Efek Trauma Masa Kecil dan Pengaruhnya

Bayi baru lahir hampir sepenuhnya bergantung pada orang tua atau pengasuh pertamanya. Dalam kondisi optimal, orang tua ataupun pengasuh akan melindungi  dan mendukung proses tumbuh kembang anak. Kehadiran orang tua atau pengasuh secara utuh dan penuh, membuat anak tumbuh dengan baik, baik secara perilaku, emosional dan fisiologis. Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka dengan baik. Dikutip dari VOA Indonesia, lebih dari 4.600 anak telah mengalami kekerasan selama Januari-Juli 2020 ini. Hampir 60% kekerasan tersebut terjadi di dalam rumah. Bahkan, 58,80% kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi dalam rumah tangga. Gambaran kasus tersebut menunjukkan bahwa pelaku kekerasan tertinggi justru berasal dari anggota keluarga sendiri.

Tumbuh sebagai seorang anak yang mengalami dan/atau menyaksikan kekerasan bukan hal yang mudah. Apalagi, anak belum cukup piawai untuk memahami dan mengungkapkan apa yang ia alami dan rasakan. Apabila terus dibiarkan, tanpa mendapat penangan yang tepat, luka pada anak akan tumbuh semakin kuat seiring ia bertumbuh besar.

Kekerasan pada Anak

Menurut Minzenberg, Poole, dan Vinogradov, trauma masa anak terdiri dari beberapa macam, antara lain: kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, penolakan fisik, penolakan emosional, dan menyaksikan kekerasan.

Kekerasan fisik. Ketika orang tua atau pengasuh menyebabkan luka fisik pada anak. Beberapa contoh dari kekerasan fisik ialah menendang, memukul, mencekik, mencambuk, atau tindakan lainnya yang melukai anak.

Kekerasan seksual. Ketika seseorang yang lebih tua atau punya kuasa lebih daripada anak, melibatkan anak dalam tindakan seksual atau menjadikan anak sebagai tujuan seksual. Contoh kekerasan seksual adalah menunjukkan organ intim pada anak, melakukan kontak seksual dengan anak, prostitusi serta pornografi anak.

Kekerasan emosional. Saat perilaku orang tua atau pengasuh membahayakan perkembangan mental dan sosial anak, juga berdampak besar pada sisi emosional anak. Sebagai contoh, menolak, mengabaikan, merendahkan, menyalahkan, serta mengekang.

Penelantaran. Apabila orang tua atau pengasuh tidak memberi pengasuhan, perhatian, pendampingan, afeksi serta dukungan untuk memenuhi kebutuhan anak. Kebutuhan anak mencakup kesehatan, keamanan dan kesejahteraan. Contoh dari penelantaran anak adalah tidak memenuhi kebutuhan dasar anak (makanan dan pakaian), mengurung anak di ruangan, atau meninggalkan anak di tempat yang berbahaya bagi dirinya.

Efek Kekerasan pada Anak

Dikutip dari laman Kesejahteraan Anak, pelecehan dan penelantaran anak tidak hanya meninggalkan luka fisik dan emosional, tetapi juga menyebabkan trauma dan stres berkepanjangan. Kehadiran trauma turut berdampak pada kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi pada perubahan tidak biasa yang terjadi dalam hidupnya. Respons terhadap trauma yang dialami oleh anak-anak dan remaja mungkin dapat berbeda, antara lain tidak percaya dengan orang lain (bahkan orang terdekat) serta menarik diri dari keluarga dan teman.

Seorang anak yang mengalami kekerasan dari orang terdekat akan memandang dunia menjadi tidak nyaman dan tidak aman. Anak juga akan menganggap dirinya tidak berharga. Selain itu, anak memilih bersikap agresif untuk melindungi diri. Anak menilai bahwa kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. Kalau pun ia mengalami masalah, ia dapat memilih untuk melukai diri demi melupakan kesedihan.

Seiring tumbuh dewasa, anak yang pernah menyaksikan atau mengalami langsung peristiwa kekerasan turut merasakan efek negatif dari peristiwa tersebut. Efek negatif seperti, kesulitan dalam menjalin relasi romantis, menampilkan perilaku berisiko (merokok, minum minuman keras, maupun menggunakan obat-obatan terlarang), serta melakukan kekerasan terhadap pasangan atau diperlakukan secara kasar oleh pasangan. Efek lainnya dari peristiwa kekerasan adalah trauma yang turut hadir dalam kehidupan. Trauma pada anak menjadi faktor risiko berkembangnya masalah dalam hidup manusia. Masalah berupa masalah medis (serangan jantung, stroke, kanker, atau obesitas) serta masalah kejiwaan (depresi, PTSD, dan lainnya). Faktor risiko ini akan semakin menguat ketika seseorang belum menyadari atau menyangkal bahwa ada trauma masa lalu yang mempengaruhi kondisi hidupnya.

Salah satu ciri adanya trauma dalam hidup manusia adalah, sering melindungi diri dari tekanan, seperti dengan penolakan. Penolakan yang dimaksud yaitu, belum dapat mengakui adanya peristiwa kurang menyenangkan di masa lalu, hingga membuatnya sangat terluka. Ia mencoba untuk menormalkan luka di masa lalu dan merasa semua orang turut mengalami luka yang serupa.

***

Trauma, sebuah luka yang begitu membekas dan berpengaruh besar di berbagai aspek kehidupan. Seandainya bisa memilih, tidak ada satupun anak yang ingin tumbuh bersama trauma. Namun sayangnya, kehadiran trauma benar-benar nyata dan tidak semudah itu untuk bisa bebas darinya.

Bagi siapapun yang sedang berjuang menghadapi trauma, ingatlah..  kamu tidak sendiri. Kehadiran orang tersayang serta doa yang tulus demi kebaikanmu turut hadir dalam proses perjalananmu. Janganlah ragu untuk meminta pertolongan. Karena sesungguhnya, meminta pertolongan adalah bentuk sayang terhadap diri sendiri untuk bisa kembali kuat dan membaik atas kesulitan yang terjadi.

Arikel ini adalah sumbang tulisan dari Inta Jannah. Inta adalah mahasiswa psikologi Universitas Indonesia. Inta dapat dihubungi melalui e-mail: intajannah@gmail.com

Inta Miftakhul Jannah

Inta adalah mahasiswa Magister Sains Ilmu Psikologi dengan program peminatan kepribadian di Universitas Indonesia dan memiliki ketertarikan untuk mendalami topik tentang The Dark Side of Personality serta pengaruhnya. Inta dapat dihubungi melalui email intajannah@gmail.com dan Instagram @intamifja

Previous
Previous

Doing Less: Ketika Kuantitas Tidak Selalu Menjadi Tujuan Kebahagiaan

Next
Next

Internet Trolling: Bukti Panas-nya Komentar Netizen di Media Sosial