CURHAT: Move On dari Seseorang yang Tak Mudah Dilupakan

Curhat

Saya tidak bisa melupakan seseorang yang saya suka semenjak kita melakukan travelling bersama pada bulan September lalu. Saya sering menangis dan teringat momen perpisahan dengannya. Bahkan 2 minggu setelah berpisah saya masih merasakan kesedihan yang mendalam. Dia seorang Warga Negara Inggris. Saya memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi dikarenakan dia telah mempunyai pacar. Saya pun berpikir tidak akan bisa bersama dengan dia karena perbedaan agama dan lifestyle.

Semenjak kejadian itu produktivitas saya di kantor menurun. Saya tidak bisa fokus bekerja. Tiap saat dan tiap bangun tidur saya pasti teringat akan dia terus walaupun saya berusaha melupakan dia. Saya sudah coba untuk tidak melihat media sosial dan tidak menghubungi dia, tapi tetap saja dia sering muncul dari pikiran saya.

Gambaran: Perempuan, 23 tahun, Pegawai Swasta

Jawaban Pijar Psikologi

Terima kasih sebelumnya saya sampaikan atas kepercayaannya karena sudah bersedia untuk bercerita di Pijar Psikologi.

Wah rasanya pasti tidak nyaman sekali ya? Berusaha keras melupakan seseorang yang pernah dekat dan memiliki kesan yang mendalam karena ada hal-hal yang dirasa sulit untuk dilalui seperti dia punya pacar, ditambah ada perbedaan agama dan gaya hidup. Rasanya pasti sedih, patah hati, mungkin juga ada perasaan marah pada keadaan. Namun, dari cerita ini juga, saya bisa bilang kamu itu orang yang hebat. Kamu tahu bahwa mungkin kamu memiliki perasaan yang lebih ke dia dan bisa saja bersama kalau nekat dan tidak berpikir panjang dengan segala konsekuensinya. Namun, kamu memilih untuk mencoba merelakan perasaan tersebut demi kebahagiaan diri kamu. Kamu tahu banyak tantangan yang akan dihadapi untuk memperjuangkan dirinya, dan mungkin belum tentu kamu sanggup.

Meskipun usaha kamu saat ini belum sepenuhnya berhasil, tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah berani mengambil suatu keputusan. Patah hati dan proses move on memang bukan hal yang mudah. Ketika tidak bisa dilakukan dengan perasaan lapang dada, maka proses tersebut bisa membuat kita terluka bukan hanya psikologis, namun juga fisik. Hingga akhirnya bisa berpengaruh negatif pada aktivitas yang dilakukan seperti, hubungan dengan keluarga dan teman, atau pekerjaan kita terganggu seperti yang kamu alami saat ini. Perlu kamu pahami juga bahwa antara pikiran, perasaan, perilaku dan reaksi fisik itu saling mempengaruhi. Ketika pikiran dipaksa melupakan sesuatu, maka perasaan juga bisa ikut terpengaruh menjadi tidak stabil. Begitu pula pada fisik, yang mungkin jadi sulit konsentrasi, kurang bersemangat, malas-malasan, dll.

Berusaha untuk bangkit dan move on memang baik, tapi pahami bahwa memaksa diri untuk melupakan hal-hal yang mungkin belum siap dilakukan itu tidak akan membuat diri lebih baik. Move on bukan berarti melupakan hal-hal yang membuat kita sedih karena hal ini hanya akan membuat diri semakin merasa terbebani dengan “kewajiban” untuk melupakan. Kadang, alih-alih melupakan, tetapi justru sesuatu yang ingin kita lupakan tersebut akan sering muncul.

Semakin kita berusaha keras melupakan, maka semakin keras pula kita mengingatnya. Oleh karena itu, berhentilah memaksa diri kamu untuk melupakan. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah menerima segala perasaan yang tengah kamu rasakan. Terimalah segala perasaan bersalah, marah, dan kecewa yang saat ini sedang melingkupi diri kamu. Terimalah bahwa kamu adalah manusia yang dilahirkan untuk memiliki perasaan
bermacam-macam, tidak sekadar bahagia dan cinta.

Seringnya, memaafkan keadaan atau orang lain terasa jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri. Padahal orang pertama yang akan hadir saat dunia terasa runtuh adalah diri kita sendiri. Sebelum berusaha untuk memaafkan keadaan atau orang lain, coba belajar dulu untuk memaafkan diri sendiri. Maafkanlah diri atas segala yang sudah terjadi. Maafkanlah diri atas keputusan di masa lalu. Maafkanlah diri yang belum dapat merelakan segala yang sudah terjadi. Ketika kita telah memaafkan diri sendiri, semua hal yang terasa menyakitkan akan perlahan-lahan memudar.

Pahami juga bahwa move on adalah sebuah proses subjektif. Tiap orang memiliki waktu masing-masing untuk melepaskan dan move on. Selama kamu tahu bahwa kamu sedang berusaha untuk melangkah, percayalah bahwa semua pasti akan menjadi lebih baik. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, begitupun dengan kamu. Kamu berhak memilih untuk merasa sedih atau bahagia. Kamu juga berhak memilih untuk tetap diam atau melakukan sesuatu. Kamu juga dapat memilih untuk meratapi masa lalu atau menatap masa depan. Kamu berhak untuk menjadi lebih baik di masa depan. Jangan memaksa untuk melupakan dan tetap nikmati proses ini sebagai bagian dari diri kamu untuk menjadi lebih baik.

Terima kasih telah berbagi.

Salam,
Pijar Psikologi.

Let others know the importance of mental health !
Total
20
Shares