10 Hal Tentang Selingkuh yang (Tidak) Kamu Ketahui!

Tahukah Anda, ada kemungkinan 46-76% orang akan melakukan selingkuh dari sebuah hubungan berkomitmen?

Menjalani hubungan romantis yang penuh cinta tentu menjadi dambaan setiap orang. Namun seringkali, hubungan itu ternoda oleh adanya pihak yang memilih menjalani dua hubungan dengan dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Istilah lain fenomena ini tentu sudah tidak asing, mendua atau selingkuh.

Meskipun tahu akan ada pihak yang tersakiti, selingkuh masih saja sering dilakukan orang yang sudah terikat dalam sebuah hubungan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat seseorang memilih untuk selingkuh? Mengapa selingkuh kemudian menjadi pilihan ketika setiap orang bisa saja memutuskan hubungan yang ada dahulu untuk kemudian menjalin hubungan dengan orang lain?

1. Selingkuh Berawal dari Ketidaknyamanan

Merasa tidak nyaman dengan pasangan, merasa pasangan memiliki kekurangan yang tidak bisa ditoleransi atau perasaan jenuh dengan pasangan adalah beberapa hal yang sering menjadi alasan seseorang melakukan selingkuh. Ketidaknyamanan dengan pasangan dapat berupa pasangan yang jarang meluangkan waktu untuk berdua, pasangan yang tidak perhatian pada hal-hal detil seperti hari ulang tahun atau peringatan hari jadi dll. Mereka yang merasakan ketidaknyamanan dalam sebuah hubungan, berusaha mencari “obat” atas ketidaknyamanan itu di tempat lain. Menemukan kenyamanan ketika bersama dengan orang lain yang bukan pasangan terkadang membuat seseorang terjebak untuk melanjutkan hubungan perselingkuhan.

2. Ternyata Selingkuh Ada Jenisnya

Para ahli ternyata membagi selingkuh ke dalam dua jenis, selingkuh emosional dan selingkuh seksual. Selingkuh seksual adalah terlibatnya orang ketiga dalam sebuah hubungan hingga ke tahap melakukan hubungan seksual. Sedangkan selingkuh emosional adalah terlibatnya orang ketiga dalam sebuah hubungan namun hanya sebatas pengekspresian emosi seperti kenyamanan membagi pikiran dengan orang tersebut, jatuh cinta, kencan, membiarkan satu sama lain membuka sisi rapuh masing masing, dan membiarkan satu sama lain saling terikat dalam pemikiran-pemikiran hangat yang membekas.

3. Memaafkan Perselingkuhan Tetap Mungkin

Ya, ini bukan hal mustahil. Ada banyak pasangan di dunia ini yang memaafkan riwayat perselingkuhan dalam proses mereka menjalani hubungan. Menurut penelitian, mereka yang memaafkan perselingkuhan memiliki kualitas hubungan yang baik. Mereka yang puas dan berkomitmen dengan hubungannya lebih cenderung untuk memaafkan pasangannya yang melakukan selingkuh. Pun demikian, proses memaafkan ini memiliki banyak faktor. Permohonan maaf dari mereka yang melakukan selingkuh kepada pasangannya dengan pengakuan bersalah, berjanji akan memperbaiki hubungan biasanya mendorong seseorang untuk memaafkan pasangannya yang selingkuh.

Menyelesaikan masalah dalam sebuah hubungan dengan “lari” melakukan hubungan dengan orang lain bukanlah jalan yang baik untuk ditempuh. Pun demikian, sebagaimana setiap hal di dunia ini, meski perselingkuhan adalah hal buruk, namun mereka yang berhasil melewati badai perselingkuhan dan terus menjalani hubungan yang ada, bisa mendapat dampak positif.

Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa pasangan yang pulih dari badai perselingkuhan bisa memunculkan kekuatan baru dalam hubungannya. Mereka yang menjalani terapi pasangan untuk proses recovery pasca terjadinya perselingkuhan justru bisa membangun keterkaitan emosi yang lebih baik satu sama lain. Semakin saling memahami perbedaan dalam diri masing-masing juga membantu pasangan yang punya riwayat perselingkuhan bisa semakin menguatkan hubungan mereka. Meskipun semua proses ini dimediasi oleh konselor, namun kenyataan bahwa perselingkuhan juga bisa membuat hubungan justru semakin baik, bukan tidak mungkin.

4. Karena Cinta Seharusnya Membebaskan

Sebuah hubungan seharusnya menjadi tempat bebas seseorang bisa berekspresi dan menjadi dirinya sendiri. Hakikat ini yang ketika dilanggar bisa merusak sebuah hubungan, entah itu dengan cara terbaik yaitu mengakhiri hubungan, atau mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam hubungan. Penyimpangan bisa berbentuk seseorang menjadi cenderung posesif atau yang terparah adalah terjadinya perselingkuhan.

Baca juga: Mengapa Jatuh Cinta Terasa Menyenangkan?

5. Penyatuan Dua Kepribadian untuk Memandang Lewat Celah yang Sama

Menyatukan dua kepribadian dalam sebuah hubungan tentu bukan hal yang mudah. Meskipun ada frase “opposites attract”, nyatanya memahami kekurangan pasangan yang tidak sesuai dengan pribadi kita bisa menjadi tantangan berat. Menganggap kekurangan pasangan sebagai sebuah hal yang tidak bisa dimaklumi dan sangat bertolak belakang dengan pribadi diri tidak jarang mendorong seseorang untuk melakukan selingkuh.

Karena terkadang menemukan mereka yang lebih baik di luar sana lebih mudah dibanding mengubah kepribadian seseorang.

6. Karena Setiap Hubungan Butuh Kedekatan

Membutuhkan rasa nyaman dan kedekatan dalam sebuah hubungan merupakan hal esensial. Adalah sebuah hal yang wajar ketika seseorang tidak mendapatkan kepuasan itu dalam hubungan yang dijalani, maka ia akan mencari sumbernya dari orang lain. Memahami kebutuhan ini bisa membantu Anda merefleksikan hubungan yang sedang Anda jalani. Tidak dapat dipungkiri, bahkan hubungan jarak jauh (long distance relationship) pun membutuhkan hal krusial ini untuk dapat berjalan baik. Meski cara mewujudkannya yang tentu saja berbeda.

Baca Juga: Dukungan untuk Mereka yang Menjalani Hubungan Jarak Jauh (LDR)

7. Komunikasi Tersendat Bisa Memicu Mendua

Pernyataan “komunikasi merupakan faktor penting dalam sebuah hubungan” bukanlah isapan jempol belaka. Seseorang yang merasa pasangannya sudah jauh darinya akan mengalami kesulitan mengungkapkan perasaannya. Bagaimana mau mengungkapkan jika pertemuan bisa dihitung dengan jari atau bahkan bertelepon saja jarang? Kenyataannya, teknologi canggih tetap tidak bisa menggantikan hangatnya sebuah pertemuan.

Komunikasi yang sudah semakin renggang membuat mereka yang sudah terjebak perselingkuhan, merasa sulit mengakhiri hubungan sebelumnya. Pada akhirnya mereka melanjutkan kenyamanan perselingkuhan dengan harapan hubungan sebelumnya bisa berakhir dengan sendirinya. Entah itu berakhir karena akhirnya ada yang ketahuan berselingkuh, atau karena memang hubungan itu dirasa semakin tidak masuk akal dan tanpa perasaan.

Komunikasi dengan pasangan tentang hubungan yang sedang dijalani adalah kunci. Ada kalanya seseorang mungkin merasa hubungannya terlalu membosankan namun tidak berani (atau bisa) mengungkapkan kepada pasangan. Ada kalanya seseorang merasa pasangannya menjebaknya dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Bukannya membicarakan hal itu dengan pasangannya, ia malah membicarakan hal ini kepada orang lain, dan ini bisa memicu terjadinya perselingkuhan.

