Labeling, Cara Pandang Diri dan Empati

unsplash-image-IFh4o-U-BGg.jpg

Di era digital dan maraknya media sosial, tentu sangat mudah bagi kita dalam memberikan komentar, pandanga, maupun opini pribadi terkait sesuatu hal yang sedang hangat dibicarakan. Kita terbantu dengan akses yang cepat dan mudah dalam berinteraksi dengan dunia luar, hanya dengan menggunakan ruang lingkup aplikasi. Fitur berbagi yang kini populer di kalangan warga media sosial, tentu saja berimbas pada cara kita menanggapi dan memandang sesuatu. Kita terpapar informasi-informasi yang sangat cepat hampir setiap hari. Hal itu membuat kita terkadang merasa “harus” berpikir dan memutuskan secara cepat pula. Termasuk dalam berkomentar dan menanggapi suatu hal. Tidak heran apabila fenomena nyiyir atau julid yang mengartikan kondisi seseorang yang senang mengomentari atau memberi label pada orang lain marak di lingkungan sosial kita.

***

Kita mungkin tidak sadar sudah berapa banyak hal yang kita komentari hari ini di sosial media. Bahkan, mungkin secara diam-diam kita telah memberikan penilaian atau label tersendiri pada sesuatu ataupun seseorang. Misalnya, secara diam-diam kita memberikan label “jadul” pada rekan kerja yang memakai pakaian yang tampak tidak sesuai dengan gaya mode terkini. Atau komentar kita tentang suatu film yang disutradarai oleh sutradara ternama, tetapi nyatanya membosankan. Atau mungkin kita menemukan postingan teman lama di halaman instagram yang kini hidup mewah dengan tampilan diri yang memukau lalu kita berkomentar dengan santai “ah… tukang pamer!”

Kita tidak menyadari bahwa komentar dan label tersebut berpeluang menyakiti hati orang lain. Kita menganggap komentar dan label tersebut adalah hal yang wajar dan dilakukan setiap orang, sehingga kita melakukannya juga. Padahal, hal tersebut sangat mungkin memberikan dampak negatif salah satunya adalah adanya tindakan bullying. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan bahwa pemberian label membentuk stereotip dan stigma di masyarakat.

Baca juga: Kenapa Kita Hobi Nyinyir dan Gosip? di sini.

Kita Hidup Dalam Berbagai Macam Perspektif

Labeling atau pelabelan adalah cara menggambarkan seseorang atau sesuatu dalam suatu kata atau frasa pendek (menggunakan kata sifat untuk menjelaskan sesuatu/seseorang). Dalam dunia yang kompleks, memberikan label adalah cara kita dalam menyelesaikan kompleksitas lingkungan yang ingin kita pahami. Apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan apa yang orang lain lihat. Hal itu juga berlaku ketika kita memberikan label atau penilaian kepada orang lain. Belum tentu orang-orang setuju atas label dan penilaian yang kita berikan. Begitupun sebaliknya, apabila kita mendapatkan label atau penilaian dari orang lain bukan berarti orang-orang juga akan memberikan label/penilaian yang sama terhadap kita. Bahkan, kebiasaan memberikan penilaian terhadap orang lain juga bisa berdampak buruk pada diri kita. Karena bagaimanapun, apa yang kita berikan adalah cerminan diri kita sendiri, tidak terkecuali label atau penilaian kita terhadap orang lain. Apabila label tersebut negatif, maka kita pun akan membawa energi negatif tersebut ke dalam diri, ke dalam setiap kata-kata yang kita ucapkan, serta pada bagaimana kita memberikan penilaian terhadap diri sendiri.

Manusia Tidak Bisa Memenuhi Ekspektasi Semua Orang

Kita sebagai manusia dan kompleksitasnya dan hidup dalam lingkungan yang juga memiliki kompleksitasnya sendiri adalah bentuk keberagaman yang “sengaja” diciptakan untuk sesuatu yang besar. Mendapat komentar, label, penilaian terutama bersifat negatif dari orang lain adalah cerminan budaya instan yang digunakan seseorang dalam memahami kompleksitas suatu hal. Namun, tidak jarang banyak orang tidak memahami akan hal ini. Hal itu berdampak pada kondisi psikis mereka yang seringkali merasa rendah diri atau tidak percaya diri. Rasa rendah diri tersebut pada kondisi tertentu bisa saja mengakibatkan seseorang menjadi minder untuk bergaul atau sering melabeli dirinya sendiri dengan kata-kata negatif. Hal inilah yang membuat seseorang akhirnya tidak bisa mengekspresikan atau menjadi dirinya sendiri. Perlu dipahami bahwa manusia tidak akan pernah bisa memenuhi ekspektasi setiap orang, manusia hanya bisa menjadi dirinya sendiri.

***

Komentar, label, penilaian serta penghakiman negatif yang kita berikan atau kita terima adalah cerminan kita dalam menilai diri sendiri dan menilai sesuatu. Energi negatif tersebut terbawa hingga ke cara pandang serta pola pikir kita. Dalam dunia yang kompleks ini, manusia memang diciptakan dengan kompleksitasnya sendiri. Hanya karena cara pandang kita tidak sama dengan orang lain, lantas kita bebas untuk memberikan penilaian serta label terhadap orang tersebut. Hal yang bisa kita lakukan adalah menghargai keberagaman perspektif yang ada serta menempatkan posisi kita apabila kita berada di posisi orang lain yang kita beri label itu. Perlu selalu diingat bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dialami atau dirasakan oleh seseorang, itulah mengapa kita perlu memupuk empati dalam diri.

Kartika Dewi

I = Movement ≠ Moment. Kartika dapat dihubungi melalui e-mail kartikadewi319@gmail.com atau kunjungi akun instagramnya @fromkeydee

Previous
Previous

Mengelola Stres dengan Berolahraga

Next
Next

CURHAT: Saya Kerap Merasa Sedih, Stres dan Mengalami Halusinasi