Masturbasi, Hal Tabu yang Semua Orang Sudah Tahu

Ada sebanyak 75% remaja laki-laki dan 48% perempuan yang berusia 14-17  tahun sudah pernah melakukan masturbasi. Sedangkan pada orang dewasa ada sebanyak 63% laki-laki dan 32% perempuan.

Kata ‘masturbasi’ masih terasa tabu untuk diperbincangkan. Padahal perilaku tersebut merupakan sebuah fenomena psikologis yang perlu diperhatikan.  Masturbasi adalah melakukan sentuhan terhadap diri sendiri untuk bisa mencapai puncak kenikmatan seksual (orgasm). Meskipun ada penelitian yang mengatakan bahwa perlaku itu bermanfaat bagi kesehatan, tapi  masturbasi juga bisa menjadi masalah yang serius bagi kondisi psikologis seseorang.

Beberapa Efek Buruk Masturbasi

Masturbasi dianggap tabu dan salah karena berkaitan dengan perilaku seks yang melampiaskan kebutuhan seksual dengan usaha sendiri. Bentuk masturbasi bisa berbagai macam, mulai dari self-touch hingga menggunakan alat bantu (sex toy).  Awalnya, orang yang melakukan hal tersebut memang merasakan kenikmatan. Bahkan banyak di antara mereka yang ketagihan dan melakukannya terus menerus.

Perilaku ini menjadi masalah ketika seseorang yang melakukannya merasa bersalah, kotor, dosa, bahkan jijik terhadap diri sendiri. Hal tersebut dinilai tidak sesuai agama dan budaya di sekitarnya. Perasaan tersebut dapat mengganggu kondisi psikologisnya. Ia akan merasa tidak nyaman apabila tidak melakukannya. Perasaan itu dapat mengganggu aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari.

Selain itu, melampiaskan gairah seks pada sesuatu yang tidak semestinya merupakan hal yang tidak sesuai dengan norma. Entah norma subjektif dari lubuk hatinya, norma sosial, maupun norma keluarganya. Oleh karena norma-norma tersebut, ia akan merasa bersalah dan kotor, sehingga bisa mengakibatkan emosi negatif.

Emosi negatif itulah yang kemudian akan terus berulang saat timbul keinginan melakukan masturbasi. Di sisi lain, ia tidak bisa menahan gairah itu akibat dari adanya stimulus. Misalnya melihat lawan jenis atau menonton pornografi.

Perilaku masturbasi juga akan menimbulkan efek buruk lainnya. Seperti kehilangan gairah seksual terhadap pasangan. Sebab, tidak selalu orang yang melakukan hubungan seksual mendapatkan puncak kenikmatan (orgasme). Namun, dengan melakukan self-touch ini terkadang seseorang bisa mendapatkan hal itu. Selain itu, ketika seseorang mastubasi, dia terbiasa mengeksplorasi tubuhnya sendiri dan area-area sensitif pada tubuhnya. Sedangkan ketika berhubungan seksual dengan pasangan, terkadang pasangan tidak tahu area sensitif pasangannya. Itulah mengapa kemudian gairah seks seseorang pada pasangan berkurang.

Namun di sisi lain, masturbasi juga memiliki manfaat tersendiri. Bahkan, ada penelitian yang menemukan bahwa laki-laki yang sering melakukannya dapat mengurangi resiko kanker prostat. Hasil dari perilaku ini dapat mengurangi kanker prostat melalui orgasme hingga 33%. Penelitian itu membuktikan bahwa kanker prostat dapat berkurang dengan ejakulasi sebanyak 21 kali dalam sebulan. Ejakulasi tersebut bisa didapat dari hubungan seks ataupun masturbasi. Selain itu, perbuatan ini juga dapat membawa manfaat lain seperti kesenangan dan relaksasi tubuh sehingga mampu menurunkan stress.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita tahu bagaimana fakta dan dampak mengenai masturbasi. Dampak positif dan negatif pasti selalu ada, saatnya memilih. Hasrat seksual itu normal, akan tetapi ketika hasrat itu bisa mengganggu diri secara jasmani dan rohani artinya justru menjadi masalah. Oleh karena itu, tempatkanlah hasrat seksual itu dengan baik dan benar. Artinya seseorang yang melakukan masturbasi harus merefleksikan lagi apakah perbuatan itu baik untuknya atau tidak. Ia sebaiknya lebih aware terhadap diri sendiri mengenai dampak yang bisa ditimbulkan akibat perbuatan itu. Dengan begitu, dia bisa memilih mana yang lebih baik.

Let others know the importance of mental health !
Total
20
Shares