CURHAT: Akankah Saya Bersikap Seperti Kedua Orang Tua Saya Ketika Menikah Nanti?

Curhat

Halo Pijar Psikologi!

Saya adalah perempuan 23 tahun yang memiliki permasalahan dengan diri saya sendiri. Di mana sebenarnya ini semua berawal dari masa lalu saya. Orang tua saya selalu bersikap kasar, bahkan saat pertama kali mengajari saya untuk membaca. Tidak berhenti disitu, tanpa disadari juga orang tua saya sering sekali membandingkan kemampuan belajar saya dengan sepupu-sepupu saya. Saya akhirnya menjadi tidak percaya diri, mudah sekali down, pasif, dan labil. Semenjak kedua orang tua saya bercerai, saya tinggal bersama dengan ibu saya. Ibu sering sekali menceritakan perilaku buruk ayah kepada saya dan sejujurnya saya membencinya. Tapi saya tidak bisa mengatakan apapun dan terpaksa harus mendengarkannya. Saya juga membenci mereka berdua karena tidak pernah membudayakan perkataan “maaf” dan “terima kasih” selama berkeluarga dan mendidik saya.

Sampai akhirnya, saya tertegun dengan salah satu quote, “Bagaimana bisa kita (nanti) jadi orang tua yang baik, jika sekarang sebagai anak pun kita belum baik”. Kalimat itu membuat saya terus berpikir bahwa mungkin selama ini saya lupa kalau orang tua saya itu manusia biasa. Mungkin saja semua yang ada dalam hati saya hanya kekurangan mereka hingga tidak ada lagi tempat untuk mengapresiasi kelebihan mereka. Saya juga membayangkan betapa tidak enaknya ketika kita sebagai orang tua mengetahui bahwa selama ini anak kita memendam benci terhadap kita. Akhirnya, saya mulai belajar menerima sikap orang tua. Mungkin mereka seperti itu karena masa lalu mereka juga. Saya mulai belajar untuk memaafkan segalanya. Akan tetapi, saya mengkhawatirkan satu hal. Akankah nanti saat sudah berumah tangga saya akan bersikap seperti orang tua saya? Seberapa besar kah kemungkinan saya akan bersikap seperti orang tua saya? Saya masih ragu bahwa kesadaran saya ini sudah cukup dan dapat membantu saya saat berumah tangga nanti.

Gambaran: Perempuan, 23 Tahun, Tidak Bekerja.


Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih karena telah mempercayakan Pijar Psikologi untuk menjadi tempatmu berbagi cerita. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga kamu merasa jauh lebih baik sekarang.

Memiliki rasa percaya diri yang rendah sehingga membuatmu merasa malu, menutup diri, pasif, serta labil tentu terasa tidak nyaman. Apalagi jika hal-hal tersebut membuat sikap dan pendirianmu dalam menghadapi sesuatu menjadi berubah. Hal tersebut akhirnya kamu sadari berasal dari pola interaksi kedua orang tua serta perlakukannya terhadapmu sejak kecil. Kesadaran yang kamu miliki terhadap permasalahanmu ini merupakan langkah yang baik karena nyatanya tidak semua orang mampu menyadari hambatan yang terjadi kepada dirinya dan mengapa ia mengalami hambatan tersebut.

Pemahaman dan langkah yang kamu ambil untuk mengatasi masalahmu ini sudah sangat baik. Pikiran-pikiran positif yang kamu munculkan untuk mengatasi berbagai pikiran negatif yang ada di kepalamu membuktikan kedewasaanmu. Well done! Kami sangat mengapresiasi semua hal yang telah kamu lakukan tersebut termasuk keputusanmu untuk menghubungi kami untuk menceritakan masalahmu ini dan mendapatkan bantuan. Hal ini menunjukkan jika kamu adalah pribadi yang aware akan dirimu sendiri dan siap belajar serta berproses menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Dengan semua masalah yang terjadi dihidupmu, munculnya ketakutan jika kamu akan mengulangi hal yang sama di masa mendatang adalah hal yang sangat wajar. Istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya muncul bukannya tanpa alasan. Suka atau tidak suka, sedikit banyak sifat dan karakter orang tua tentunya menurun kepada anaknya. Sudahkah kamu menyadari apa saja itu yang muncul ke dalam dirimu? Jika belum, cara sederhana yang bisa kamu lakukan sendiri adalah cobalah untuk lebih peka dalam membaca reaksi-reaksi yang muncul dari dalam dirimu ketika berada diberbagai situasi dan kondisi, ataupun saat merespon orang lain. Kemudian, kamu coba bandingkan dengan reaksi atau sikap yang akan ditunjukkan kedua orang tuamu jika berada di situasi dan kondisi yang sama. Dari sana, kamu bisa melihat ataupun mencatat apa saja kemiripan yang kamu miliki dengan kedua orang tuamu.

Ketika akhirnya kamu sudah menemukan sikap dan sifat apa saja yang mirip dengan kedua orang tuamu, apa yang harus kamu lakukan? Syukurilah terlebih dahulu. Dari sekian banyak hal negatif yang dimiliki oleh kedua orang tuamu, tentunya mereka pun memiliki banyak hal positif yang  tentunya  menurun  juga  kepadamu.  Bahkan  mereka yang tetap bertanggung jawab untuk memberikanmu makan dan membiayai sekolahmu pun bisa dianggap hal positif, karena di luar sana ada saja orang tua yang menelantarkan anaknya. Sekarang, cobalah mulai pikirkan hal tersebut. Tidak perlu hal-hal yang besar, cukup dari hal yang kecil saja. Seperti yang kamu jelaskan, orang tuamu pun manusia biasa. Sebagaimana manusia biasa pada umumnya, mereka pun pasti memiliki sisi positif dan negatifnya.

