Pijar Psikologi #UnderstandingHuman

View Original

Bersyukur untuk Berdamai dengan Masalah

Bersyukur adalah obat universal yang dapat menangkal pengalaman pahit dan permasalahan dalam hidup. Tak dapat dipungkiri bahwa kita semua diterpa berbagai masalah dalam hidup. Akan tetapi, sebelum pengalaman pahit menjatuhkanmu dalam palung kekecewaan, membiasakan diri bersyukur akan membuatmu bangkit dan berdamai dengan masalah.

Mengapa Kita Sulit untuk Bersyukur?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mensyukuri hal-hal baik dalam hidup seperti meraih kesuksesan dan penghargaan. Akan tetapi, bagi kebanyakan orang adalah hal yang mustahil untuk dapat mensyukuri kegagalan, kesakitan, penolakan, dan berbagai masalah kehidupan. Di balik itu ada beberapa alasan mengapa bersyukur adalah hal yang sulit dilakukan.

1. Manusia Lebih Mudah Mencerna Informasi Negatif

Faktanya, kabar buruk memiliki kekuatan yang lebih kuat dibandingkan kebaikan. Manusia cenderung lebih mudah menangkap kabar buruk dibandingkan menerima informasi tentang kebaikan. Kita sering kali lebih cepat untuk mengingat berbagai petaka yang menimpa dibandingkan menyadari bahwa ada pelajaran yang dapat kita syukuri di tengah berbagai persoalan. Kita cenderung menyalahkan berbagai keadaan, menyalahkan hidup yang susah, keluarga yang tidak harmonis, kerjaan yang tidak sesuai, dan segala faktor eksternal dalam hidup.

2. Siklus Hidup Serba Cepat

Manusia zaman sekarang memiliki siklus hidup yang menuntut serba cepat. Deadline skripsi, kerjaan kantor, kemacetan lalu lintas, membuat kita merasa terburu-buru dan dikejar oleh waktu. Sehabis kuliah atau pulang dari kantor masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah. Hingga saatnya untuk beristirahat, pikiran kita masih dipenuhi oleh berbagai macam masalah, beban hidup, dan pekerjaan esok hari. Tidak ada lagi waktu dan ruang yang tersisa untuk menikmati kehidupan personal yang kita inginkan. Bahkan kita tidak sempat menyisihkan waktu untuk mengucapkan ‘syukur’ pada orang lain maupun diri sendiri.

3. Overthinking

Ketika menghadapi masalah, pikiran kita menjadi kacau dan memikirkan satu hal yang sama secara terus-menerus. Alih-alih mencari cara untuk keluar dari masalah, kita malah terjebak oleh sekumpulan pikiran yang mengendap dalam diri kita. Kebiasaan overthinking dapat berdampak buruk pada situasi stres dan dapat mengarah pada gejala depresi dan cemas. Ketika terlalu memikirkan seluk-beluk permasalahan, kita semakin sulit untuk mensyukuri hidup kita saat ini.

4. Manusia Cenderung Tidak Mudah Puas

Pola hidup jaman sekarang ‘mengajarkan’ kita untuk tidak pernah puas. Promosi jabatan, juara lomba ini itu, mengejar Hasrat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita adalah hal yang wajar. Ketika telah mencapai satu puncak keberhasilan, kita akan berusaha menemukan puncak kepuasan yang lain. Akan tetapi, ketidakpuasan membuat kita sulit untuk menyadari hal-hal yang dapat disyukuri dalam hidup. Dan sampai kapan kita akan hidup dalam ketidakpuasan? Banyak dari kita mencari kepuasan agar dirinya bahagia, padahal kebahagiaan tidak ditentukan oleh kepuasan hidup kita. Belajar bersyukur membuat kita dapat berfokus pada hal yang ada di depan kita dan berterima kasih atas apa yang kita miliki saat ini.

5. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain.

Sering kali kita masih terfokus pada kekurangan diri. Kita menjadi terbiasa memikirkan tentang apa yang tidak kita punya dan apa yang orang lain punya. Kebiasaan ini membuat kita semakin membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Setiap kita membandingkan prestasi, harga diri, kekayaan, dan kondisi hidup kita dengan orang lain, hal itu tidak akan membuat diri kita lebih baik. Kebiasaan membandingkan hanya akan membentuk negativitas yang tidak akan menambah kualitas apapun dalam diri. Bersyukur mengajari kita untuk mengapresiasi hal-hal yang kita miliki saat ini tanpa membandingkannya dengan keadaan orang lain.

