9 Pilihan Dilematik Saat Quarter Life Crisis

Menghadapi perubahan-perubahan baik secara emosi, fisik, dan spiritual di usia awal 20-an tentu bukanlah hal yang mudah. Butuh banyak perjuangan lahir dan batin untuk menjalani usia yang rentan terhadap krisis ini. Krisis usia seperempat abad (quarter life crisis) sering kali melanda orang-orang yang memasuki emerging adulthood (fase di antara remaja dan dewasa).

Orang-orang yang masuk dalam kategori ini seringkali merasa tertekan akan faktor internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya, generasi milenial dihadapkan dengan banyaknya aspek hidup yang harus dipikirkan. Mulai dari jodoh, karir, hingga aspek spiritual (keyakinan). Faktor eksternal seperti adanya intimidasi harapan-harapan publik yang seakan menuntut untuk dipenuhi. Apalagi, sekarang ini identik dengan kemajuan teknologi, budaya serba cepat, dan tuntutan tanpa cela akhirnya menimbulkan banyak tekanan yang jauh lebih tinggi terhadap generasi sekarang dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Apakah kamu sedang berada di fase ini?

Kamu merasa bingung, cemas, khawatir, atau bahkan stress ?

Jangan khawatir, kamu tidak sendiri.

Quarter life crisis mungkin datang tanpa suatu peringatan. Dia datang dengan mengendap-endap, persis ketika kamu mulai merasa ‘terjebak’ dalam sebuah ‘lubang hitam’. Quarter life crisis membuat kita semakin terkungkung dalam fase dilema. Sembilan dilema ini biasanya dihadapi saat memasuki quarter life crisis.

  1. Pendidikan

Lepas dari bangku kuliah, kita dihadapkan pada pilihan antara langsung bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak berhenti di situ, memutuskan untuk melanjutkan studi dihadapkan pada pilihan universitas, jurusan dan pembiayaan kuliah. Pilihan universitas di luar atau di dalam negeri, jurusan praktis dan peluang kerja tinggi atau jurusan sesuai passion. Pembiayaan studipun bisa menjadi keputusan yang sulit antara mencari beasiswa, pribadi, atau orang tua. Atau mungkin ada yang memutuskan untuk studi magister karena desakan orang tua dan menambah prestis diri. Ditambah lagi ketakutan dan kecemasan tidak mendapat pekerjaan yang sesuai setelah lulus studi master. Dilematika inilah yang seringnya membuat kita dilanda kegalauan.

  1. Karir

Selepas dari bangku kuliah, kita dihadapkan dengan pilihan karir yang begitu luas. Mungkin, sebagian dari kita sudah menentukan untuk berkarir di tempat tertentu. Sementara itu, beberapa orang belum tahu pasti mengenai karir mereka. Menurut survey bebas yang dilakukan di Inggris, Amerika, Australia, dan India sebanyak 59% dari 6000 koresponden berusia 20-an menyatakan bahwa mereka masih tidak yakin akan pilihan karir apa yang akan diambil dalam hidup. Setiap orang pada umumnya memiliki karir impian masing-masing. Namun, akan menjadi hal yang dilematik ketika impian karir kita tidak sejalan dengan realita yang kita hadapi.

Penentuan karir pun semakin sulit karena kita dihadapkan pada perubahan zaman yang menuntut selalu dinamis. Terdapat ratusan profesi baru yang tidak ada di zaman dahulu, sehingga pilihan berkarir semakin beragam. Meneruskan cita-cita orangtua menjadi Pegawai Negeri Sipil bukan lagi satu-satunya pilihan berkarir di zaman sekarang. Menjadi wirausahawan atau bekerja di korporasi adalah pilihan lain yang dilematik. Menjadi dilematik karena, ada banyak pilihan untuk menentukan bidang wirausaha. Demikian juga dengan bekerja di perusahaan korporasi, kita dihadapkan dengan ribuan perusahaan baik nasional maupun multinasional.

Baca artikel tentang kepuasan berkarir di sini

  1. Tujuan hidup

Di antara jeda setelah wisuda dan menanti langkah selanjutnya, mungkin terlintas di pikiran kita akan tujuan hidup yang lama tidak diperhatikan. Pemikiran mengenai hal-hal fundamental seperti “apa tujuan hidupku?” “mau menjadi seperti apa aku?” “apa alasan aku diciptakan?” “apa yang sebenarnya aku inginkan?” “bagaimana caranya aku bisa membantu orang lain?” “apakah aku sudah memutuskan hal yang benar?”

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu pernah terlintas dalam pikiran kita. Mencoba merenungkan kembali esensi hidup kita dan tidak jarang menimbulkan stress karena pemikiran-pemikiran tersebut. Bertambahnya usia, bertambah pula pengertian kita akan makna hidup.