Dalam psikologi, terdapat istilah yang dikenal dengan nama inner child, yaitu bagian dalam diri manusia yang merupakan pengalaman dari masa kecilnya dan letaknya terdapat dalam alam bawah sadar manusia. Inner child ini sendiri memiliki sisi positif dan negatif, tergantung dari pengalaman apa yang dulu dilalui oleh orang tersebut. Terkadang, inner child ini muncul untuk sebagai respon terhadap sesuatu hal. Seringnya, inner child yang muncul adalah yang negatif, dimana seseorang tersebut memiliki pengalaman di masa lalu yang tidak atau belum selesai, atau bisa dikatakan unfinished business. Hal ini yang seringkali menjadi penghalang bagi seseorang yang mengalaminya untuk bisa move on menuju pribadi yang lebih baik lagi karena hidupnya terus berputar di masa lalu yang telah lewat dan mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi.

Baca juga: Memahami Inner Child dalam Diri di sini.

Sebagai tambahan bahan bacaan, kamu juga bisa membaca cerita dari mereka yang sudah mengalaminya sendiri yang menjelaskan dampak dari inner child ketika nanti sudah memiliki anak dan sedang mencoba untuk menyembuhkannya disini:

http://www.merisaputri.com/2016/10/self-healing-inner-child.html

Untuk menyelesaikan unfinished business sendiri memang memerlukan proses yang panjang, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Jika kamu memang sudah sangat terganggu  dan  memerlukan  bantuan,  jangan ragu untuk datang ke profesional seperti psikolog agar kamu bisa berdialog secara langsung dan mendapatkan bantuan. Kamu bisa mendatangi psikolog klinis manapun yang bisa kamu akses di dekat tempat tinggalmu, baik itu yang berpraktek di rumah sakit, biro psikologi, ataupun secara pribadi.

Baca juga: Tinggalkan Masa Lalu pada Tempatnya di sini.

Kamu yang sudah menyadari masa lalumu dan berusaha untuk menerima serta mengikhlaskan semuanya tentunya adalah modal utama untuk mengurangi atau mengecilkan kemungkinan munculnya inner child negatif yang bisa menjadi masalah ketika nanti sudah berkeluarga dan memilki anak. Kesadaranmu ini tentunya akan sangat membantumu tetapi tentu masih perlu hal-hal lain untuk bisa mengubahmu. Mengubah suatu kebiasaan apalagi yang dirasa sudah menjadi tabiat atau karakter akan memerlukan proses dan waktu yang tidak singkat. Karenanya diperlukan niat atau tekad yang kuat dan konsistensi untuk bisa mewujudkannya.

Sebagai manusia, kita pun memiliki kendali yang penuh atas diri kita. Kita bisa memilih untuk pasrah menerima semua hal atau bangkit berusaha untuk menjadi versi yang terbaik bagi diri kita. Begitupun nanti ketika sudah berumah tangga. Kamu yang memilih ingin menjadi sosok ibu yang seperti apa aku untuk anak-anakku kelak dan mau menjadi sosok istri yang seperti apa aku untuk suamiku nanti. Semua keputusannya ada ditanganmu. Jangan takut jika kamu tidak bisa menjadi sosok yang baik asalkan kamu mau berusaha seperti yang sudah dijelaskan di atas. Jangan takut jika nanti ternyata kamu masih mengulangi hal-hal negatif dari orang tuamu kepada keluargamu kelak. Hal ini dikarenakan yang terpenting adalah bagaimana kamu menyadari itu segera dan bersedia mengakui serta memperbaikinya.

Sehingga, istilah when there is a will there is a way sangat berlaku untuk membuat perubahan dalam diri kita. Khawatir akan masa depan adalah hal yang wajar, namun jangan sampai mendominasi pikiranmu sehingga kamu merasa tidak percaya diri untuk menjalin hubungan terlebih mengikat komitmen nantinya. Kamu mungkin tidak bisa mengubah dan mengatur jalan hubungan dan komunikasi kedua orang tuamu, namun kamu sangat bisa mengubah dan mengatur dirimu untuk menjadi istri dan ibu yang jauh lebih baik dari orang tuamu.

Let’s take a deep breath, exhale-inhale. Lalu yakinkan dirimu jika kamu bisa menjalani semua ini. Kamu hidup di masa ini, bukan di masa lalu. Apapun yang terjadi, cobalah untuk tetap berpikir dan berlaku positif seperti yang telah kamu coba lakukan selama ini. Kuatkan tekadmu dan berproses lah dengan konsisten. Jika kamu bisa melalui semuanya dan bisa berada di titik kehidupanmu sekarang, maka percayalah tentunya kamupun akan bisa menghadapi segalanya yang akan terjadi di masa depan.

Terima kasih sudah berbagi.

Salam,

Pijar Psikologi.


Catatan: Curhat adalah sesi konsultasi yang disetujui oleh klien untuk dibagikan kepada pembaca agar siapapun yang mengalami masalah serupa dapat belajar dari kisahnya.

Let others know the importance of mental health !

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*