Belajar Menemukan Hal yang Dapat Disyukuri

Hidup kita sering kali diterpa berbagai masalah yang membuat kita pesimis melihat hal-hal positif dalam hidup. Deadline skripsi, tugas kantor, putus cinta, tuntutan orang tua, tagihan biaya hidup, dan lain sebagainya membuat manusia hidup di bawah berbagai tekanan. Seakan kebaikan dan kenikmatan hidup jauh dari genggaman kita.

Ucapan dan dukungan dari orang lain yang mengajak kita untuk tetap semangat, tetap ceria, dan berbahagia dalam menjalani hidup terdengar seperti ‘omong kosong’ belaka. Kita menganggap dukungan tersebut hanya angin lalu yang sekadar formalitas orang-orang sekitar untuk menunjukkan rasa peduli. Dalam hati kita menggerutu sendiri “Bagaimana bisa dengan gampangnya Anda menyuruh saya untuk menkmati hidup? Anda tidak tahu beban dan permasalahan apa yang sedang saya hadapi!”

Mari tenangkan emosi dan pikiran Anda sebelum mengeluh lebih jauh. Belajarlah untuk menyadari hal-hal ternyata bisa Anda syukuri. Napas, hidup, keberadaan Anda, orang-orang di sekitar, pekerjaan atau tugas yang masih bisa Anda kerjakan. Terkadang hal-hal kecil ini luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk mencari hal-hal luar biasa yang dapat disyukuri, padahal apa yang Anda punya dan Anda bisa lakukan saat ini adalah hal yang perlu disyukuri. Anda bisa mengekspresikan rasa syukur lewat ungkapan doa kepada Tuhan maupun ungkapan terima kasih terhadap sesama.

Bersyukur adalah Cara Keluar dari Badai Kehidupan

Saat ada satu hari buruk yang menghampiri, menjadi sangat mudah bagi kita untuk melupakan berbagai kebaikan yang pernah kita alami. Jika kita menengok kembali kebelakang, sebenarnya pengalamat pahitlah yang menjadikan siapa dan di mana kita saat ini. Ternyata kondisi-kondisi terpuruk dapat memberikan perspektif yang berbeda dalam mengajarkan bagaimana caranya bersyukur. Dalam menghadapi kehancuran atau keputusasaan sekalipun, bersyukur dapat memberikan energi, dapat menyembuhkan, dan dapat membawa harapan. Dengan kata lain, bersyukur dapat membantu kita mengatasi masa-masa sulit.

Rocks in my path? I keep them all. With them I shall build my castle.” ― Nemo Nox

Bersyukur adalah keterampilan yang mesti dipertahankan. Di tengah berbagai kesulitan, ternyata banyak hal baik yang terjadi namun sulit kita sadari. Mungkin terlalu sakit untuk menerima keadaan, akan tetapi kita dapat berlatih bersyukur dengan berusaha mencari kebaikan di antara hal-hal buruk yang terjadi. Bersyukur adalah kemampuan praktis untuk menjaga emosi ke arah yang lebih baik. Ketika gagal dalam suatu wawancara, bisa saja itu pertanda ada kesempatan baik lain yang tersedia bagi Anda. Atau mungkin saat orang yang kita sayang meninggalkan kita sekalipun, kita bisa bersyukur karena tahu bahwa masih banyak orang lain yang menyayangi kita.

Keterampilan bersyukur mesti dijaga dan dilatih terus-menerus. Ketika hal-hal buruk terjadi, bersyukur memberikan perspektif untuk melihat kehidupan secara keseluruhan bukan atas keadaan sementara. Perspektif ini mungkin tidak mudah untuk dicapai dalam waktu yang sikat. Akan tetapi, ingatlah bahwa usaha Anda keluarkan akan sepadan dengan hasil yang Anda dapat ketika bersyukur. Percayalah, bahwa akan ada pelajaran berharga untuk Anda agar lebih kuat dalam menjalani hidup.

Just because we’re in a stressful situation doesn’t mean that we have to get stressed out. You may be in the storm. The key is, don’t let the storm get in you – Joel Osteen

 

Let others know the importance of mental health !