8. Mereka yang Berselingkuh Tidak Bertahan Lama dengan Selingkuhannya

Ada kalanya mereka yang melakukan perselingkuhan kemudian mengakhiri hubungan yang telah dia jalani sebelumnya dan juga tidak melanjutkan hubungan perselingkuhannya. Mengapa? Ketika perselingkuhan hanya “obat” bagi mereka yang merasa tidak nyaman dalam sebuah hubungan, ketika hubungan itu sudah berakhir, tentu mereka tidak lagi membutuhkan “obat” bukan?

9. Selingkuh Itu Cerminan Sebuah Hubungan

Terus melakukan refleksi atas hubungan yang dijalani bisa menjadi salah satu cara menghindari terjadinya perselingkuhan. Meski tidak menutup kemungkinan perselingkuhan bisa terjadi karena ketidakdewasaan komitmen dan cinta, namun terus menelaah hubungan yang dijalani bisa membantu mencegah terjadinya selingkuh. Mengetahui apakah pasangan kita bahagia atau merasa bosan, mengetahui apakah kita cukup perhatian kepada pasangan atau tidak, mengungkapkan pada pasangan bahwa mereka kurang mengapresiasi kita, dan banyak hal lain bisa dilakukan.

Ketika dua orang merasa ada yang salah namun tidak berani mengungkapkan kepada satu sama lain, ini yang kemudian memunculkan bibit-bibit perselingkuhan.

“Alasan selingkuh hanya pembelaan atau refleksi atas kesalahan yang ada dalam hubungan dua insan”

10. Mereka yang Berselingkuh Juga Bisa Merasa Bersalah

Perasaan bersalah tak jarang menghinggapi mereka yang berselingkuh. Perasaan bersalah ini muncul karena beberapa hal. Misal, jika perselingkuhan terjadi di hubungan suami istri yang sudah memiliki anak, mereka yang berselingkuh merasa bersalah karena perselingkuhan yang dilakukan bisa berdampak pada anaknya. Jika perselingkuhan terjadi di hubungan pacaran, maka rasa bersalah bisa muncul jika yang berselingkuh mengingat betapa pasangannya dulu ia perjuangkan untuk didapatkan lalu tanpa pernah melakukan kesalahan justru dikhianati. Perasaan bersalah yang muncul bisa memicu perbaikan hubungan jika memang seorang itu kemudian meminta maaf dan ingin memperbaiki hubungan. Akan tetapi, perasaan bersalah jika mengakibatkan hubungan berakhir, bisa mempengaruhi cara seseorang memandang hubungan cinta di masa depan.

 

Beberapa hal di atas mungkin hal remeh tentang pernak pernik hubungan yang ternyata berperan besar terhadap kemungkinan seseorang berselingkuh dalam sebuah hubungan. Nyatanya, sebuah hubungan dua orang, memang terdiri dari hal-hal kecil yang kemudian memupuk rasa kasih sayang. Sesederhana sebuah panggilan telepon, sebuah pesan singkat, sebuah kado ulang tahun, pertanyaan di jam makan siang, atau telepon pelepas lelah di akhir hari, bisa menjadi pupuk ketika dilakukan dan hama ketika semua itu hilang. Tanyakan lagi pada pasangan, bercermin apa yang perlu diperbaiki dalam hubungan, lalu perkuat lagi dengan cara terbaik menurut kalian.

Ketika perselingkuhan sudah terjadi, kita juga perlu memahami mengapa pasangan berselingkuh lalu bertanya,

“Haruskah aku memahami perselingkuhan ini, memperbaiki keadaan lalu melanjutkan hubungan

atau

haruskah aku melepaskan diri karena sesungguhnya cinta tak seharusnya terbagi?”