Media Sosial Penebar Kecemasan. Atur Penggunaannya!

unsplash-image-SMI1NhNXszc.jpg

Sebut saja Anya. Gadis berumur 22 tahun yang sedang menyusun skripsi. Sudah 3 jam ia berada di depan laptop mengerjakan skripsi. Bosan dan lelah mulai dirasakan dan perlahan ia mulai mengambil gadget-nya. Ia berharap bosan dan lelah dapat terobati dengan bermain gadget.

Anya memutuskan untuk membuka Instagram. Scrolling 10 menit pertama, Anya masih tak merasakan apapun. Scrolling 10 menit berikutnya, Anya mulai cemas. Anya melihat ada beberapa temannya yang mengunggah foto sedang di luar negeri melanjutkan pendidikan. Beberapa teman Anya yang lain, ada yang update instastories berisi perjalanan ke tempat kerja.

Lalu, bagaimana dengan Anya? Ia masih di dalam kamarnya. Berkutat dengan skripsi. Anya pun merenung,

“Wah dia udah ke luar negeri, aku masih aja skripsian.”

“Setelah kuliah, lanjut kuliah lagi atau kerja ya?”

Sumber Kecemasan

Apakah kamu pernah merasakan apa yang dirasakan Anya? Merasakan kebingungan ingin memilih apa setelah kuliah sarjana selesai. Merasa cemas karena orang lain sudah mencapai titik tertentu dalam hidupnya sementara kamu masih saja berada di satu titik.

Coba kamu perhatikan lagi, kapan rasa bingung dan kecemasan itu sering muncul? Sadarkah kamu bahwa membandingkan diri dengan prestasi orang lain menjadi sumber ini semua?

Media sosial juga menjadi salah satu hal yang memperparah rasa bingung dan kecemasan. Banyak teman yang mulai mengunggah foto-foto atau status tentang prestasi yang telah mereka capai sering membuat kita semakin merasa rendah diri. Merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengejar prestasi yang sama. Merasa tertinggal dan berkecil hati.

Berhenti Membandingkan

Hai kamu! Iya kamu. Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain merupakan jalan keluar terbaik dari rasa bingung dan cemasmu. Kamu bisa memulainya dengan meluangkan waktu untuk merenung atau berbincang secara langsung dengan orang yang kamu percaya. Tujuannya, agar kamu bisa lebih memahami kemampuan dan kelebihan yang kamu punya.

Membandingkan diri dengan orang lain tidak salah selama itu menjadi sumber motivasi. Jika membandingkan diri justru membuat kita tidak bersemangat untuk mengejar prestasi diri sendiri maka itu cara membandingkan diri yang salah. Perlu terus diingat bahwa kita harus mampu bangga dengan prestasi atau kemajuan yang sudah dibuat oleh diri sendiri. Membandingkan diri dengan orang lain tidak membuat diri kita menjadi lebih buruk atau lebih baik. Justru, dengan demikian, kita malah memberi beban yang tidak perlu untuk diri sendiri dan menghambat kemajuan diri.

Sekecil apapun progress yang dibuat oleh diri sendiri, semua adalah hasil jerih payah kamu. Sudah sepatutnya kamu bangga akan hal itu. Bila temanmu sudah beberapa langkah lebih maju darimu, lalu mengapa? Bukankah semua orang berproses dengan caranya masing-masing? Tidak ada yang menetapkan kecepatan tertentu dalam hidup untuk menjadi patokan. Dalam hal apapun, semua hal dan setiap orang punya prosesnya masing-masing.

Jangan kira temanmu yang sudah lebih maju darimu perjalanannya mulus. Dia juga pasti mengalami kesulitan dan hambatan dalam prosesnya. Hanya saja, kebanyakan orang membagi kesuksesannya di media sosial tanpa menunjukkan proses yang ia lalui untuk mencapai kesuksesan tersebut. Hal ini berujung pada, orang lain yang melihat postingan tersebut terperangkap dalam pemikiran kesuksesannya saja. Tidak mempertimbangkan proses sulit yang dilalui orang itu untuk mencapai puncak.

Atur Ulang Kehidupan Media Sosialmu!

Setiap orang diberikan waktu yang sama banyaknya oleh Tuhan, 24 jam dalam sehari. Selain itu, hal lain yang harus kamu ingat adalah setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaimana harimu berjalan, tergantung dengan apa yang kamu lakukan.

Mengurangi intensitas di media sosial atau melakukan filter terhadap apa yang tampil di lini masa adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi kecemasan. Terkadang, seberapapun kamu mengurangi pemikiran membandingkan diri dengan orang lain, jika terpicu oleh postingan orang di lini masa, kamu jadi mau tidak mau terbawa untuk memikirkan itu. Bukankah lebih baik sekalian mengurangi intensitas di media sosial? Awalnya akan terasa berat, namun percayalah, hidup kamu akan baik baik saja jika jam aktif di media sosialmu berkurang.

Bukankah terlalu sayang jika 24 jam dalam seharimu dilewatkan begitu saja dengan  scrolling timeline Instagram dan terus menerus membandingkan kehidupanmu dengan foto yang kamu lihat?

Maka bermimpilah, berusahalah, dan wujudkanlah!

Dzikria A. Primala

Write to be understood, speak to be heard and read to grow. Mahasiswi Psikologi. Nice to see ya!

Previous
Previous

Filter Media Sosial: Saatnya Beranikan Diri

Next
Next

Media Sosial: Saatnya Mengaktifkan Tombol Mute dan Block pada Diri Sendiri