Ketika Negeri Tidak Baik-baik Saja
Jikalau kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, wajar.
Karena negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Sudah berbulan-bulan hati terasa tidak nyaman. Lelah, marah, takut, dan muak - emosi yang mewakili banyak dari kita saat ini. Pagi ini, kita bangun dengan kabar duka: satu nyawa melayang karena kekerasan aparat dalam aksi damai semalam. Bukan hanya tubuh yang ditindas, tapi juga suara-suara yang berusaha menyampaikan hati nurani. Tak ada empati dari kursi-kursi kekuasaan; justru kritik dibalas caci, dan jeritan dibalas bungkam.
Bagi banyak orang, tubuh hari-hari ini terasa asing: kepala berdenyut tanpa sebab, perut kram meski tak olahraga, dada sesak oleh kecemasan yang tak punya nama. Ini bukan hanya respon fisik biasa. Ini adalah manifestasi dari apa yang dalam psikologi disebut collective stress – tekanan mental dan emosional yang muncul secara massal, sebagai dampak dari situasi sosial yang mencekam.
Mari kita berhenti sejenak. Tarik napas yang dalam. Rasakan tubuhmu.
Apa yang ia katakan?
Jika kamu merasakan banyak bagian tubuhmu yang tidak nyaman, kaku, nyeri, sesak, atau mungkin ingin/sudah menangis, lepaskanlah.
Perasaanmu valid. Nyeri tubuhmu valid.
Dia sedang marah. Lagipula, siapa yang bisa tidak marah sekarang?
Belum selesai dengan PR transgenerational trauma warisan dari penjajahan, kerusuhan ‘98, krisis moneter, dan isu kemiskinan yang sudah berlangsung puluhan tahun, rakyat justru diberikan luka baru. Lelah? Pasti. Marah? Manusiawi.
Kemarahan kolektif yang muncul hari-hari ini adalah wajar. la adalah alarm yang menunjukkan bahwa ada ketidakadilan yang kita rasakan. Tapi di balik kemarahan itu, ada hal lain yang sama pentingnya untuk dijaga: hati nurani, kasih sayang, dan kewarasan. Karena tanpa itu, kita hanya akan menjadi pantulan dari apa yang kita lawan.
Kita boleh kecewa, boleh marah, boleh menuntut perubahan-tapi jangan berhenti merasa. Jangan berhenti peduli, terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri. Boleh berteriak lantang, tapi juga sisakan ruang untuk mendengar dan merawat. Ingatkan satu sama lain untuk makan, minum, istirahat. Pegang tangan temanmu, tanyakan kabarnya, dan bila perlu: marahlah bersama.
Merawat diri bukan bentuk eskapisme. Itu adalah bentuk perlawanan. Di tengah sistem yang tak berpihak pada hidup, merawat kehidupan (kesehatan mental kita, relasi kita, rasa kemanusiaan kita) adalah tindakan politik yang paling humanis yang bisa kita berikan.
Kita masih punya satu sama lain. Dan selama kita tetap mau merasa, merawat, dan menyuarakan dengan nurani, harapan belum padam.
Jangan pernah meremehkan kekuatan hati yang lembut dalam menghadapi dunia yang keras.
Kita sedang sakit, tapi kita belum kalah.
Mari tetap hidup, tetap peduli, dan tetap berjuang-dengan penuh kasih.
Salam berpijar untuk negeri.