Defensif Pesimis: Sisi Baik Dari Pesimisme

Perasaan pesimis kerap dikaitkan dengan emosi negatif. Ketika melakukan sesuatu atau mencoba hal baru,  kita sering diharuskan merasa optimis bahwa hal yang kita lakukan akan berubah menjadi baik seperti yang kita harapkan. Kendati perasaan optimis membawa banyak keuntungan, namun perasaan pesimis bukanlah hal yang buruk. Sama seperti perasaan optimis,  perasaan pesimis terhadap suatu hal juga memiliki sisi baik dan buruk.

Defensif Pesimis

Pemikiran bahwa hal terburuk akan terjadi, atau mempertimbangkan mengenai kemungkinan terburuk merupakan salah satu pemikiran yang kerap muncul pada kita. Perasaan tersebut disebut sebagai pesimis, suatu hal akan berubah menjadi buruk tidak peduli seberapa besar usaha kita. Namun jangan buru-buru manafsirkan pesimis sebagai emosi negatif.  Mengenali perasaan pesimis yang muncul pada kita justru dapat menguntungkan.

Perasaan pesimis yang dapat menguntungkan disebut dengan defensif pesimis. Defensif pesimis berarti memiliki ekspektasi rendah terhadap suatu keadaan, sambil mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan saat menghadapi kemungkinan terburuk. Ada beberapa hal yang menguntungkan dari defensif pesimis, antara lain:

Menyiapkan Rencana Tambahan

Seorang optimis akan melihat sisi baik dari segala hal dan percaya bahwa kehidupan akan berjalan dengan lancar. Namun, kita harus mengakui bahwa hidup tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Orang dengan defensif pesimis akan memiliki rencana kedua ketiga dan seterusnya untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk.

Memiliki Hubungan Yang Bertahan Lama

Pasangan yang memiliki ekspektasi tinggi seringkali melihat segala sesuatunya dari sisi baik saja. Namun umumnya mereka gagal memahami permasalahan yang akan terjadi dalam suatu hubungan.  Ketika terjadi permasalahan, mereka sulit  menemukan solusi karena keinginan yang dimiliki dari awal adalah menjalani hubungan tanpa permasalahan. Pada orang dengan defensif pesimis, mereka akan memasang ekspektasi rendah pada hubungannya. Sehingga mereka bisa bertahan lebih lama dari pasangan yang memiliki ekspektasi tinggi karena mereka akan mempersiapkan diri dari permasalahan yang akan muncul.

Persiapan Rencana Kesehatan

Kebiasaan untuk memikirkan kemungkinan terburuk akan membantu orang dengan pemikiran defensif pesimis untuk  mempersiapkan hal-hal buruk yang dipikirkan. Hal ini tak terkecuali pada masalah kesehatan. Pada suatu penelitian, diketahui bahwa orang yang memiliki pemikiran optimis cenderung kurang tertarik untuk mempelajari mengenai pencegahan pada masalah kesehatan. Hal ini berbanding terbalik dengan defensif pesimis yang diketahui akan mempelajari suatu pencegahan untuk menjaga kesehatan. Bahkan pada pasien kanker, diketahui bahwa pasien dengan defensif pesimis lebih memiliki kesempatan untuk sembuh.

Memanfaatkan Optimisme dan Pesimisme

Optimis dan pesimis merupakan salah satu trait pada manusia. Keduanya berperan penting dalam menyikapi suatu permasalahan. Perlu diingat bahwa sifat optimis dan pesimis merupakan sifat alamiah  yang ada pada manusia. Pada orang optimis, mereka akan selalu berekspektasi pada hasil terbaik dari hal yang mereka lakukan. Sedangkan pada orang pesimis, terutama defensif pesimis, mereka akan berekspektasi pada kemungkinan terburuk terlebih dahulu namun tetap mempersiapkan rencana alternatif.

Karena optimisme dan pesimisme adalah suatu trait, maka memaksakan orang  optimis yang selalu melihat hal-hal baik dari tiap kesempatan untuk bersikap defensif pesimis yang mempersiapkan rencana pada kemungkinan terburuk bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Justru dapat berdampak buruk karena keduanya terbiasa menjalani kegiatan dengan berpikir optimis maupun pesimis. Namun sebagai persiapan, hal yang dapat dilakukan untuk menyikapi hal-hal yang terjadi dalam hidup adalah tidak bersikap terlalu optimis hingga mengabaikan kemungkinan buruk yang terjadi. 

Let others know the importance of mental health !
Total
1
Shares