang sering muncul secara otomatis. Percayalah pada dirimu, bahwa pikiran positif yang kamu munculkan akan berdampak pada perasaan serta perilaku yang positif pula.

4. Temui kembali dan kuatkan rasa percaya diri dalam dirimu

Setiap orang sudah dibekali dengan rasa percaya diri. Akan tetapi, tingkat percaya diri satu orang dengan orang lainnya belum tentu sama karena pengaruh pengalaman pribadi dari masa-masa sebelumnya. Beberapa orang yang nampak tidak yakin apakah masih memiliki kepercayaan diri. Beberapa yang lain nampak belum cukup berani untuk menggali, menemui, dan menguatkan kembali kepercayaan dirinya. Hal ini merupakan hal yang biasa karena setiap orang memiliki lini masa serta prosesnya masing-masing. Tidak perlu dipaksakan. Namun, cobalah untuk mulai menemuinya, merangkul, hingga suatu saat dapat menguatkan kembali kepercayaan dirimu. Kamu perlu mencobanya karena kmu berhak mendapatkan kepercayaan dirimu. Lalu, bagaimana caranya? Cobalah luangkan waktu untuk dirimu sendiri, berikan berbagai pertanyaan reflektif terhadap dirimu. Misalnya: Apa yang membuatku menjadi cemas dengan diriku belakangan ini? Ketika aku mampu melakukan hal yang mungkin tidak mampu dilakukan temanku, lalu apa yang membuatku menjadi kurang percaya diri? Apa yang aku butuhkan untuk lebih percaya diri? Apakah aku perlu mengasah keterampilan sosialku sehingga dapat lebih nyaman untuk bergaul dengan berbagai tipe orang?

***

Memang membutuhkan proses untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Tetapi, kamu harus yakin bahwa semua pengorbanan yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri tidak akan berakhir sia-sia. Ambil waktumu tanpa tergesa-gesa dan persiapkan diri untuk keluar dari ketidaknyamanan ini kapanpun saat kamu bersedia. Semoga artikel ini dapat membantumu menghadapi permasalahan ini.

Terimakasih telah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.