Berteman dengan Diri Sendiri

Kita manusia terlahir ke dunia ini sendiri. Kita manusia meninggalkan dunia ini sendiri. Dari kecil kita diajarkan untuk berteman dengan orang sekitar, bersosialisasi di sekolah, lingkungan, dan masyarakat. Mendapatkan teman sebanyak-banyaknya, hingga mencari pengakuan sosial dari orang di sekeliling. Tidak salah berpikiran seperti itu, hidup bersosial dengan orang lain adalah hal yang baik. Tapi terkadang ada yang kita lupa, kita lupa untuk berteman dengan diri sendiri.

We are our own true friends

Teman Bisa Datang dan Pergi. Begitu juga Pasangan

Kesepian ketika berpisah dengan teman-teman setelah lulus sekolah, atau kesendirian ketika diputuskan pacar, semua pasti pernah mengalami. Terkadang kita berusaha keras untuk melawan rasa kesepian dan kesendirian itu. Misalnya dengan mencari teman untuk menghilangkan rasa sepi, nongkrong di kafe atau warung kopi, menertawakan rekan atau atasan, mengutuk mantan kekasih yang dengan teganya mencampakkan kita.  Semua luapan emosi dan kekesalan itu kita lampiaskan bersama teman. Namun ketika tiba waktu berpisah dan kembali ke rumah masing-masing, rasa kesal itu tetap ada. Kesepian datang menyeruak di jam-jam lewat tengah malam yang membunuh kantuk dan membuat mata terjaga dalam pikiran yang melayang-layang menyesali kesalahan yang kita perbuat.

Keesokan harinya, waktu sepi dan sendiri itu muncul kembali. Yang pertama kali kita hubungi dan cari adalah teman kita tadi. Namun semakin bertambah usia, semakin mengecil ruang pertemanan, semakin sedikit waktu yang ada. Teman-teman kita mungkin saja mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ketika itu terjadi, kadang kita harus dikemanakan rasa sepi ini. Sehingga perlahan-lahan sepi mulai menggerogoti. Masuk dalam nadi hidup, membuat kita bosan dan jenuh. Menyalahkan hidup yang tidak adil. Meratapi keadaan tanpa tahu siapa yang paling bertanggungjawab. Hidup seperti orang mati. Ternyata kutipan itu benar, bukan peluru yang membunuh manusia tapi rasa kesepian.

Mulailah Berteman dengan Diri

Kadang kita merasa takut sendiri, takut keluar ke mall sendiri, nonton bioskop sendiri, makan di kafe sendiri. Yang kita takutkan sebenarnya bukan rasa sendiri, tapi mungkin saja kita takut akan pendapat orang-orang yang melihat kita. Mungkin kita takut dicap sebagai orang yang lonely, tidak punya teman, tidak punya pasangan. Padahal sebenarnya, sendiri pun tidak ada salahnya. Sendiri pun mungkin kita bisa lebih nyaman. Saya sering pergi kemana-mana sendiri (walaupun sudah memiliki pasangan), karena kadang pergi sendiri lebih nyaman untuk diri saya sendiri. Bebas tanpa ada tuntutan. Tidak peduli cap yang orang berikan. Bila kita sudah terbiasa dengan kesendirian, kita tidak akan takut jika sepi itu tiba-tiba datang. Jika kita bisa berteman dengan diri sendiri, melakukan hal apupun demi membahagiakan diri sendiri, kita tidak akan merasa ketergantungan pada orang lain jika suatu saat orang yang membuat kita bahagia tiba-tiba menghilang dari hidup kita.

Untuk yang belum pernah melakukan hal yang disukai seorang diri, cobalah dimulai dari pergi ke café sendiri, nonton di bioskop, atau traveling ke luar negeri sendiri. Melihat sekitar dari kacamata orang asing. Jangan takut dicap antisosial. Cari tahu apa yang membuat hati kita bahagia. Cari tahu apa yang membuat kita nyaman. Dan pahami apa yang membuat kita bergairah. Perbanyak diskusi dengan diri sendiri, mungkin itu akan menjadi penengah akan debat tak berkesudahan antara hati dan pikiran.

Karena kebahagiaan kita, tanggung jawab kita sendiri.

Karena kenyamanan kita, kita buat sendiri.

Karena teman sejati adalah diri sendiri.

————–

 

 

Artikel ini adalah sumbang tulisan dari Erkan Pane. Ia ingin tulisannya berguna bagi pembaca Pijar Psikologi.  Erkan Pane bisa dihubungi di akun Twitter @erkanpane dan Instagram @erkanpane.

 

Let others know the importance of mental health !