  1. Progres hidup teman-teman sebaya

Media sosial bisa menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang mengalami quarter life crisis. Ratusan foto teman-teman yang sudah wisuda, mendapat pekerjaan yang diimpikan, atau foto pertunangan hingga pernikahan bertebaran di feed instagram atau di halaman facebook. Media sosial seakan-akan menggeser definisi ‘sukses’ itu sendiri. Sukses kini ‘terstandarisasi’ dengan lulus tepat waktu atau kurang dari waktu yang ditetapkan. Mendapat pekerjaan dan kenaikan pangkat di usia muda. Bertunangan, menikah, memiliki anak, dan seterusnya – yang kesemuanya ‘harus’ terjadi di usia tertentu. Tidak heran, jika kemudian muncul perilaku membandingkan diri sendiri dengan teman-teman sebaya.

Kultur dan budaya yang serba terburu-buru dan seakan tidak menolerir kegagalan membuat orang-orang banyak mengalami quarter life crisis. Padahal untuk bisa suksespun membutuhkan waktu, membutuhkan keikhlasan salah satunya adalah ikhlas menerima kegagalan. Sabar dalam perjuangan karena tidak ada batasan usia untuk menjadi ‘sukses’.

  1. Kemandirian finansial

‘Tuntutan’ menjadi seorang yang memasuki dewasa adalah kemandirian finansial. Kita mulai risih dengan ‘pemasukan’ dari orangtua. Isu keuangan menjadi isu yang membuat kita cukup sensitif karena usia kita sudah ‘selayaknya’ untuk hidup mandiri, baik secara material, finansial, dan spiritual. Kemandirian finansial seakan menjadi tolok ukur kesuksesan, kerja keras, harga diri, dan prestis seseorang. Mungkin, itu alasannya banyak dari generasi kita memimpikan pekerjaan impian dengan gaji fantastis. Apabila kita tidak termasuk dalam orang-orang dengan pekerjaan “wah” dan bergaji fantastis, tidak sedikit dari kita merasa insecure. Memiliki rumah, mobil, smartphone keluaran terbaru, deretan kartu kredit dinilai menjadi ‘standar’ sebuah pencapaian kemandirian finansial di kalangan usia 20-an.

Baca artikel tentang job insecurity di sini

  1. Ekspektasi orangtua

Lulus dengan memuaskan tapi belum mendapatkan pekerjaan yang ‘mapan’, sedangkan ekspektasi orangtua yaitu kita mendapat pekerjaan di perusahaan bonafit bergaji fantastis. Di sisi lain, mungkin kita sudah memiliki rumah, mobil, jajaran saham, pekerjaan yang mapan dan lainnya. Namun, seakan belum cukup bagi orangtua dan mendesak kita untuk segera menikah, berkeluarga dan memiliki anak.

Ekspektasi-ekspektasi tersebut terkadang diluar kendali kita untuk mewujudkannya sehingga kadang kita merasa stress. Apalagi, jika pemikiran kita berbeda jauh dengan pemikiran orangtua mengenai jalan hidup. Misalnya, kita masih ingin mengeksplorasi dunia dan traveling. Namun, orangtua kita tidak setuju karena anggapan eksplorasi dunia dan traveling dinilai tidak rasional, abstrak, jauh dari mapan, dan membuang-buang uang.

Perbedaan zaman terkadang menjadi sumber kegagalan orangtua memahami bahwa kita hidup dengan banyak pilihan seiring perubahan zaman. Orangtua gagal memahami itu sehingga kita terkadang tumbuh tanpa adanya pembimbingan yang sesuai dengan zaman. Generasi orangtua kita jauh berbeda dengan generasi kita sekarang. Tidak heran jika masih ada beberapa orangtua yang kemudian membandingkan antara pencapaian mereka dan kita diusia yang sama.

  1. Jodoh

Krisis yang kamu hadapi selanjutnya mungkin soal jodoh. Hal ini menjadi wajar apabila di usia 20-an, kamu mulai diberondong dengan pertanyaan,

“mana pacarmu?”

“kapan menikah?”

Pertanyaan yang akan mudah kamu jawab apabila memang kamu punya pacar dan sudah tahu kapan akan menikah. Namun, tidak sedikit orang-orang di usia 20-an merasa bingung untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Merasa bingung karena memang sedang single, belum ketemu jodoh, sudah ketemu jodoh tapi tidak direstui keluarga, atau sudah punya jodohnya tapi merasa pernikahan tidak cukup hanya tentang cinta.

