20 Tips tentang Hak Asuh untuk Ibu dengan Gangguan Mental

Melahirkan dan membesarkan anak merupakan keinginan terbesar hampir seluruh wanita, termasuk para wanita dengan Serious Mental Illness (SMI). Wanita dengan SMI adalah wanita yang pernah mengalami gangguan psikologis yang menyebabkan menurunnya atau menghilangnya kemampuan melakukan aktivitas harian. Riwayat gangguan mental membuat ibu dengan gangguan mental menghadapi tantangan yang lebih berat. Tantangan tersebut menjadikan ibu dengan SMI menghadapi ketakutan baru: kehilangan hak asuh.

Peran menjadi ibu tanpa gangguan mental saja sudah berat. Menjadi ibu dengan gangguan mental menjadikan tantangannya bertambah dua kali lipat. Mereka perlu merawat diri mereka sendiri untuk mengantisipasi kemungkinan kambuhnya gangguan mental. Kembalinya gangguan mental merupakan sesuatu yang dapat terjadi kapan saja. Stres berlebih merupakan salah satu pemicu gangguan mental dapat kambuh kembali. Di sisi lain, ibu dengan SMI memiliki anak yang menuntut perhatian mereka 100% sehingga perhatian ibu dengan SMI dapat terpecah antara merawat dirinya sendiri dan anaknya. Tantangan yang dialami tersebut menjadikan tugas ibu dengan SMI lebih berat dibandingkan ibu yang tidak memiliki SMI.

Anak dapat menjadi motivasi untuk bangkit dan melakukan pengobatan. Sementara kehilangan hak asuh adalah mimpi buruk yang bersedia datang kapan saja. Akan tetapi, kambuhnya gangguan mental dapat memengaruhi tumbuh kembang dan keamanan anak. Kambuhnya gangguan mental tersebut turut berperan memengaruhi kemungkinan ibu dengan SMI untuk kehilangan hak asuh.

Baca selengkapnya mengenai ibu dengan SMI di sini.

Bagi ibu dengan SMI, hak asuh anak bisa hilang meskipun hubungan mereka dengan pasangan baik-baik saja. Meski begitu, ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan hak asuh.

Pencegahan Agar Tidak Kehilangan Hak Asuh

Bagi ibu dengan gangguan mental, terdapat beberapa cara yang dapat membantu mencegah hilangnya hak asuh anak.

  1. Mengunjungi psikolog/psikiater secara reguler. Kunjungan tetap ke psikolog/psikiater juga dapat membantu ibu dengan SMI untuk tetap stabil dan mencegah kembalinya gangguan mental. Kunjungan reguler ke psikolog/psikiater juga dapat dijadikan bukti hukum bahwa ibu telah berusaha mempertahankan kondisi mentalnya sebaik mungkin.
  2. Memahami gangguan mental yang dialami dan seluk-beluknya. Ibu dengan SMI perlu mengetahui gambaran jelas tentang gangguan mental yang dialami. Ketahuilah gejala-gejalanya, cara-cara untuk tetap stabil, dan apa saja yang mungkin dapat memicu gangguan tersebut kambuh.
  3. Lebih memerhatikan kesehatan fisik dan mental diri sendiri. Ibu seringkali lupa mengurus dirinya sendiri karena terlalu sibuk mengurus anak-anaknya. Bagi ibu dengan SMI, penting untuk mengetahui strategi-strategi yang dapat dilakukan agar tetap sehat secara fisik dan mental. Diet yang tepat, waktu tidur yang cukup, meditasi atau berolahraga secara teratur dapat menjadi cara-cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar terhindar dari stres berlebih.

Baca selengkapnya tentang metode self-care di sini.

  1. Menaruh perhatian pada tanda-tanda kembalinya gangguan mental. Ibu harus peka pada tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan gangguan akan kambuh. Ketika tanda-tanda mulai muncul, penting bagi ibu untuk mengonsultasikannya dengan psikolog/psikiater untuk mencegah kemungkinan gejala tersebut semakin memburuk.
  2. Menuliskan rencana krisis. Ibu harus memiliki crisis plan yang dapat digunakan untuk berjaga-jaga jika suatu hari gangguan mental yang dimiliki ibu kambuh dan terpaksa dirawat inap. Rencana tersebut meliputi nama, alamat dan nomor telepon orang-orang yang bisa mengambil alih pengasuhan anak jika ibu dirawat inap. Pastikan rencana tersebut tertulis rapi dan konfirmasikan pada pihak-pihak yang terkait dalam rencana tersebut. Jangan lupa untuk selalu memperbaharui informasi yang tertulis dalam rencana krisis tersebut.
  3. Memaksimalkan kemampuan. Manfaatkan semua sumber daya yang ada. Ikuti kelas-kelas dan pelatihan parenting. Ikuti komunitas dan support group yang tersedia bagi sesama orang tua dengan gangguan mental. Usaha-usaha ini akan memperkaya kemampuan parenting ibu dengan SMI sekaligus membantu mereka untuk memperoleh dukungan moral.
  4. Mendokumentasikan rutinitas keluarga. Saran ini mungkin terdengar agak janggal. Ibu perlu mendokumentasikan aktivitas parenting seperti bagaimana cara ibu membantu anak menyelesaikan masalah. Biasanya ibu tidak akan terpikir untuk membuat foto atau video mengenai caranya mendidik anak. Akan tetapi, ibu perlu mencegah kemungkinan akan menghadapi pihak lain di pengadilan jika terjadi perebutan hak asuh anak. Dokumentasi ini dapat menjadi bukti untuk meyakinkan hakim bahwa ibu sudah berusaha menjadi orang tua yang baik.
  5. Mencari bantuan hukum yang kuat. Ibu perlu menjaga hubungan baik dengan pengacara yang memahami masalah gangguan mental dan bersedia berkoordinasi dengan psikolog/psikiater dalam menangani perkara. Gunanya tentu untuk membantu ibu membela diri jika terdapat pihak-pihak yang ingin mengambil alih hak asuh anak.
  6. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman. Hubungan yang baik dengan orang sekitar juga dapat menjadi dukungan tambahan bagi ibu dengan SMI dalam melaksanakan tugas parenting. Selain itu, ketika suatu saat ibu harus menghadapi sidang perebutan hak asuh anak, ibu tentu membutuhkan saksi untuk menguatkan argumennya. Hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman dapat memperkuat jaringan saksi saat terjadi peradilan tersebut.

