Mengapa Kita Ragu untuk Mengekspresikan Cinta?

unsplash-image-AsahNlC0VhQ.jpg

Tulisan ini dibuat tidak terbatas pada cinta dalam hubungan romantis, melainkan cinta dalam arti yang lebih luas maknanya dalam setiap hubungan yang kita punya.

Ketidakhadiran cinta dalam hubungan yang dimiliki seperti memberi ruang kosong pada diri. Hubungan yang dimaksud tidak terbatas pada hubungan romantis antara sepasang kekasih. Hubungan seperti keluarga, teman, rekan kerja, tetangga, guru, atau benda berharga sekalipun tetap membutuhkan kehadiran cinta. Akan tetapi, sebagian orang justru merasa canggung dan bingung untuk mengekspresikan cinta, kasih, atau sayang terhadap orang lain yang berarti baginya.

Ragu Mengekspresikan Cinta

Mengekspresikan cinta itu susah. Ada keraguan dan perasaan malu karena kita tidak terbiasa. Keraguan dan malu muncul karena menilai pengekspresian cinta sebagai hal yang aneh, cheesy dan berlebihan. Takut menerima penolakan ketika cinta itu diekspresikan juga turut menjadi alasan. Selain itu, ketika pengekspresian cinta dilakukan, seolah-olah menunjukkan sisi lemah dalam diri bahwa kita sedang mengemis cinta pada orang lain. Akhirnya, kita terbiasa untuk diam saja daripada harus mengekspresikan cinta.

Ditambah lagi, budaya di beberapa negara Asia seperti Indonesia dan Cina terlihat tidak biasa menunjukan afeksi secara fisik seperti, pelukan, rangkulan, atau ciuman. Tidak hanya secara fisik, mengungkapkan sayang secara verbal pun canggung untuk dilakukan, terlebih kepada orangtua.

Padahal, cinta adalah kebutuhan setiap orang. Di tengah perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan dan kemungkinan menyakitkan, cinta dibutuhkan untuk tetap menguatkan diri kita. Cinta juga dibutuhkan sebagai bagian penting dalam menjaga hubungan setiap orang. Bayangkan bila tidak ada cinta dalam hidup seseorang. Seseorang mungkin akan merasa sakit, sepi, hampa, atau tidak berharga dalam hidupnya.

Cara Mengekspresikan Cinta

Mengekspresikan cinta sering dianggap ganjil, lucu dan tabu. Seolah-olah mengekspresikannya hanya bisa dengan pernyataan, “aku mencintaimu” atau “aku menyayangimu” dan itu hanya ditujukan pada pasangan romantis sajaPadahal, ada banyak cara untuk mengekspresikan cinta dan bisa ditujukan pada siapa saja, seperti orangtua, teman, atau saudara.

Ungkapan cinta dapat berupa pujian, penghargaan, pemberian hadiah, atau sekadar menunjukkan perilaku baik terhadap orang lain. Ungkapan cinta juga dapat ditunjukkan dalam perbuatan fisik, seperti kakak yang mengelus kepala adiknya, Ayah yang memeluk Ibu, Ibu yang mencium kening anaknya, atau teman yang merangkul pundak teman lainnya. Di sisi lain, ungkapan cinta juga dapat ditunjukkan dalam perbuatan non fisik, seperti mengingatkan untuk tidak memaksa diri, mengucapkan maaf ketika berbuat salah, menyatakan terima kasih sebagai bentuk apresiasi, atau sekadar meluangkan waktu untuk beraktvitas bersama.

Merasa Dicintai itu Penting

Beragam pilihan untuk mengekspresikan cinta seharusnya tidak menahan kita untuk menunjukkannya. Tidak menahan karena sesungguhnya kita sama-sama mengetahui rasanya hidup tanpa adanya kehangatan cinta. Kita seperti menanti ungkapan cinta dari orang lain sebagai tanda bahwa diri ini berarti, ada yang menyayangi dan menghargai.

Sebagai tambahan, sebuah penelitian menyatakan bahwa merasa dicintai adalah komponen penting dalam kesejahteraan hidup kita. Dengan merasa dicintai, kita merasa diakui dan diterima dalam suatu hubungan. Baik dalam hubungan keluarga, pertemanan, kerja, dan lainnya. Selain itu, kehadiran cinta, kasih, ataupun sayang menjadi hal penting dalam meningkatkan dan menjaga kualitas hubungan kita.

Di sisi lain, orang yang terbiasa mengekspresikan cinta juga turut merasakan pengaruh baik sebagai akibatnya. Penelitian mengemukakan, mereka yang terbiasa menunjukkan cinta dalam bentuk kata atau tindakan akan berpengaruh baik terhadap kesehatannya. Pengaruh baik yang dirasakan berupa berkurangnya tingkat stres, kolesterol, tekanan darah dan menguatkan sistem imun seseorang. Selain itu, kehadiran cinta dalam hidup juga mampu mengurangi kecemasan karena takut diabaikan, memperpanjang harapan hidup, serta lebih memperhatikan diri sendiri.

Ketika sudah mengetahui betapa berartinya merasa dicintai dan mencintai, mengapa harus ragu untuk menunjukkan cinta, memberikan kasih, dan menyayangi terhadap orang yang berarti bagi kita?

Zahrah Nabila

a psychology student who is still learning and should treat herself first, before treat others

Previous
Previous

Direktori Psikologi: Postpartum Depression (PPD

Next
Next

CURHAT: Kedua Orang Tua Saya Sering Bertengkar dan Saya Stres