Mindful Listening: Mendengarkan Penuh Perhatian

Mendengarkan menjadi pekerjaan yang sulit bagi kebanyakan orang di masa kini. Banyak orang ingin bersuara, berbicara dan didengar tanpa mau mendengarkan. Di tengah peradaban manusia yang serba sibuk, individualis serta egois, mendengarkan menjadi kemampuan yang amat langka dimiliki seseorang. Distraksi handphone, notifikasi whatsapp, instagram, twitter, e-mail, klakson kendaraan di jalanan yang sesak, atau bahkan distraksi dari suara riuh di dalam kepala kita sendiri bisa menjadi penyebab langkanya kemampuan seseorang dalam mendengarkan.

Menurut Dr. Joseph Dispenza, dalam keadaan normal manusia hanya mampu memproses 2000 dari 400 miliar informasi yang masuk ke dalam otak. Hal ini berarti kita hanya mampu menyerap sedikit bagian dari apa yang kita dengar, lebih tepatnya seperduaratus juta dari informasi yang orang lain sampaikan. Ketika kita tidak mendengarkan dengan penuh kesadaran dan penuh perhatian, maka kita kehilangan kesempatan seperduaratus juta informasi yang mereka coba sampaikan kepada kita.

Mendengarkan adalah pekerjaan yang tidak mudah. Dalam proses komunikasi antar manusia, mendengarkan adalah proses secara kognitif yang melibatkan pengolahan informasi dalam bentuk lisan yang bertujuan untuk memahami suatu makna. Pengolahan informasi tersebut sejatinya membutuhkan fokus perhatian penuh. Namun, adanya berbagai distraksi di masa kini cenderung membuat kita mendengarkan ‘setengah hati’. Lebih parahnya, kita tidak benar-benar mendengarkan dan tidak memahami makna informasi yang diberikan, tetapi kita memberikan judgment atau penghakiman terhadap sesuatu yang tidak kita pahami.

Mindful Listening

Mendengarkan seharusnya kita lakukan dengan sepenuh hati, penuh perhatian dan kesadaran atau lebih dikenal dengan istilah mindful listening. Mindful listening adalah proses mendengarkan dengan penuh perhatian, penuh kesadaran dan tidak ada penghakiman ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Mendengarkan dengan ‘being fully present’ (sepenuhnya hadir pada saat ini) mungkin masih sulit bagi sebagian orang. Ketika kita mendengarkan orang lain, pikiran kita cenderung mengembara, kemudian menganalisa dan dengan penuh percaya diri kita menawarkan saran, atau menjelaskan persepsi kita sendiri tentang informasi yang diberikan. Mendengarkan dengan penuh kesadaran dan perhatian mengharuskan kita memberi orang lain ruang untuk berbagi tanpa ada gangguan, timpalan, koreksi, atau saran dan nasihat yang tidak perlu. Dengan begitu, kita akan dengan mudah mengerti dan memahami apa yang sedang orang lain rasakan, sehingga timbul rasa empati dari dalam diri kita.

“Mendengarkanlah karena ingin mengerti dan memahami, bukan untuk menimpali atau bahkan menghakimi.”

Untuk kita semua yang ingin didengarkan, dimengerti, dan dipahami oleh sesama, ada baiknya kita kembali bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sudah mendengarkan dengan penuh empati?. Apakah kita sudah benar-benar mendengarkan tanpa prasangka atau judgment?. Apakah kita sudah mendengarkan dengan penuh kesadaran dan perhatian?

1. Mendengarkan dengan penuh kesiapan dan kesadaran

Mendengarkan orang lain butuh persiapan diri yang matang, mengingat mendengarkan adalah proses yang membutuhkan kesadaran, fokus dan perhatian secara utuh. Untuk benar-benar mendengarkan orang lain, hati dan pikiran kita harus sepenuhnya berada dalam masa sekarang (being present), bukan berada pada masa lampau atau masa yang akan datang.

