Laki-laki dan Bunuh Diri

sumber unsplash.com.jpg

Catatan Penulis:
Segala bentuk informasi yang tertulis dalam artikel ini dimaksudkan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran pembaca mengenai pentingnya literasi kesehatan mental. Penulis sangat menganjurkan pembaca agar segera menemui tenaga professional (psikolog/psikiater) apabila memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.


Jumlah kematian akibat bunuh diri hingga saat ini masih memprihatinkan. WHO menyebutkan bahwa sebanyak 703.000 orang di dunia meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Bunuh diri merupakan penyumbang angka kematian yang lebih besar dibandingkan dengan kematian akibat malaria, HIV/AIDS, dan kanker payudara. Dalam datanya, WHO memaparkan bahwa kematian akibat bunuh diri memiliki prevalensi lebih tinggi pada mereka yang berjenis kelamin laki-laki dengan risiko kematian bunuh diri 3 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Pada tahun 2019, jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia mencapai 6.544 kasus dengan prevalensi jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan. Angka yang cukup memprihatinkan dan membutuhkan langkah preventif lebih untuk menekan jumlah kasus di waktu mendatang.

Belum lama ini, tepatnya pada tanggal 1 September 2021, diberitakan bahwa salah seorang mahasiswa di kota Malang melakukan percobaan bunuh diri. Mahasiswa tersebut mengaku melakukan percobaan bunuh diri dikarenakan depresi akibat banyaknya tekanan-tekanan yang dialaminya meliputi permasalahan ekonomi, keluarga, dan percintaan. Berita tersebut memicu respons pro dan kontra dari masyarakat Indonesia. Mereka yang prihatin dengan kondisi mahasiswa tersebut mengajak orang-orang untuk segera mencari bantuan profesional apabila memiliki permasalah psikologis. Namun, tidak sedikit pula yang justru melayangkan cercaan pada mahasiswa tersebut. Berkaca dari kasus ini, dapat dilihat bahwa stigma yang melekat pada masyarakat Indonesia mengenai isu-isu kesehatan mental masih sangat kuat, terutama terhadap laki-laki. Lantas, mengapa laki-laki lebih berisiko meninggal akibat bunuh diri dibandingkan perempuan

Baca juga Siapa Saja yang Berisiko Bunuh Diri? di sini

Peran Maskulinitas

Terdapat konsep maskulinitas “ideal” yang harus dipenuhi laki-laki agar dapat diterima dalam masyarakat. Konsep ini pun berbeda secara lintas generasi. Contohnya pada kelompok remaja laki-laki, maskulinitas yang “ideal” adalah mereka yang kuat dan kompetitif, ditunjukkan dengan minat mereka dalam berolahraga. Sementara itu, maskulinitas “ideal” pada laki-laki dewasa meliputi mereka yang mapan dan berhasil dalam hubungan romantis. Dari konsep maskulinitas tersebut kemudian terbentuklah perfeksionisme sosial. Perfeksionisme sosial adalah persepsi dimana laki-laki “harus” memenuhi ragam ekspektasi. Ekspektasi berupa laki-laki kuat, tangguh, mapan, maupun sukses. Padahal, memenuhi satu ekspektasi yang ada dalam masyarakat bukan hal yang mudah. Hal inilah dapat menjadi pemicu munculnya risiko bunuh diri pada laki-laki. 

Ketika seorang laki-laki tidak berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat, maka ia akan cenderung merasa kehilangan kehormatan. Hal ini berkaitan dengan sifat dasar laki-laki yang cenderung kompetitif. Sifat kompetitif, terutama seputar pekerjaan, inilah yang kemudian dapat menjadi pemicu dari perilaku bunuh diri pada laki-laki saat mereka tidak dapat bersaing dengan lingkungan sekitar.

Help-seeking Behavior pada Laki-Laki Rendah

Salah satu tantangan berat yang dihadapi oleh para tenaga profesional (psikolog atau psikiater) adalah membujuk masyarakat yang berisiko bunuh diri untuk mencari bantuan. Sebuah penelitian menyatakan, laki-laki enggan untuk mencari bantuan profesional bahkan setelah melakukan percobaan bunuh diri fatal. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran individu terhadap gejala psikopatologi yang dialaminya. Selain itu, adanya peran konsep maskulinitas yang membuat laki-laki enggan untuk mencari bantuan professional sebagaimana mereka percaya bahwa mereka harus menjadi golongan jenis kelamin yang “kuat”. 

Kapabilitas untuk Melakukan Bunuh Diri

Seseorang yang memiliki pemikiran bunuh diri, belum tentu melakukan percobaan bunuh diri. Bersamaan dengan pemikiran bunuh diri, individu juga memiliki kapabilitas yang tinggi sebelum melakukan percobaan bunuh diri yang fatal. Sifat bawaan, seperti agresivitas dan menyukai tantangan dapat menjadi penyebab tingginya risiko bunuh diri pada laki-laki. Sebuah penelitian mengungkapkan, peran sosial tradisional terhadap laki-laki dapat berdampak pada meningkatnya pain tolerance dan menjadikan mereka tidak takut untuk mati sehingga kapabilitas laki-laki untuk melakukan bunuh diri cenderung tinggi.

Baca juga Saya Terus Berpikir Ingin Bunuh Diri. Apa yang Harus Saya Lakukan? di sini

Apa yang bisa dilakukan?

Semua lapisan masyarakat, tak terkecuali laki-laki atau perempuan, berisiko melakukan percobaan bunuh diri. Terlebih dengan adanya konsep maskulinitas yang hidup dalam masyarakat menjadikan mereka yang berjenis kelamin laki-laki enggan untuk mencari bantuan professional. Tenaga profesional perlu melakukan upaya mendalam untuk mendorong mereka yang terbebani secara psikologis untuk segera mencari bantuan. Beberapa upaya preventif yang dapat dilakukan untuk mencegah upaya bunuh diri pada laki-laki meliputi:

  1. Kampanye mengenai peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

  2. Terapi psikologis yang berfokus pada melatih fleksibilitas coping dan kemampuan kognitif seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

  3. Mengkaji ulang konsep maskulinitas untuk menekan stigma masyarakat terhadap laki-laki yang mencari bantuan professional.

  4. Membina aspek sosial-emosional terutama saat masa remaja.

  5. Bekerja sama dengan media dalam mengatur etika pemberitaan seputar kasus bunuh diri.


***

Kemampuan tiap individu dalam menoleransi tekanan psikologis berbeda-beda. Cercaan tidak akan membantu individu yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri menjadi lebih baik. Mereka sudah sepatutnya segera ditangani langsung oleh tenaga profesional untuk menekan pemikiran dan perilaku bunuh diri yang dialami. Sebagaimana layanan hotline pencegahan bunuh diri Indonesia sudah ditutup sejak tahun 2014, perlu adanya peningkatan dalam pemberian layanan pertolongan pertama untuk bunuh diri. Untuk sementara ini, masyarakat Indonesia dapat menggunakan layanan SEJIWA untuk konseling permasalahan psikologis secara umum di nomor 119.


Karel Kristiawan

Karel saat ini sedang menempuh studi Magister Sains Psikologi di Unika Soegijapranata Semarang. Karel sedang mendalami ilmu tentang perilaku bunuh diri sebagaimana impiannya ingin menjadi seorang suicidolog yang dapat berkontribusi dalam upaya preventif bunuh diri di Indonesia. Karel dapat dihubungi melalui surel karel.kristiawan11@gmail.com

Previous
Previous

Nostalgia: Baik atau Buruk?

Next
Next

Siapa Saja yang Beresiko Bunuh Diri?