Schadenfreude: Ketika Kegagalan Orang Lain Diam-Diam Terasa Melegakan
Ketika orang yang kita anggap lebih pintar rupanya gagal di titik yang sama…
Ketika rekan kerja yang tampak sempurna akhirnya membuat kesalahan…
Ketika mereka yang dulu meremehkan kini tidak mendapatkan hasil yang dibanggakan…
Untuk sesaat, kita merasa hidup terasa lebih adil karena ternyata semua orang sama-sama bisa jatuh dan keliru. Perasaan ini dikenal sebagai Schadenfreude, kepuasan batin atau rasa senang yang dirasakan ketika melihat kegagalan, kemalangan, atau penderitaan orang lain(1).
Dari perspektif teori penilaian emosi (appraisal theory of emotion), emosi tidak muncul semata-mata karena peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana seseorang menilai makna peristiwa tersebut bagi dirinya(4). Itulah sebabnya, situasi yang sama bisa memunculkan respons emosi yang berbeda pada setiap orang. Ketika melihat orang lain gagal, sebagian orang merasa iba dan simpati, sementara sebagian lainnya justru merasa senang.
Yang menentukan bukan kemalangannya, tapi maknanya bagi diri kita.
Emosi muncul ketika suatu peristiwa dianggap relevan dengan tujuan, kebutuhan, atau kepentingan pribadi seseorang. Emosi positif akan muncul jika peristiwa tersebut dinilai selaras dengan motivasi seseorang(2). Dalam fenomena schadenfreude, kemalangan orang lain dapat memunculkan rasa senang ketika kemalangan itu dinilai menguntungkan secara psikologis, misalnya membuat seseorang merasa lebih unggul, meningkatkan harga diri, atau mengurangi rasa iri yang sebelumnya menyakitkan. Hal yang menentukan adalah penilaiannya, bukan seberapa berat atau ringan bentuk kemalangan tersebut. Dengan kata lain, schadenfreude adalah bentuk kegembiraan yang muncul bukan dari penderitaan itu sendiri, tetapi dari keuntungan psikologis yang dirasakan oleh mereka yang menilainya meskipun tidak menguntungkan secara materi.
Harga diri yang merasa terancam.
Schadenfreude cenderung meningkat ketika seseorang merasa harga dirinya sedang terancam(5). Sebagai manusia, kita memiliki naluri bertahan hidup dengan melihat posisi kita dibanding orang lain. Perbandingan ke atas atau melihat orang lain yang kita anggap lebih unggul dapat memengaruhi bagaimana cara kita memandang dan mengevaluasi diri sendiri, sementara perbandingan ke bawah justru meningkatkan harga diri. Dalam kondisi ini, kemalangan orang lain menjadi “penyeimbang” yang membuat posisi kita terasa lebih aman. Kita merasa senang karena kemalangan ini membantu kita menghilangkan perasaan negatif yang menyakitkan.
“Syukurlah bukan aku” menjadi cara cepat untuk menenangkan diri.
Jalan Pintas yang Diam-Diam Menggerogoti
Rasa senang melihat kemalangan orang lain dapat jadi jalan pintas untuk merasa aman dan memberi rasa lega, namun kita perlu hati-hati jika terlalu sering dijadikan sebagai cara mengelola emosi. Ketika seseorang merasakan schadenfreude, bagian otak yang mengatur sistem reward (hadiah) menjadi aktif dan memicu pelepasan dopamin, zat kimia yang membuat kita merasa senang dan ingin mengulanginya lagi(3). Karena hadiah ini mudah didapat, otak dapat terbiasa mencari sensasi serupa, sementara bagian otak yang berperan untuk kontrol diri dan pertimbangan rasional justru melemah. Jika kondisi ini berlangsung terus menerus, kemampuan berempati perlahan bisa menurun dan kualitas hubungan sosial ikut terganggu. Dalam jangka panjang, kebiasaan menikmati penderitaan orang lain justru membuat seseorang merasa semakin terputus dari orang lain dan berdampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik.
—-
Mengatasi schadenfreude bukan berarti menolak emosi yang muncul ketika melihat kemalangan orang lain, melainkan menyadari pesan di baliknya. Rasa senang atas kegagalan orang lain dapat menjadi penanda halus bahwa ada bagian diri yang sedang rapuh atau butuh merasa aman. Kita bisa mulai bertanya, bagian diri mana yang sedang merasa terancam? Selanjutnya, kita bisa mulai melatih diri untuk menggeser perhatian dari kebiasaan membandingkan diri dengan memberi penguatan pada diri sendiri. Langkah ini dapat dilakukan dengan mengenali hal-hal positif dalam diri, berlatih welas asih, serta membuka ruang empati terhadap orang lain. Pelan-pelan, proses ini membantu emosi kita kembali seimbang. Dengan begitu, kita tidak lagi bergantung pada jatuhnya orang lain untuk merasa berdiri.
—-
Referensi
Atak, H., Jencius, M., Albay, A., Karatekin, S., & Tuzcuoğlu, F. K. (2024). Schadenfreude: A Conceptual Review. Psikiyatride Güncel Yaklaşımlar, 17(3), 598-622.
Frijda, N. H. (2017). The laws of emotion. Psychology Press.
Jankowski, K. F., & Takahashi, H. (2014). Cognitive neuroscience of social emotions and implications for psychopathology: examining embarrassment, guilt, envy, and schadenfreude. Psychiatry and clinical neurosciences, 68(5), 319-336.
Scherer, K. R., & Moors, A. (2019). The emotion process: Event appraisal and component differentiation. Annual review of psychology, 70(1), 719-745.
van Dijk, W. W., Ouwerkerk, J. W., Smith, R. H., & Cikara, M. (2017). The role of self-evaluation and envy in schadenfreude. In European Review of Social Psychology: Volume 26 (pp. 247-282). Routledge.