Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Hati-Hati dengan Kebahagiaan Sementara di Balik Belanja

Masih ingatkah Anda euforia ketika tanggal 11 November 2018 lalu, untuk merayakan Single Day, beberapa perusahaan e-commerce memberikan diskon besar-besaran? Atau mungkin hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang akan digelar tanggal 11-12 Desember 2018 nanti. Tak elak lagi, masyarakat Indonesia akan disibukkan mencari barang murah yang bisa didapatkan  dengan segera. Fatalnya kita sendiri bahkan tak pernah benar-benar tahu apa yang kita butuhkan. Tak jarang kita terbius dan terlena dalam sekejap setelah membuka aplikasi e-commerce untuk mencari aneka barang diskon.

Lalu, sebenarnya apa yang menjadi alasan kita untuk membuka aplikasi e-commerce dan mencari barang diskon walau sebenarnya tak benar-benar kita butuhkan?

Konsumerisme dan Kehidupan Kita

Saat ini kita dihadapkan dengan fenomena konsumerisme. Tak ada yang salah sebenarnya dengan berbelanja. Yang kadang kurang tepat  adalah menjadikan setiap hal yang ingin kita beli sebagai alasan akan kebahagiaan. Inilah yang dikatakan kebahagian semuApalagi iklan dari e-commerce memang dirancang untuk membuat kita, sebagai calon konsumen, untuk terus beli, beli, dan beli.  Dalam istilah marketing atau advertising hal ini disebut dengan re-targeting audience.

Ya, itulah salah satu bentuk dari konsumerisme. Kita seolah-olah merasa butuh, padahal yang kita kejar adalah rasa bahagia yang semu.  Kebanyakan dari kita tak sadar, kalau bahagia dikaitkan dengan benda, sifatnya benar-benar hanya sementara. Misalnya kita merasa bahagia sekali sesaat setelah membeli gadget terbaru, sehingga saat gadget tersebut jatuh dari ketinggian 20 cm kita akan langsung mengecek apakah ada yang lecet atau tidak. Padahal gadget itu sudah dilapisi case yang tebal dan antigores yang cukup aman. Tapi mengapa kita menjadi kalut? Karena bisa saja, mungkin kita telah mengikat bahagia di balik benda.

Sadari Sumber Bahagiamu

Salah satu alasan mengapa kita terpacu untuk membuka aplikasi e-commerce adalah ketagihan berbelanja. Efek dopamin yang dihasilkan oleh neuron saat pertama kali berbelanja, memicu otak untuk bergerak menginginkan lebih. Padahal sumber bahagia bukanlah dari keberadaan bendanya, tapi justru pada makna yang kita bangun atas benda tersebut. Oleh karena itu, kita bisa lihat ada brand dan merek terkenal yang diciptakan oleh produsen. Mereka menciptakan persepsi agar customer bisa merasakan sensasi tertentu.

Namun, hal yang perlu kita sadari adalah sumber dari bahagia itu sendiri. Karena bahagia berkaitan dengan aturan dalam diri, maka sadarilah aturan itu. Misalnya, “Bila aku memakai gadget keluaran terbaru,  akan banyak orang yang menyukaiku, maka aku bahagia”. Ada orang tertentu yang ketika tidak bisa keep-up dengan trend masa kini, akan merasakan kekecewaan, yang tidak lain tidak bukan adalah karena ada aturan dalam dirinya yang terbentuk bahwa mengikuti trend atau menjadi gaul adalah sebuah kebanggaan yang mengahasilkan rasa bahagia.

Hal yang sama terjadi kita melihat diskon di pusat perbelanjaan. Karena diskon adalah pemicu dan di dalam diri kita telah tertanam aturan “Bila ada diskon, aku harus segera memanfaatkannya, maka aku belanja, dan aku akan bahagia”. Kalau aturan itu tidak terpenuhi, hadirlah rasa gelisah dan kecewa dalam diri kita.

Buatlah Aturan Sesederhana Mungkin

Beberapa orang mengatakan bahagia itu sederhana. Itu memang benar adanya. Buatlah syarat yang sederhana dan mudah terpenuhi untuk diri sendiri. Misal “Aku bersyukur masih bisa bernafas dengan tenang di hari ini. Maka aku akan berbahagia”. Sesederhana itu. Karena sebenarnya yang membuat bahagia itu terasa sulit dicapai adalah aturan dan syarat yang terlalu rumit. Bahagia dimulai dari kita sendiri. Bukan orang lain atau benda-benda. Bila kita masih merasa kesulitan untuk mengendalikan kebiasaan berbelanja, kita bisa mulai dengan mengurangi intensitas membuka aplikasi e-commerce atau mengurangi intensitas untuk pergi ke pusat-pusat perbelanjaan.

—-

Mulai dari detik ini, sadari dan dengarkan apa alasan pribadi kita dalam membeli barang. Apakah kita benar-benar butuh, atau sekadar mencari sensasi bahagia saja?

Sederhanakan aturan bahagia untuk diri sendiri, maka bahagia itu sendiri akan mudah diraih.

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Dwi Andika Pratama yang berprofesi sebagai blogger sekaligus mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Dwi Andika Pratama sangat suka membaca buku tentang pengembangan diri dan Psikologi. Ia menulis tulisan ini karena terinspirasi dari buku The Art of Living karya Eric Fromm. Ia ingin berbagi ide bahwa bahagia akan lebih mudah dicapai setelah kita menyederhanakan aturan dalam diri kita. Dwi Andika Pratama dapat dihubungi di blog: www.dwiandikapratama.com dan akun Instagram @kadikatalk.