Selain itu, kita perlu persiapan lahir maupun batin untuk dapat mendengarkan dengan penuh kesadaran dan perhatian. Persiapan lahir misalnya menyingkirkan segala distraksi di sekitar kita yang sekiranya dapat menganggu konsentrasi selama mendengarkan. Sebagai contoh, mengatur mode silent atau menonaktifkan handphone, mematikan laptop, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan distraksi. Memilih ruangan dan suasana yang tenang serta nyaman juga penting untuk memfasilitasi kita dalam mendengarkan orang lain.

Sementara itu, persiapan batin bisa dilakukan dengan relaksasi atau meditasi terlebih dahulu sebelum kita mendengarkan orang lain. Kita perlu mengosongkan pikiran dan prasangka terhadap apapun yang nanti kita dengar.  Jadikanlah diri kita seperti tanah yang selalu menerima apapun yang jatuh di atasnya. Dengan begitu, kita berusaha membuat orang lain lebih nyaman untuk membuka diri terhadap perasaan dan permasalahannya. Gestur dan emosi kita juga harus dijaga serileks mungkin, sehingga orang tersebut tidak merasa terintimidasi ataupun terhakimi.

2. Mendengarkan dengan sabar dan penuh empati

Mendengarkan tidak perlu tergesa-gesa. Biarkanlah orang lain meluapkan apa yang sedang ia rasakan. Beri sedikit jeda agar ia merasa nyaman dan tidak diburu-buru. Hargailah mereka yang mau membuka diri terhadap kita karena perjuangannya membuka diri itupun tidak mudah. Dengarkanlah mereka dengan sabar dan penuh keyakinan bahwa kita mendengar untuk benar-benar memahami mereka.

3. Mendengarkan tanpa ada penghakiman

Dalam mendengarkan terkadang kita merasa perlu memberikan penilaian atau judgment, tetapi hal itu tidak selalu berlaku. Terkadang orang-orang yang sedang berbicara pada kita tidak selalu menginginkan penilaian, pendapat, maupun solusi dari kita. Mereka hanya butuh pendengar yang penuh dengan perhatian dan empati. Mereka berharap bahwa kita sebagai pendengar memahami sudut pandangnya terhadap sesuatu dan berempati terhadap hal itu. Bukan mendengarkan dengan kesiapan dan bahasa tubuh untuk menimpali atau menggurui. Sisihkan dulu ego dan arogansi yang kita punya. Perhatikan dan pahami apa yang sedang mereka coba sampaikan, tanpa perlu penilaian dan penghakiman pribadi.

Mendengarkan tidak hanya sebatas mendengar suara orang lain, tetapi menangkap makna dan pesan yang disampaikan oleh orang tersebut. Mendengarkan dengan penuh perhatian sangat penting untuk kita bisa memahami dan menghargai sudut pandang orang lain terhadap suatu persoalan. Dengan begitu, kita akan lebih mudah menghadirkan empati serta kebijaksanaan dalam diri kita.

Mendengarkan sudah seharusnya kita lakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian untuk dapat memahami mereka yang berbicara kepada kita. Yakinkan bahwa kita benar-benar peduli dan bukan hanya sekadar ingin tahu atau ‘kepo’. Hal ini karena tidak ada yang lebih buruk dari orang yang mendengarkan hanya sekadar ingin tahu tanpa ada empati untuk bersimpati, memahami dan memandang suatu persoalan dari perspektif yang berbeda. Mendengarkan bukanlah moment untuk menimpali atau menghakimi seseorang karena bagi sebagian orang membuka diri adalah pekerjaan yang sulit. Jangan sampai kita tambah dengan pengabaian, penilaian, dan penghakiman yang tidak perlu.

The most basic of all human needs is the need to understand and be understood. The best way to understand people is to listen to them.” ~Ralph G. Nichols

Isnaniar Noorvitri

She writes mostly in relationship and compassion. Meet her at instagram @isnaniarr

Previous
Previous

Abusive Relationship: Mengapa Perempuan Memilih Bertahan?

Next
Next

Kita Adalah Korban Kehidupan, tapi Mau Sampai Kapan?