Jika Ibu dengan SMI Sudah Kehilangan Hak Asuh

Lalu bagaimana jika ibu dengan SMI sudah kehilangan hak asuh anak? Tidak apa-apa jika ibu merasa sedih, namun dunia tidak akan berhenti karena kehilangan hak asuh. Terdapat banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu yang sudah kehilangan hak asuh anak untuk berdamai dengan peristiwa tersebut.

  1. Lanjutkan konseling dan terapi yang dibutuhkan. Konseling dan terapi dapat menunjukkan keinginan dan usaha kuat ibu untuk pulih. Hal ini juga dapat digunakan sebagai bukti hukum di pengadilan selanjutnya bahwa ibu sudah berusaha mengelola gangguan mentalnya dengan baik.
  2. Jangan terlalu memikirkan perkataan orang lain tentang kehilangan hak asuh. Orang luar tidak pernah mengetahui kejadian sebenarnya yang terjadi dalam rumah tangga. Ibu bisa saja sudah melakukan segala hal dengan maksimal namun orang lain berpikiran sebaliknya. Tidak terlalu memikirkan perkataan orang lain juga dapat menghindarkan ibu dari rasa bersalah dan malu.
  3. Ambil alih kontrol diri. Ketika ibu kehilangan hak asuh, ibu akan merasa kehilangan kontrol. Berusahalah untuk mengambil alih kembali kontrol tersebut. Coba lakukan hobi dan hal-hal menyenangkan lainnya. Fokuskan pemikiran pada sesuatu yang bisa dikontrol, bukan pada sesuatu yang hilang.
  4. Berusahalah untuk mengembangkan kapasitas diri sendiri. Saat sedang tidak bersama anak, fokuskan pemikiran untuk pengembangan diri sendiri. Lakukan sesuatu yang baru dan pahami diri sendiri.
  5. Berdamailah dengan diri sendiri. Jangan menyalahkan apa yang terjadi pada diri sendiri. Dunia tidak akan runtuh sekarang dan ibu masih memiliki waktu untuk memperjuangkan hak asuh anak kembali.
  6. Beri jeda antara putusan hakim dengan usaha pengambilan hak asuh anak selanjutnya. Beri waktu untuk diri sendiri untuk dapat berkembang menjadi lebih baik sebelum kembali melayangkan gugatan hak asuh.
  7. Gunakan waktu kunjungan legal dengan anak secara maksimal. Ketika kehilangan hak asuh, waktu bertemu dengan anak berkurang secara signifikan. Ibu perlu memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan anak. Yakinkan kepada anak bahwa ibu akan selalu ada untuk mereka meskipun ibu tidak tinggal bersama mereka.
  8. Berusaha untuk tetap ada untuk anak. Sebisa mungkin ikutlah dalam setiap momen penting anak. Tunjukkan pada anak bahwa ibu adalah orang tua yang terbaik dan ibu sudah melakukan semua hal yang ibu bisa untuk menjadi orang tua sebaik mungkin.
  9. Hindari membicarakan perkara hak asuh dengan anak. Berikan penjelasan yang baik tentang ketidakhadiran ibu, namun jangan membicarakan perselisihan yang terjadi antara ibu dan pemegang hak asuh. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari gambaran buruk yang terbentuk di benak anak mengenai orang yang saat ini mengasuhnya.
  10. Sewa pengacara. Jika ibu belum memiliki pengacara, cobalah untuk menyewa pengacara yang memahami masalah gangguan mental dan mau berkoordinasi dengan psikolog/psikiater dalam menangani kasus. Pengacara dapat memberikan informasi dan membuat ibu yakin bahwa ibu masih memiliki hak-hak atas anaknya, baik sekarang maupun di masa depan.
  11. Pelajari sistem hukum. Selain menyewa pengacara, ibu juga harus mempelajari sistem hukum sendiri sehingga dapat menyiapkan langkah-langkah hukum yang bisa dikerjakan sendiri. Hal ini juga memungkinkan ibu untuk menghemat biaya sewa pengacara.

Kehilangan hak asuh anak bukanlah akhir dari segalanya. Hak asuh anak dapat diperjuangkan kembali dan ibu dengan SMI masih memiliki kesempatan untuk meraih kembali hak asuh. Poin terpenting adalah ibu harus senantiasa menjaga kesehatan fisik dan mentalnya agar terhindar dari kehilangan hak asuh. Ibu juga perlu tetap semangat dan tidak mudah menyerah ketika kehilangan hak asuh, karena masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh hak asuh kembali.

Let others know the importance of mental health !