Jodoh menjadi isu yang kompleks karena apa yang kita impikan mengenai jodoh, pernikahan, dan kehidupan dewasa di usia remaja, ternyata tidak semudah cerita dalam dongeng. Kita mulai berpikir realistis. Mungkin sebagian dari kita memilih single karena berbagai alasan, seperti belum ketemu jodoh, ingin menata hati, memantaskan diri, mengeksplorasi diri, ataupun fokus meniti karir. Di sisi lain, kita sudah bertemu dengan jodoh kita dan bersama berkomitmen untuk menikah, tapi terganjal restu orang tua atau keluarga besar. Hal itu mungkin terjadi karena pasangan kita berbeda keyakinan, atau berbeda latar belakang dan berbeda “kelas” yang membuat keputusan untuk menikah semakin tidak mudah.

  1. Pertemanan

Dalam perjalanan menuju ‘kedewasaan’, kita berada dalam fase dimana lingkup pertemanan kita semakin sempit. Teman-teman sekolah, kuliah, atau teman sebaya yang sebelumnya sering nongkrong akan ‘terseleksi’ dengan sendirinya. Kita tidak lagi mementingkan banyaknya teman, tapi kita fokus terhadap ‘value’. Pertemanan yang benar-benar berkualitas. Bisa jadi kita berteman dengan banyak orang, tetapi tidak ‘sedalam’ teman-teman dekat. Teman-teman dekat yang benar-benar paham dan mengerti kita, dan bukan teman yang hanya mengetahui kulit luarnya saja.

Di usia 20-an merupakan usia dimana kita mengenal diri sendiri jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita tahu apa yang kita sukai dan tidak sukai. Kita tahu mana yang benar-benar tulus dan tidak. Kita semakin tahu siapa yang patut kita percayai dan tidak. Mungkin beberapa kali kita akan ‘kehilangan’ beberapa teman dan itu akan terasa berat tapi perlu kita ingat : teman sejati tidak akan pernah pergi dan akan selalu terikat di hati. Mereka yang pergi mungkin tidak ditakdirkan membersamai kita dan kita harus menyadarinya. Bahwa seberapa kuat kita menahan mereka, ikatan itu akan terlepas juga.

Baca artikel tentang fakta mitos pertemanan di sini

Baca artikel tentang meningkatkan level pertemanan di sini

  1. Re-thinking faith

Pemikiran manusia itu dinamis. Orang-orang di usia 20-an adalah mereka yang bebas, berkembang, dan menjelajah untuk mencapai kemerdekaan pikiran. Kita menelaah kembali tentang segala hal yang kita tahu dan percaya. Apakah kita sudah mempercayai hal yang benar? Apakah kita sudah benar-benar beriman? Mengapa kita mengimani hal yang sama dengan cara yang berbeda? atau pertanyaan semacam kenapa setiap orang beriman dengan cara yang berbeda?

Mungkin satu atau beberapa dari pertanyaan-pertanyaan itu sempat terlintas dalam pikiranmu. Hal itu bisa jadi karena jalinan hubunganmu dengan seseorang yang berbeda agama. Bisa jadi kamu memiliki banyak komunitas dan berada di lingkungan yang memiliki latar belakang, budaya, dan agama yang beragam. Atau mungkin kamu tertarik dengan kesetaraan gender atau dunia feminis dan sedang mendalaminya. Kemudian kamu mulai mempertanyakan kembali ideologi dan kepercayaan yang kamu pegang selama ini?

***

Badai pasti berlalu begitu pula dengan quarter life crisis. Tidak mengapa jika kamu sekarang belum tahu pasti apa yang kamu inginkan. Tidak mengapa jika kamu sekarang merasa ‘lost’. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing dalam mengalami krisis. Hadapilah krisis ini sebagai tantangan. Bagi siapapun yang sedang melalui quarter life crisis, ada baiknya kamu kembali menyelami dirimu sendiri. Rasa marah, bingung, cemas, bosan, sedih, dan stres yang melandamu pasti akan berlalu jika kamu mulai kembali mendalami dirimu sendiri. Kenali lebih dalam lagi tentang dirimu seutuhnya. Apa yang kamu inginkan, apa yang membuatmu bahagia, dan apa yang kamu kamu yakini. Fokuslah pada apapun yang membuatmu berprogres.

Berhenti membandingkan diri dengan orang lain juga akan membantu kamu merasa lebih baik. Banggalah dengan proses yang sedang kamu jalani dan kemajuan yang kamu raih. Beri penghargaan pada diri sendiri karena sudah berhasil mencapai titik tertentu, sekecil apapun itu.

Mungkin semua terlihat belum sejalan dengan impian dan ekspektasi kita. Tetap bersyukur atas apapun capaian kita sekarang adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Jangan terlalu keras terhadap dirimu. Hargailah proses. Semua tidak datang dalam sekali waktu. Tetap berusaha, berproses, dan yakinlah pada kemampuanmu.

Nothing will ruin your 20’s more than thinking

you should have your life together already.”

Baca artikel tentang quarter life crisis lainnya di sini

Baca artikel tentang mengatasi quarter life crisis di sini