Menjadi Penyembuh Terbaik Saat Masa Terpuruk

 

Peace is not the absence of pain, but the welcoming of pain as a teacher.

-Vironika Tugaleva-

 

Apakah kamu merasa ada sesuatu dalam hidup yang kini berubah? Hidup terasa datar dan membosankan. Situasi tak lagi mendukungmu, begitu juga lingkungan sekitar. Masalah yang kamu hadapi ternyata meruntuhkan semangat yang dulunya membara. Atau mungkin apa yang selama ini kamu harapkan tak lagi sejalan dengan perasaanmu yang mulai lelah.

Mungkin kita semua pernah berada dalam posisi tersebut. Bukan hal yang mudah memang dalam melewati masa-masa tersebut. Tapi, percayalah bahwa sebetulnya diri kita sendiri adalah penyembuh terbaik saat merasa sedang terpuruk.

Kita Punya Kekuatan untuk Menyembuhkan Luka Batin

“You have the power to feel good—or not—just by being conscious of what you choose to think. Choose to focus on hope and healing.” ― Susan Barbara Apollon

Saat terjatuh dan mengalami luka, secara tidak langsung tubuh akan merespon dan menyembuhkan luka tersebut. Perlahan kita akan menyadari jika perlahan luka itu mulai sembuh padahal kita tidak pernah menyuruh otak kita untuk menyembuhkannya. Hal tersebut terjadi secara naluriah.

Sebetulnya hal itu dapat dilakukan untuk menyembuhkan luka batin, hanya saja dengan cara yang terbalik. Jika luka di tubuh akan sembuh sendirinya tanpa kita minta, maka untuk menyembuhkan luka batin kita harus sadar betul bahwa luka itu memang “ada” dan percaya bahwa kita bisa menyembuhkannya

Mencoba untuk jujur terhadap diri sendiri merupakan hal yang kadang jauh lebih sulit untuk dilakukan. Saat masalah membentur hidupmu, kamu dapat berkata “Tidak apa-apa” atau “Semuanya akan baik-baik saja” untuk memberikan sugesti yang positif. Namun coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu sedang mencoba untuk memberikan sugesti yang positif atau justru sedang membohongi perasaanmu sendiri?

Pada titik ini jujurlah pada perasaanmu, tanyakan pada hatimu apa yang kamu rasakan. Apa kamu kecewa? Apa kamu marah? Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, karena itu adalah perasaanmu, milikmu.

Ambilah waktu sejenak untuk Me Time. Berdialog dengan diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan untuk memberikan jeda pada tubuh untuk beristirahat sejenak. Menerapkan mindfulness dengan meditasi juga bisa menjadi salah satu alternatif penyembuhan luka batin.

Pahami Gap antara Harapan dan Realita

“It is not so much about fighting against the ego; it is more about harmonizing with it.” ― Grace Sara

Banyak yang kita harapkan di dunia ini, namun tak selamanya kehidupan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Gap antara ekspektasi dengan realita kehidupan tentu akan selalu ada. Setelah kamu jujur dengan perasaanmu, mulai renungkan akar masalah yang selama ini membelenggumu. Apa yang selama ini kamu harapkan dan bagaimana kenyataan yang kamu hadapi sekarang. Terus berporos pada ekspektasimu tentu akan membuatmu semakin lelah dan menentang kenyataan

Coba untuk Menerima dan Belajar Sesuatu dari Itu

Kehidupan akan selalu mengajarkan kita sesuatu. Dan terkadang kehidupan bukan hanya mengajarkan kita untuk menghadapi dan menjadi kuat, tapi menerima dan belajar dari hal buruk yang menimpa kita. Tidak mudah tentunya ketika kita masih mengharapkan sesuatu namun kenyataan justru berkata sebaliknya. Namun, dengan menerima tak akan sedikit pun menjadikan kamu pribadi yang lemah atau menyerah terhadap keadaan. Justru dari situlah sebetulnya kamu dibentuk menjadi lebih kuat.

Begitulah kehidupan berjalan. Hal baik dan hal buruk adalah sebuah rotasi yang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Namun hal buruk datang bukan untuk menghadang kita, tapi untuk membentuk kita menjadi lebih baik. Kedua hal tersebut bisa menjadi bentuk yang berbeda tergantung dari sudut pandang mana yang ingin kita lihat.

Bukan “Hadapi dan kamu akan jadi kuat”, tapi “Terima, dan kamu akan belajar tentang sesuatu”

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Kartika Dewi. Saat ini ia bekerja sebagai staf ekspor impor di sebuah perusahaan swasta. Kartika Dewi adalah seorang pribadi INFP yang dikelilingi oleh rekan-rekan ekstrovert. Ini adalah artikel pertamanya di Pijar Psikologi. Ia merasa terinspirasi dan mendapatkan banyak “aha” momen saat membaca artikel-artikel Pijar Psikologi. Oleh karena itu, Kartika Dewi ingin membagikan tulisannya agar dapat bermanfaat bagi pembaca Pijar. Untuk membaca tulisan-tulisan Kartika Dewi, dapat mengakses websitenya di http://littleduck1.blogspot.com/

 

 

 

Let others know the importance of mental health !