Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Internet Trolling: Bukti Panas-nya Komentar Netizen di Media Sosial

Beberapa dari kita mungkin pernah membaca komentar-komentar di media sosial yang membuat emosi bergejolak, seperti komentar yang mengandung unsur provokasi, hinaan, sarkasme, ataupun out-of-topic sehingga menyebabkan “kerusuhan” di dunia maya. Mungkin juga kita pernah mengikuti perbincangan yang sebenarnya tidak ada arahnya karena ada beberapa akun dengan sengaja menuliskan pendapat yang kontroversial dengan seenaknya. Kita telah menyaksikan atau bahkan menjadi korban dari salah satu permasalahan dunia maya yang disebut dengan fenomena internet trolling.

***

Online trolling atau internet trolling bisa diartikan sebagai bentuk perilaku yang memiliki sikap menipu (deceptive), merusak (destructive) atau mengganggu (disruptive) di lingkup sosial dunia maya dengan tujuan yang tidak jelas. Orang yang melakukan online trolling ini disebut dengan internet troll. Merebaknya fenomena ini menarik perhatian para ahli untuk dapat memahami perihal mendasar seseorang menjadi pelaku (internet troll). Kebebasan berekspresi, anonimitas, dan keterbatasan cara membalas di laman media sosial menjadi salah satu magnet kuat bagi sebagian pengguna untuk tidak segan meninggalkan segala bentuk komentar buruk di dunia maya. Motivasi internet trolls bisa dilandasi oleh perasaan bosan, mencari perhatian, balas dendam, kepuasaan, dan keinginan untuk menyebabkan kerusakan di komunitas daring. Internet trolls akan merasa senang dan puas ketika berhasil membuat kekacauan dalam komunitas daring dan mendapatkan reaksi emosional dari korban-korbannya.

Topik hangat yang saat ini sedang banyak diteliti adalah keterkaitan antara kepribadian seseorang dengan fenomena internet trolling. Salah satu penelitian menemukan hubungan antara Dark Tetrad Personality traits (terdiri dari trait narsisistik, psikopati, machiavellianism, sadisme) dengan perilaku internet trolling. Dark Tetrad Personality trait sendiri dicirikan dengan empat sifat individu yang dirasa sebagai sikap “menyerang” dalam norma sosial, tetapi tidak sampai pada taraf patologis. Selain itu, internet trolls memiliki kecenderungan kepribadian psikopati dan sadisme yang tinggi. Internet trolls dijelaskan cenderung senang melakukan tindakan trolling, kurang mampu berempati sehingga rasa penyesalan rendah serta merasakan kesenangan saat berhasil membuat korbannya emosional dengan komentar-komentarnya yang kejam dan jahat. Meski demikian, penting untuk disadari bahwa kepribadian psikopati maupun sadisme dalam pengertian ini terjadi pada suatu spektrum. Artinya seseorang dapat memiliki kecenderungan yang lebih atau kurang atas kedua kepribadian tersebut sehingga tidak dapat dijadikan sebagai standar diagnosa kepribadian seseorang melainkan dapat menjadi salah satu bahan evaluasi dari perilaku internet trolls.

Apa dampak dari Internet Trolling?

Penelitian mengenai dampak dari fenomena ini telah dilakukan dan melaporkan hasil yang memprihatinkan. Hasil penelitian dari Coles dan West melaporkan bahwa internet trolling meningkatkan kemungkinan gagasan bunuh diri dan menyakiti diri sendiri (self-harm). Selain itu, apabila terus terpapar fenomena ini besar kemungkinan akan menambah stres keseharian dan mengganggu aktivitas lain di media sosial. Sebagai contoh, kasus Via Vallen yang mengaku merasa depresi, malu, enggan tampil di acara televisi hingga sempat berpikir ingin bunuh diri, setelah ia menerima komentar hujatan dari netizen di akun media sosialnya. Kita mengenal istilah haters sebagai seseorang yang kerap memberikan komentar negatif, tetapi penting diketahui bahwa haters merupakan salah satu jenis internet troll yaitu Si “Dominant Snert”. Sama halnya yang terjadi pada kasus bunuh diri yang dilakukan oleh artis Korea, Sulli. Sulli ditemukan bunuh diri akibat ulah komentar “panas” dari netizenTentu kita tidak ingin adanya pengulangan kejadian yang dapat merusak maupun menghilangkan nyawa seseorang, maka dari itu perlu tindakan pencegahan terhadap fenomena internet trolling.

Bagaimana menghadapi Internet Trolls?

Perlu adanya pencegahan terhadap akibat fatal dari internet trollings. Pengguna sosial media perlu memahami bahwa sebagian internet trolls merupakan orang-orang yang sulit untuk dipahami karena adanya kecenderungan kepribadian tertentu yang dianggap sebagai kepribadian yang kurang bisa diterima oleh norma sosial. Apabila melihat komentar yang sudah memuat SARA, maka ada fitur dalam media sosial yang dapat digunakan sebagai bentuk melaporkan. Selain itu, sudah adanya tindakan hukum dalam konteks penyampaian pendapat di media umum. Saat ingin membaca komentar netizen perlu adanya kesadaran diri dan sejenak menanyakan pada diri sendiri tentang niat untuk membaca komentar. Bisa jadi, diri hanya bosan atau membutuhkan kesenangan sesaat, namun apakah perasaan sesaat itu layak untuk dikorbankan dengan kesehatan mental diri? Perlu dipahami ulang bahwa internet trolls merasa puas karena bisa “menyerang” dan menghasilkan respons emosi negatif dari penonton, sehingga sebisa mungkin pengguna media sosial dapat menjaga ketenangan emosionalnya. Layaknya aktivitas memancing, ikan yang tergiur dengan pancinganlah yang akan terjerat, sehingga perlu kepekaan dalam melihat suatu kondisi saat hendak membaca komentar di media sosial. Bagi pembaca yang mungkin adalah korban dan sedang berjuang mengatasi dampak psikologis dari fenomena internet trolling, disarankan untuk menghubungi ahli profesional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penyelesaian akan permasalahan dan bantuan lanjutan sesuai kebutuhan. Bagi pengguna media sosial, mari patuhi aturan dan ketentuan yang berlaku untuk menciptakan komunitas daring yang aman dan nyaman bagi semua pengguna.